Dari Seorang Utusan Menjadi Seorang Penghambat

Image from flickr.com

Lukas 13: 10–17

Apa yang ada dalam bayangan kita jika berjumpa dengan seseorang yang hidupnya mengalami sakit penyakit berat selama 18 tahun? Hal ini masih diperparah dengan faktor penyebab kesakitannya bertahun-tahun itu, roh jahat. Saya menduga orang itu akan mengalami depresi yang amat besar. Ia dijauhi, dipinggirkan, tak banyak orang mau bersentuhan dengan orang tersebut. Alhasil, dirinya semakin jauh dari cahaya pengharapan. Entah, apakah harapannya sudah sirna atau masih ada meskipun hanya setitik.

Inilah yang dialami oleh seorang perempuan yang telah menderita selama 18 tahun. Ia tak pernah menyangka suatu hari ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang akan membuat sebuah “turning point” atau “titik balik” dalam hidupnya. Tindakan Kristus menyembuhkan perempuan yang dirasuk roh 18 tahun rupanya mengusik “ketenangan” sekelompok orang yang berusaha menegakkan hukum Taurat di tanah Israel. Alih-alih berempati, mereka justru meminta Yesus tidak menyembuhkan orang di hari Sabat.

Pemulihan menjadi kebutuhan semua orang, tak peduli apa pun statusnya. Dunia yang jatuh dalam dosa telah menyeret manusia dan seluruh ciptaan masuk dalam situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Penderitaan, keputusasaan, keletihan, menjadi makanan sehari-hari kita. Namun di sisi lain, sadar tidak sadar, kita bisa berlaku seperti para penegak hukum taurat. Kita menghambat orang untuk menerima pemulihan dari Allah. Jika dahulu kelompok itu melarang Yesus menyembuhkan karena hari sabat, kini manusia dapat melakukan hal yang serupa, karena esensinya sama. Orang itu tidak layak, dia sudah berbuat jahat kepada saya, dia bukan orang yang taat beribadah.

Teguran Yesus mencegah kita untuk berbuat sama dengan para ahli taurat yang menghambat orang untuk dipulihkan. Sebaliknya, kita adalah utusan Allah yang membawa pemulihan dan pengharapan bagi dunia. Kita didorong untuk meminta kepekaan, bahwa di sekeliling kita banyak orang membutuhkan pemulihan. Dipulihkan dari relasi dengan Allah, pemulihan gambar diri, pemulihan atas dosa, pemulihan atas penderitaan yang dialami.

Bulan misi telah usai, namun tugas kita masih terus berlanjut hingga saatnya tiba kita pulang. Selamat menjalankan misi Allah dan menjadi utusan-utusan-Nya yang memulihkan dunia. Selamat ulang tahun ke-31 Sinode GKI dan selamat ulang tahun ke-71 GKI Coyudan. (BWA)