Photo by Aaron Burden on Unsplash

Dalam masa Pra Paska kita diajak untuk mengingat dan menghayati kembali tentang masa sengsara Tuhan Yesus sebagai wujud nyata cinta kasih-Nya kepada dunia. Cinta kasih Tuhan itu dinyatakan dengan wujud solidaritas-Nya, yaitu dengan menjadi sama dengan manusia. Bahkan ikut merasakan apa yang dialami oleh seorang manusia dari lahir, belajar, bekerja, bersama rakyat berada di bawah pemerintahan yang tidak adil, rela menjalani jalan penderitaan yang membuat-Nya dihina, dicela, dianiaya, dan mati di kayu salib.

Memahami solidaritas Kristus kepada umat manusia membuat seorang Saulus mengalami perubahan besar dalam kehidupannya menjadi seorang Paulus, seorang rasul Tuhan yang gigih. Rasa syukur Paulus atas cinta kasih Tuhan itu diluapkannya dengan perwujudan kasihnya kepada orang lain, bahkan ketika Paulus dianiaya dan berada di dalam penjara atau ketika ia terombang-ambing di tengah lautan. Paulus memandang para penganiayanya sebagai orang-orang yang memerlukan belas kasih Tuhan. Paulus menunjukkan solidaritasnya kepada sesama dan solidaritasnya kepada Kristus yang telah menderita untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan, ia bersedia melepas segala hal yang melekat pada dirinya, yang dahulunya adalah kebanggaan, tetapi sekarang justru dianggapnya sampah. Kenapa? Karena pengenalannya akan Kristus jauh lebih sempurna dari semua yang dahulu melekat pada dirinya (kekuasaan, pengetahuan tentang Taurat, ke-Yahudi-annya, dll).

Belajar dari Tuhan Yesus yang bersolidaritas dengan manusia, dan rasul Paulus yang bersolidaritas dengan Kristus yang menanggalkan ke-aku-annya, kita pun diajak untuk bersolidaritas untuk mau merendahkan diri demi menyatakan kasih Bapa dan mewartakan Injil Kerajaan Allah untuk semua orang. (VDY)