Categories
BLOG Renungan Warta

Sambut Kebangkitan-Nya: Hadirkan Kehidupan

Image from canadianmennonite.org

Dalam buku Death and Dying, Elisabeth Kübler-Ross menerangkan bahwa ada 5 fase saat seseorang menghadapi kematian; yaitu denial (penolakan), anger (kemarahan), bargaining (penawaran), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan). Kelimanya bisa tidak berurutan dan fase-fase tersebut juga dapat dialami oleh keluarga yang ditinggalkan. Kalaupun bukan karena sakit, kematian yang mendadak dari orang yang dikasihi juga bisa membuat seseorang mengalami fase-fase sulit tersebut—bahkan cenderung lebih sulit menerima kematiannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia akan merasa hidupnya tidak akan sama lagi, bahkan bisa sampai kehilangan gairah untuk hidup.

Mungkin ini pula yang dialami para murid setelah kematian Yesus. Mereka tidak menyangka bahwa Sang Guru akan mati dalam kondisi “sangat direndahkan” (pada zaman itu, orang Yahudi beranggapan orang yang digantung—termasuk disalib—adalah bukti kutuk Allah terhadap orang tersebut (Ulangan 21 : 23)). Namun melalui kebangkitan-Nya di hari ketiga, Yesus mengubah kesedihan para murid menjadi sukacita yang menjalar ke seluruh dunia. Diawali dari para perempuan yang melihat kubur Yesus yang kosong (Luk. 24 : 1–12), lalu saat Dia menampakkan diri-Nya pada para murid, sebenarnya Dia juga sedang membangkitkan pengharapan yang telah mati yang ada dalam diri mereka. Bahkan Petrus—yang dulunya menyalahkan diri sendiri karena menyangkal Yesus—digerakkan-Nya untuk menyebarkan kabar sukacita ini di luar masyarakat Yahudi, salah satunya pada Kornelius (Kis. 10 : 34–43).

Kebangkitan Yesus membuat mereka semakin diteguhkan bahwa Dialah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dunia. Dengan iman yang sama, mereka menyebarkan kabar tentang Sang Pemberi Hidup ini ke manapun Roh Kudus memimpin. Ya, keselamatan dari Allah bukan hanya bagi kalangan sendiri, melainkan bagi setiap orang yang bertobat dan percaya pada-Nya. Apakah kita, yang mengaku percaya pada Yesus Kristus, memiliki kerinduan yang sama seperti para murid, yang mau membagikan kabar sukacita ini pada orang-orang yang kehilangan pengharapan? (TDU)

By Tabita Davinia Utomo

Terlahir pada 4 Juni 1997, Tabita mulai jatuh cinta pada bidang literatur saat kelas 5 SD. Selain sebagai mahasiswa psikologi, Tabita juga terlibat dalam pelayanan pemuridan di KTB Remaja-Pemuda, serta pelayanan literatur di Majalah Ebenhaezer, Majalah Pearl, dan Ignite GKI. Penikmat musik, "devotional book" dan coklat ini juga telah menerbitkan sebuah novel, Singing in the Echo and the Shadow. Cita-citanya adalah menjadi seorang konselor anak dan remaja, sekaligus ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya pada Tuhan melalui bidang literatur.