Sepakat Tanpa Bersepakat

Photo by Icons8 team on Unsplash

Bacaan: Kejadian 16: 1-6

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “sepakat” memiliki arti setuju, semufakat, sependapat. Bersepakat artinya sama-sama menyetujui, bersetuju, bermufakat. Dalam kata tersebut tersirat ada dua atau lebih pihak yang berunding kemudian memutuskan untuk sepakat, sependapat, dan setuju pada satu hal yang sama.

Dalam bingkai ini, mari kita melihat cerita Abram dan Sarai. Sarai mengutarakan keinginannya, Abram mendengarkan (ay. 2). Lalu, Sarai berkeluh kesah atas apa yang dilakukan Hagar padanya, dengan sedikit menyalahkan Abram dengan berkata “penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu.” (ay. 5a). Abram menjawab “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu. Perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik.” (ay. 6). Ayat 2 menunjukkan Abram mendengarkan lalu mengikuti keputusan yang dibuat Sarai. Demikian pula ketika Sarai menyatakan penderitaannya karena penghinaan Hagar, Abram menyerahkan pada Sarai keputusan yang ingin diambil. Abram sepakat dengan Sarai dan itu ditunjukkan ketika Abram melakukan apa yang diinginkan Sarai. Akan tetapi, jika melihat sikap Abram, ada proses bersepakat yang tidak dijalani yaitu bermufakat, berbincang-bincang, bermusyarawah, berunding, dimana masing-masing menyatakan pendapat untuk kemudian menemukan kesepahaman dan akhirnya bersepakat. Abram tidak menyatakan pendapatnya. Abram dan Sarai tidak berunding. Abram hanya mengikuti apa yang diinginkan istrinya. Tidak ada pertimbangan yang diutarakan oleh Abram. Sarai yang mengambil keputusan dan pihak lain mengikuti. Sepakat tanpa bersepakat.

Seringkali, itulah yang terjadi dalam keluarga. Orangtua dan anak terlihat sepakat namun sebenarnya tanpa bersepakat. Anak ingin kuliah jurusan A, orang tua mengikuti. Begitupun sebaliknya, orangtua ingin anaknya kuliah di universitas A, anak mengikuti. Terlihat baik, tapi tidak selalu dampaknya positif. Salah satu dampaknya adalah saling melempar tanggung jawab seperti Sarai dan Abram karena tidak adanya perundingan. Saat nilai merosot, “Kamu kan yg pilih jurusan ini?” Saat bayaran naik, “kan papa yang suruh kuliah di sini!” Sepakat tanpa bersepakat, setuju tapi tidak dengan sepenuh-penuhnya setuju.

Bersepakat perlu dilalui dengan perundingan secara adil dan setara, tanpa ada yang merasa superior atau lebih. Semua diberi ruang untuk mengutarakan pendapat tanpa takut dihakimi atau ditolak, dan pada akhirnya mengambil satu keputusan yang disepakati bersama untuk kebaikan semua. Itulah yang diperlukan untuk menjadi keluarga yang taat: mau belajar dan diajar dengan memberi ruang untuk semua mengutarakan pendapat atau perasaan. (IYS)

Tags: