Categories
BLOG Renungan Warta

Berbagi Adalah Berkat

Image from vice.com

Lukas 12 : 13–21

Satu artikel di cnnindonesia.com – Jumat, 30/03/2018 menuliskan sebuah kisah berjudul “Cahaya Kemanusiaan Pendeta Bertato dari Semarang.” Artikel ini menarik karena memberi makna yang mendalam mengenai penghayatan iman kepada Allah. Pendeta itu bernama Agus Sutikno yang berpenampilan tidak biasa untuk ukuran seorang pendeta. Badannya bertato, rambut gondrong dan kerap bersepatu boots ala rocker. Mimbarnya bukanlah di dalam gereja ber-AC, namun dalam kehidupan di kawasan kumuh Tanggul Indah Semarang. Di situ ia mengabdikan diri menolong dan mendampingi kaum papa, pecandu narkoba, PSK hingga mereka yang terjangkit virus HIV. Pelayanan bagi 150-an anak itu dilakukannya melalui Yayasan Hati Bagi Bangsa dalam segala keterbatasan. Pdt Agus menekankan pelayanan ini adalah demi kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka.

Injil Lukas 12 : 13-21 mencatat dialog Yesus dengan seorang kaya mengenai harta. Mulanya orang kaya itu meminta tolong kepada Yesus untuk berbicara kepada saudaranya agar mau berbagi warisan kepadanya. Namun Yesus justru berbicara kepada orang kaya itu mengenai ketamakan. Yesus mengingatkan bahwa kepenuhan hidup seseorang tidaklah ditentukan oleh berapa limpah hartanya. Kekayaan di dunia tidaklah kekal, karena itu saat kematian menjemput sia-sialah kekayaan itu. Sikap mengutamakan harta benda sebagai orientasi hidup bukanlah pilihan yang bijaksana. Lalu bagaimana kita menyikapi harta, yang sesungguhnya adalah berkat dari Tuhan sendiri? Kembali pada pelayanan Pdt. Agus Sutikno, kita melihat cara yang berbeda dalam mengucap syukur kepada Tuhan. Sebab Tuhan telah mengubah hidupnya yang berantakan. Setelah lulus dari sekolah teologi, ia memutuskan untuk memberikan pelayanan rohani dan kemanusiaan di kawasan kumuh Kota Semarang.

Maka, keutamaan hidup yang berorientasi pada kekayaan rohani akan mendorong kita mendayagunakan berkat yang diberikan Tuhan untuk menyatakan karya kasih Tuhan kepada sesama. Inilah iman yang diwujudkan dalam perbuatan. Membuka bulan misi ini, kita diingatkan bahwa kita diberkati untuk dapat menyatakan kasih Tuhan melalui berbagi kepada mereka yang membutuhkan. (ES)

By Edhi Setiawan

Edhi Setiawan, lahir di Yogyakarta, 29 September 1972, adalah salah seorang aktivis di Pos Jemaat Solo Baru dan juga penatua GKI Coyudan. Pria yang tinggal di Solo ini memiliki segudang ide-ide baik bagi perkembangan gereja. Tulisan-tulisannya juga sangat memberkati banyak orang. Di kesehariannya, Edhi juga bekerja sebagai Praktisi Marketing di sebuah perusahaan FMCG. Saat ini, Edhi dan istri telah dikarunia 2 orang anak.