Karena Daging itu Enak …

Photo by Ismail Hamzah on Unsplash

Roh memang penurut, tetapi daging…?” Sebuah pertanyaan terlontar ketika pengkhotbah sedang memimpin renungan. Serentak kami menjawab, “Lemah!

Bukan”, jawabnya. “Roh memang penurut, tetapi daging enak!

Sesaat itu pula seluruh pendengar di dalam ruangan tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang disampaikan pengkhotbah. Saya dan beberapa kawan masih mengingatnya hingga hari ini. Sebuah satire yang hendak menyinggung manusia bahwa kedagingan itu begitu menggoda setiap waktu. Nikmatnya bukan main dan bisa mempengaruhi siapa saja. Tak peduli seorang yang sering berkhotbah KKR, memegang jabatan prestisius di gereja, dikenal dermawan di masyarakat, hingga orang biasa-biasa saja.

Paulus tidak main-main ketika berbicara tentang peperangan antara roh dan kedagingan. Ia sadar bahwa kedua kehendak ini selalu berperang dalam batin kita setiap hari, berjuang sekuat tenaga untuk menjadi pemenang. Sebagai manusia yang percaya kepada Kristus, Allah telah menganugerahkan kemampuan luar biasa kepada kita untuk hidup menuruti kehendak Roh dan memenangkan pertandingan ini. Permasalahannya adalah apakah kita membiarkan diri kalah atau melawan dan menang? Kedagingan menjadi hal yang serius karena ia sedang merebut takhta di hati kita setiap hari. Ia sedang berupaya menjauhkan kita dari Allah dan membawa kita pada kehancuran yang tak tahu kapan terwujud nyata.

Dalam buku Gods at War, Kyle Idleman berkata, “Kita sedang berperang melawan berhala-berhala yang berusaha memegang kendali hidup kita. Banyak dari kita tidak dapat mengikut Yesus karena hati kita sebenarnya mengejar sesuatu selain Tuhan.” Ini tidak berarti kita bisa terhilang dari Allah kapan saja, namun Allah meminta kita peka bahwa godaan yang menjatuhkan dan menghancurkan dapat terjadi kapan saja. Segala godaan itu sedang berjuang menjadi “allah” atas diri kita. Ia terlalu mengasihi kita dan tak ingin itu terjadi pada diri kita. Saya senang menggunakan kata “terlalu” untuk menggambarkan kasih-Nya yang terlalu deras mengalir. Ia mengasihi Anda dan saya habis-habisan.

Tidak ada cara lain selain menyerah dengan kemampuan diri sendiri dan menghidupi buah Roh, seperti apa yang dikatakan Paulus. Buah Roh menjadi senjata ampuh. Allah mengaruniakan senjata dan ia meminta kita memakainya. Ada sebuah kerjasama antara kita dengan Allah. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri karena dipastikan akan gagal. Jangan pula merasa hebat ketika menang melawan godaan. Hari ini mungkin berhasil, bagaimana dengan besok? Selama kita mengandalkan Allah, berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran, saya percaya bahwa kita mampu memenangkan peperangan roh dan daging setiap hari. (BWA)