Photo by Erik Witsoe on Unsplash

Mazmur 119 : 1-8, Kejadian 39 : 1-23

Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah film yang menceritakan tentang tokoh utama yang terus diingatkan untuk mendengarkan suara hati nuraninya sebelum mengambil keputusan—yang seringkali di luar pikiran teman-temannya. Meski demikian, di akhir tindakannya, dia tahu bahwa apa yang dilakukannya benar. Sekalipun orang-orang tidak memahami jalan pikirannya, dia percaya hati nuraninya mengatakan hal yang tepat untuk dilakukan. Tentunya ini karena berbagai pengalaman yang telah dialami sang tokoh sebelumnya yang membentuknya menjadi pribadi yang berbesar hati danmemilih untuk tidak egois.

Berkaca dari film tersebut, apa yang mengisi hati nurani kita saat ini? Apakah setiap hari kita mengisinya dengan hal-hal yang memuaskan diri untuk sesaat atau justru menjadikan firman Tuhan yang kekal sebagai satu-satunya pedoman hidup—seperti yang Yusuf lakukan saat digoda oleh istri Potifar? Firman Tuhan berkata dengan jelas,

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat TUHAN.” – Mazmur 119 : 1

Bagaimana kita bisa dengan yakin berkata, “Hidup saya mah baik-baik aja!” kalau dalam kenyataannya, kita lebih sering menyakiti orang lain— khususnya keluarga—dibandingkan menjadi air yang menyejukkan bagi mereka? Selaraskah hidup kita dengan firman, jika setiap hari kita sanggup membagikan ayat namun tidak jarang juga kita memutarbalikkan fakta? Pada kenyataannya, hidup jujur tidaklah mudah; tapi ketika melakukannya, kita sedang menghormati Allah. Dengan mengisi hati nurani dengan kebenaran-Nya, sesungguhnya kita sedang menanam benih kekekalan yang akan berbuah ketika membagikan dan meneladaninya pada orang lain.

Berhentilah bersandiwara, hai orang (yang mengaku) percaya. Bukalah topengmu, tunjukkanlah citra Kristus pada dunia—agar kebekuan di dalamnya mencair karena kasih-Nya kau nyatakan pada mereka. (TDU)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com