Photo by Ryan Holloway on Unsplash

“tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup kekal.” (I Timotius . 1: 16)

Siapakah kita?

Siapakah kita yang sebenar-benarnya ini?

Berhentilah sejenak pada pertanyaan-pertanyaan di atas. Jangan terlalu terburu-buru membaca tulisan ini hingga selesai. Mungkin saja, ketika kita berhenti sejenak dan membaca berulang-ulang pertanyaan-pertanyaan di atas, timbul sesuatu dalam hati kita. Sebuah rasa yang tak dapat ditutupi oleh kehebatan yang bisa kita raih hingga hari ini. Hari ini kita menjadi orang baik, berpengaruh, berjabatan baik di kantor maupun di gereja sekalipun, mempunyai nama baik dan sudah banyak pengalaman hidup yang membentuk diri kita hingga saat ini. Tapi, pernahkah sesungguhnya kita sadar, setiap hari, setiap bangun pagi hingga beranjak tidur, identitas kita ini sejatinya adalah orang berdosa? Sadarkah kita bahwa tak ada sesuatu kebaikan yang paling mulia di dunia ini yang mampu mengubah identitas bahwa sejatinya kita ini orang yang berdosa. Mungkin saja kita bukan pembunuh, pencuri ataupun pelaku kejahatan kriminalitas tingkat tinggi. Namun toh meskipun demikian, kita tetap saja melakukan kesalahan dan dosa lain. Jika kita berhenti (lagi) dan mengambil nafas barang sejenak. Kita akan sadar bahwa, anugerah Tuhan pada setiap kita sangat besar. Saking besarnya, tak ada kata yang sanggup dan cukup untuk menggambarkan betapa anugerah-Nya menyelamatkan dan menerima kita apa adanya. Ketika kita mengaku dengan kerendahan hati bahwa kita ini sungguh tidak layak dan tidak lebih baik dari siapapun, kita akan dihantar pada kesadaran bahwa sesungguhnya tak ada gunanya semua kesombongan yang (mungkin saja) kita miliki saat ini.

Rasul Paulus tiba dalam kesadaran yang sama. Ia mengaku di hadapan anak didiknya, Timotius, dalam suratnya, bahwa ia justru adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang. Paulus adalah seorang penghujat, penganiaya dan seorang yang ganas (I Timotius 1: 13a). Ia mengaku dengan berani dan tidak menutupi semua masa lalunya. Dengan masa lalunya yang kelam, justru Paulus membuktikan bahwa Allah begitu sabar menghadapi dirinya yang kejam dan jahat. Semua itu Allah lakukan dengan kasih dan kesabaran yang sangat besar. Mengapa Allah melakukan hal itu? Padahal Allah bisa saja murka dan menghukum Paulus (bahkan juga kita saat ini!). Bagi Paulus, Allah melakukannya dengan maksud agar orang melihat kasih Allah dalam dirinya. Pada akhirnya kita tahu bahwa kasih karunia Allah mampu merubah seorang Saulus yang kejam dan jahat, menjadi Paulus yang mengabdi dan rela menderita demi Injil, hanyalah Allah saja, tidak ada pribadi yang lain!. Maka, saat Allah masih terus saja bersabar menghadapi kita, siapakah diri kita yang sejati dan sudah menjadi orang seperti apakah kita hari ini? (KHS)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com