Image from themarysue.com

Yohanes 10 : 22-30

Sherlock Holmes adalah tokoh novel detektif terkenal yang selalu ditemani oleh rekan sekerjanya dr. John Watson. Suatu kali saat mereka tengah menyelidiki sebuah kasus pembunuhan di sebuah hutan, dr. John terbangun di tengah malam dan merasa ada yang tidak beres. Ia kemudian membangunkan Holmes yang masih tertidur pulas “Holmes bangun!” Dengan masih mengantuk Holmes membuka mata dan berguman “Ada apa?” “Apa yang kau lihat?” tanya Watson. “Hmm..langit yang penuh bintang” jawab Holmes. “Apa artinya?” tanya Watson lagi. “Langit malam yang cerah” jawab Holmes. Watson segera menyikut Holmes seraya berteriak “Tenda kita dicuri Holmes! Cepat bangun dan kejar pencuri itu!”

Sama seperti Holmes yang tidak melihat apa yang seharusnya dilihat, orang-orang Yahudi tidak menangkap esensi dari kehadiran Yesus sebagai Mesias. Padahal mereka sudah melihat apa yang Yesus karyakan dalam kehidupan mereka sehari-hari tetapi mereka masih bimbang. Apa yang membuat mereka bimbang? Karena mereka ingin melihat apa yang mereka lihat; ingin mengerti apa yang mereka ingin mengerti; ingin memuaskan apa yang menjadi mau mereka pada Yesus. Mereka bersama Yesus tetapi kehilangan esensi kehadiran Yesus.

Ibadah, persekutuan, dan juga pelayanan yang kita hadiri dan kerjakan adalah sebuah momen perjumpaan dengan Yesus. Itu dapat disebut juga sebuah selebrasi – perayaan akan kehadiran Allah dalam hidup kita. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah dalam sebuah perayaan itu kita telah menangkap esensi dari kehadiran Allah atau sekedar rutinitas saja? Ini patut kita renungkan. Maka apa sebetulnya esensi dari selebrasi itu?

Ibadah adalah sebuah perjumpaan dengan Allah, maka dengan memahami bahwa ibadah dan persekutuan yang kita hadiri adalah tentang menghormati, memuliakan, dan mengalami kehadiran-Nya maka itulah esensi perjumpaan kita dengan Allah. Sama dengan pelayanan yang kita lakukan, dengan kesadaran bahwa yang kita kerjakan adalah sebagai tanggung jawab panggilan dan kasih kita kepada Allah dan sesama, maka kita sudah mendapat esensi pelayanan itu. Maka jemaat terkasih, mari kita kembali bangun kesadaran dalam hati dan pikiran kita agar tidak kehilangan esensi di setiap momen selebrasi kita akan Allah. (DKG)