Rendah Hati yang Tulus

Photo by Waldemar Brandt on Unsplash

Amsal 25 : 6-7, Lukas 14 : 7-14

Beberapa waktu yang lalu ada broadcast humor di WhatsApp yang kurang lebih isinya seperti ini:

Pesawat Garuda tujuan Surabaya – Jakarta tadi pagi bersiap take-off tapi tertunda gara-gara Saridin yang baru pertama kali naik pesawat dengan tiket ekonomi ngotot pengen duduk di kelas bisnis.

Alex : “Maaf pak… Ini kursi saya.”

Saridin : “Sampeyan siapa?”

Alex : “Saya penumpang bisnis yang duduk di sini pak..!”

Saridin : “Penumpang..? Aku penumpang juga, sama-sama bayar..! Sama-sama penumpang, gak usah ngator-ngator.”

Alex lapor ke pramugari.

Pramugari : “Maaf Pak Saridin.. Bapak mestinya duduk di belakang.”

Saridin : “Sampeyan siapa?”

Pramugari : “Saya pramugari.”

Saridin : “Pramugari itu apa?”

Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang.”

Saridin : “Oh, babu? Tak kira siapa, sudahlah tak osah ros-ngoros orang lain, cuci piring saja di belakang. Pokoknya aku enak duduk di sini saja. Sampeyan mau apa?!!”

Pramugari habis akal, dia memanggil pilot.

Pilot : “Maaf pak, mestinya bapak duduk di belakang..!!”

Saridin : “Sampeyan siapa?”

Pilot : “Saya pilot pak.”

Saridin : “Pilot itu apa?”

Pilot : “Pilot itu yg mengemudikan pesawat ini”

Saridin : “Oh sopir? Tak kira siapa, bajunya pakai seragam keren, pake topi, e taunya sopir. Pokoknya aku tak mau pindah. Sekarang sampeyan mau apa?”

Mattali orang asli Madura yang baru masuk pesawat mendengar ribut-ribut bertanya pada pilot, kemudian dia manggut-manggut dan mendekati Saridin sambil membisikkan sesuatu di telinganya, Saridin tiba-tiba bangkit sambil mel-ngomél: “Dasar sopir dan babu edan, untung ada bapak Mattali ini yang ngasih tau. Kalo ndak, aku ndak sampe Jakarta.” Saridin pun pindah ke belakang.

Pilot merasa takjub, dia bertanya pada Pak Mattali: “Apa sih yang bapak bisikkan, kok tiba-tiba dia sukarela pindah kursi?”

Mattali : “Saya tanya, bapak mau ke mana? Dia jawab mau ke Jakarta. Saya bilang anda salah duduk. Kalau mau ke Jakarta duduknya harus di belakang. Yang di depan itu tujuannya ke Jember.”

Mungkin kita tertawa membaca humor tersebut, tetapi bukankah kita juga sering menganggap diri ini lebih penting, lebih terhormat, dan lebih layak untuk dilayani, sehingga kita bersikap merendahkan sesama kita.

Dua bacaan kita, baik dari Amsal maupun dari injil Lukas mengungkapkan hal yang senada mengenai kerendahan hati. Adalah lebih baik ketika kita duduk di tempat yang kurang terhormat lalu diminta untuk pindah ke tempat yang lebih terhormat, daripada langsung duduk di tempat yang terhormat, tapi kemudian diusir untuk pindah ke tempat yang lebih tidak terhormat. Adalah lebih baik kita merendahkan diri kita, kemudian dimuliakan, daripada menempatkan diri tinggi tetapi kemudian direndahkan.

Akan tetapi bukan berarti juga kita pura-pura rendah hati dengan tujuan supaya orang bersimpati dan memuliakan kita. Kalau demikian berarti kerendahan hati kita tidaklah tulus. Akan terlihat dalam kepura-puraannya, ketika orang lain tetap tidak menghargai kerendahan hatinya, dia akan menjadi marah atau terluka hatinya.

Orang yang tulus rendah hati akan tetap bahagia walaupun tidak seorangpun yang melihat dan menghargai kerendahan hatinya. Dalam kondisi apapun dia akan tetap rendah hati. Kerendahan hati seperti inilah yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita. Kerendahan hati yang tulus, otentik, tidak pura-pura, dan penuh integritas. (YEP)