Lukas 16 : 1–13

Menjadi orang kaya bukanlah suatu dosa, ada banyak tokoh iman di Alkitab yang juga kaya. Seperti Abraham, Daud, dan Salomo. Namun jika tidak hati-hati, kekayaan dapat membuat kita tergelincir dan jatuh ke dalam dosa. Menghalalkan segala sesuatu demi uang, memperalat orang lain dengan harta, mangkir membayar pajak, dan lain sebagainya. Ada keterikatan yang sangat mendasar antara kehidupan rohani kita dengan cara kita memandang dan mengelola uang atau kekayaan.

Bagaimana sikap yang benar selaku orang percaya? Dalam Injil Lukas, Yesus berulang kali memperingatkan kita akan bahaya godaan dari kekayaan. Yesus mengajarkan pada para pengikut-Nya bahwa “kekayaan dunia” di dunia merupakan bagian dari hidup di dunia ini, tetapi sifatnya fana. Karena itu, selagi kita memiliki kekayaan di dunia gunakanlah itu untuk “membangun pesahabatan” (ay. 9). Namun, berbeda dengan tujuan si bendahara yang tidak jujur itu, tujuan kita adalah “membangun persahabatan” yang nilainya kekal. Yesus mengajarkan kepada pengikut-Nya pentingnya memakai kekayaan atau uang kita dengan tepat dan bijaksana.

Cara kita mengelola harta kekayaan dapat menjadi tolok ukur komitmen kita kepada-Nya. Jika kita tidak bisa setia mengelola harta kita sendiri, bagaimana kita bisa setia dalam berbagai hal lainnya? (ay. 10-12). Dengan kata lain, cara seseorang memakai uang dan harta miliknya mencerminkan seluruh cara pandangnya terhadap hidup ini. (Mike Raiter, Seri Perjalanan Iman Kitab Lukas)

Yesus telah mengajarkan agar orang menyimpan harta di surga (Bdk. Luk. 12: 33-34). Peringatan Yesus terhadap ketidaksetiaan dalam mengelola uang juga mengajarkan prinsip yang sama (Ay. 16: 11). Jika kita seperti orang kaya yang bodoh (Bdk. Luk. 12: 16-21), yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri serta mengabaikan orang yang miskin dan membutuhkan, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya yakni harta surgawi? Iman itu penting, tetapi Yesus mengingatkan kita bahwa iman harus dinyatakan melalui perbuatan. Yakobus berkata, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakahgunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman : Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2 : 15-17).

Baik Yesus maupun Yakobus menyatakan bahwa pertolongan kita kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan sungguh akan berdampak kekal. Mari lihat sekitar kita; di gereja ataupun tempat tinggal kita. Mungkin ada ibu yang harus membesarkan anaknya sendirian dan tidak punya cukup uang untuk membayar sewa rumahnya dan uang sekolah anaknya. Atau seorang lansia yang tinggal sebatang kara, yang masih harus bekerja demi menyambung hidupnya. Atau mungkin juga ada seorang bapak yang kehilangan pekerjaannya dan bergumul untuk menghidupi keluarganya dan mungkin ada sepasang suami istri yang kesulitan biaya untuk pengobatan anaknya karena penghasilannya tidak menentu dan masih banyak lagi. Jika Allah telah memberi kita kecukupan finansial, kita perlu menolong orang-orang yang membutuhkan seperti mereka. Dengan demikian, kita sedang mengikat persahabatan yang nilainya kekal.

Mengutip dari salah satu prinsip penatalayanan atas harta dalam pelajaran kelas Bertumbuh di kelas pembinaan iman KAMBIUM dikatakan: “Tuhan yang empunya segalanya, dan saya pengelola harta-Nya. Ketika kita mengakui kepemilikan Tuhan atas uang dan harta benda kita, maka setiap pengeluaran menjadi suatu keputusan rohani sehingga dalam setiap persembahan yang kita berikan, kita tidak seharusnya bertanya: “Berapa banyak milik saya yang harus saya berikan kepada Allah?” Melainkan: “Berapa banyak milik Allah yang perlu saya ambil untuk diri saya?” Perbedaan antara kedua pertanyaan ini sangat besar.” Karena itu mari kita renungkan: Jika Allah telah mempercayakan harta kepada kita di dunia ini, siapakah sebenarnya pemilik harta kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakannya? (KY)


“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6 : 17-19)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com