Mazmur 34 : 9–14; Kejadian 20 : 1–18

Bertahan hidup merupakan salah satu naluri semua makhluk yang hidup; baik tumbuhan, binatang, dan juga manusia. Yang membedakan yaitu bahwa tumbuhan bertahan hidup hanya dengan menyerap zat-zat yang ada di dalam tanah untuk terus bertumbuh dan berbuah, binatang bertahan hidup dengan cara mencari makanan bagi diri mereka, dan manusia bertahan hidup dengan berbagai macam cara; termasuk dengan cara yang mencelakai sesamanya.

Persaingan manusia tidak hanya soal makanan untuk hidup, tetapi juga soal ekonomi, popularitas, politik, yang terkadang membuat orang rela dan tega melakukan hal-hal di luar kebenaran demi mempertahankan dirinya.

Demikian juga halnya dengan Abraham yang mengakui Sara hanya sebagai saudaranya dan tidak memperkenalkan pada orang-orang bahwa Sara adalah istrinya. Abraham memberikan alasan mengapa dia melakukannya, dalam Kejadian 20: 11, “Lalu Abraham berkata: “Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku,” yaitu untuk bertahan hidup.

Melalui Kejadian 20 : 1-18 kita melihat:

  1. Kebohongan atau ketidakjujuran seringkali digunakan demi “bertahan hidup” dari sesuatu yang kita takutkan; padahal ketakutan kita itu justru tidak lebih mengerikan dari kenyataan yang harus dihadapi ketika kita hidup di luar Tuhan.
  2. Kebohongan yang kita lakukan dapat mencelakai orang lain yang percaya pada perkataan kita, padahal sebagai umat Tuhan, kita ini diberkati untuk menjadi berkat.

Melalui firman Tuhan minggu ini, kita diajak untuk berani mengambil risiko dengan hidup berlaku jujur baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Amin. (LAAS)