Keluarga Yang Tetap Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Photo by Victoria Borodinova from Pexels

Seorang teman saya pernah bercerita bahwa salah satu penyebab dirinya sulit untuk mengampuni orang tuanya adalah karena dia sering dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Akibatnya, dia merasa dirinya tidak sehebat saudaranya. Cerita tersebut hanyalah secuil dari banyaknya keluhan anak-anak karena merasa porsi kasih yang ditunjukkan oleh orang tua berbeda dari saudara mereka. Padahal firman Tuhan—dengan jelas—menyatakan bahwa setiap orang percaya (termasuk kita) “dituntut” untuk saling mengasihi (tentunya dengan adil), seperti Tuhan yang telah mengasihi kita (Yohanes 13 : 34-35). Di belakang pernyataan tersebut, Tuhan tidak memberikan anak kalimat seperti “kecuali kalau nilai sekolah anakmu buruk” atau “kecuali kalau orang tuamu bercerai.” Tuhan menghendaki kita untuk tetap mengasihi keluarga kita, itu berarti kita harus menundukkan ego kita di bawah salib Kristus.

Cerita teman saya tadi serupa-tapi-tak-sama dengan kisah Esau dan Yakub, dua saudara kembar yang memperoleh porsi kasih yang berbeda dari orang tua mereka. Jika Esau lebih disayang oleh ayah mereka (Ishak), maka Yakub lebih disayang oleh sang ibu (Ribka) (Kejadian 25 : 28). Meskipun Tuhan menghendaki janji-Nya pada Abraham dan Ishak diwariskan pada Yakub, namun ada kemungkinan Ishak belum memahami hal ini sepenuhnya ketika anak-anak mereka lahir. Akibatnya, Yakub menipu Esau saat menjual bubur kacang merah demi hak kesulungan (Kejadian 25 : 29-34), dan menipu Ishak untuk memperoleh berkat sebagai anak sulung (Kejadian 27 : 1-40). Kehendak Tuhan bagi Yakub memang terjadi, namun semuanya dilatarbelakangi oleh adanya pilih kasih di dalam keluarga mereka. Mungkin cerita ini akan berbeda jika sejak awal Ishak dan Ribka mencurahkan kasih dengan adil bagi kedua anak mereka, karena mereka percaya bahwa Tuhan menggenapi rencana-Nya (khususnya bagi Yakub, salah satu bapa leluhur orang Israel di kemudian hari).

Pepatah berkata, “Segala sesuatu berasal dari keluarga.” Jika keluarga tidak memberikan teladan nyata dari kasih Kristus, bagaimana anak akan meneruskan kasih-Nya pada orang lain? Jika sejak awal keluarga cenderung menerapkan “kasih yang memilih dan memilah”, bagaimana anak memahami bahwa Kristus mengasihi dan memilihnya untuk melakukan kehendak-Nya? Biarlah perkataan Paulus dalam Roma 9: 12a, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” mendorong kita untuk menerapkan kasih Kristus yang tanpa syarat itu. Soli Deo Gloria. (TDU)

Tags: