Photo by Syd Sujuaan on Unsplash

Minggu Pra Paska ke-6, seminggu sebelum Paska disebut sebagai Minggu Palma yang merujuk pada peristiwa dalam Injil Lukas 19: 28-44, Markus 11: 1-11, Matius 21: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19. Dalam tradisi Yahudi, daun palma adalah simbol kemenangan atas musim semi dan dingin, simbol kemenangan atas kehidupan dari kematian. Minggu Palma juga menjadi pembuka minggu sengsara untuk mengingatkan bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya pada kebangkitan-Nya saja, namun perjalanan penderitaan-Nya menunjukkan kemuliaan-Nya sehingga Ia layak dipuji dan dimuliakan.

Dalam Injil Lukas dikisahkan banyak orang berkumpul dan mengangkat daun palma untuk mengelu-elukan Yesus. Hal ini menjadi tanda bahwa kedatangan Yesus di Yerusalem adalah sebuah peristiwa istimewa. Mengapa demikian? Karena Yerusalem dikenal sebagai kota Allah, kota di mana ada kedamaian. Namun pada kenyataannya; konflik, penolakan, dan pembunuhan justru terjadi di kota Yerusalem. Kedatangan Yesus ke Yerusalem menjadi pengingat bahwa perdamaian harus ditegakkan. Itulah mengapa Yesus masuk ke kota Yerusalem dengan menggunakan anak keledai muda, bukan kuda yang identik dengan perang. Yesus ingin menyatakan bahwa Anak Allah datang dengan kelemahlembutan dan dengan damai, bukan dengan pedang.

Saya teringat dengan peristiwa perundungan (bully) yang terjadi pada Audrey (14 tahun). Info ini membuat netizen memunculkan tagar #JusticeForAudrey. Salah satu alasannya adalah kemarahan atas usulan KPAI agar masalah ini diselesaikan lewat jalan damai, bukan jalur hukum, mengingat pelaku-pelaku masih di bawah umur. Netizen menyuarakan untuk meminta proses hukum berjalan sebagaimana adanya karena perundungan yang dilakukan termasuk dalam tindak pidana. Terlepas dari kasus Audrey, seringkali jalan damai yang dipikirkan oleh kita adalah ‘sekadar’ maaf-memaafkan tanpa ada proses penyelesaian yang semestinya. Jalan damai denganmenghindari proses hukum yang adil. Jalan damai tanpa pernah bertemu untuk duduk bersama dan menyelesaikannya. Pendeknya, jalan damai tanpa menyingkap apa yang sesungguhnya menjadi kebenaran.

Kembali pada Injil, ada peristiwa menarik ketika Yesus masuk ke Yerusalem yaitu ketika orang-orang Farisi terganggu dengan seruan para penyambut dan meminta Yesus untuk menyuruh mereka diam. Yesus mengatakan ‚ …jika mereka diam, maka batu ini yang akan berteriak‛ (ayat 40). Yesus ingin mengingatkan kita bahwa jalan damai itu tidak sama dengan membungkam suara hati dan kebenaran. Membungkam bisa berakibat pembiaran terhadap apa yang salah. Hal itu mengakibatkan tidak adanya pembelajaran tentang yang salah dan benar. Jalan damai tidak sama dengan diam. Jalan damai tidak sama dengan pembiaran agar masalah selesai dengan sendirinya. Jalan damai adalah keberanian untuk berbicara dengan cara yang benar. (IYS)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com