MENGAKU SALAH DAN BERTOBAT

Photo by Jens Johnsson on Unsplash

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sesungguhnya adalah bukti berkembangnya intelektualitas manusia masa kini. Namun sayangnya, ada oknum-oknum yang justru menggunakan media komunikasi dan informasi untuk menyebarkan hoax (berita bohong) demi kepentingan politik dan kekuasaan. Melalui itu, oknum yang merusak dan menghancurkan kemudian menyalahkan orang lain yang justru sedang mengupayakan hal baik.

Perilaku menyalahkan dan melempar tanggung jawab ini merupakan salah satu dosa yang sejak semula menjangkiti kehidupan umat manusia ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa. Alih-alih dari mengaku salah kepada Tuhan, Adam memilih untuk menyalahkan Hawa, dan Hawa menyalahkan ular yang membujuki dia; manusia menjadi makhluk yang memiliki kecenderungan untuk menyalahkan dan melimpahkan kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain ketimbang mengakuinya dan bertanggung jawab. Akibatnya relasi dan nurani menjadi rusak.

Di dalam iman kepada Kristus kita diajak untuk menyadari bahwa yang Tuhan minta bukanlah kesempurnaan manusia (tanpa cacat dan kekurangan), tetapi kesediaan manusia untuk mengaku salah di hadapan-Nya. Sebab Tuhan merancangkan pengampunan dosa dan mengerjakan-Nya sendiri keselamatan itu demi menebus kesalahan dan dosa kita; seperti yang difirmankan dalam surat I Yohanes 1 : 9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Mengaku kesalahan atau dosa bukanlah suatu hal yang mudah, ada rasa malu dan merasa rendah, tetapi bagi mereka yang menyesali dosa dan mau hidup dalam pertobatan (seperti perumpamaan seorang pemungut cukai dalam Injil Lukas) akan menyadari bahwa diri mereka tidak layak; tetapi justru di saat itulah Tuhan berkenan mengampuni dan melayakkan. Amin. (LAAS)

Tags: