Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Lukas 13 : 1–9

Pada saat saya berkesempatan mengikuti salah satu KKR, pemimpin pujian mengatakan kepada jemaat yang beribadah di sana bahwa bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Selatan karena Tuhan sedang menghukum mereka. Sungguh disayangkan pernyataan itu. Apalagi jemaat yang hadir baru saja mengenal Tuhan. Perkataan itu jelas penghakiman bagi korban bencana alam dan memberi kesan seolah-olah Allah adalah Tuhan yang pemarah dan seenaknya menghukum pendosa dengan bencana alam.

Ketika sebuah hal buruk terjadi, mudah sekali buat kita mengatakan hal buruk adalah hukuman Tuhan dan sebaliknya, hal baik kita katakan sebagai anugerah Tuhan. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah benar gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Donggala, dan Sigi adalah hukuman Tuhan? Apakah bila seseorang terkena kecelakaan, sakit penyakit, ketidakberuntungan atau penderitaan adalah semata-mata karena dosa-dosa mereka?

Dalam Injil Lukas, ada beberapa orang datang kepada Yesus membawa kabar tentang beberapa orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus tahu bahwa kabar itu adalah sebuah kabar penghakiman yang beredar bahwa orang Galilea yang mati mengenaskan itu adalah orang-orang kutukan Allah. Menanggapi berita itu, Yesus berkata, “Karena orang-orang Galilea itu dibunuh seperti itu, kalian kira itu buktinya mereka lebih berdosa daripada semua orang Galilea yang lain? Sama sekali tidak! Tetapi ingatlah: kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga, seperti mereka” Luk 13 : 2 (BIS). Ia juga menyebut 18 orang yang tewas tertimpa Menara Siloam tidak lebih besar dosanya dari semua orang lain di Yerusalem.

Yesus kemudian melanjutkan pengajaran-Nya dengan perumpamaan pohon ara di kebun anggur (Lukas 13 : 6-9). Pohon ara yang tiga tahun belum berbuah dan diberi kesempatan untuk dicangkul dan diberi pupuk oleh petani agar berbuah. Yesus mengingatkan dan mengajak kita agar jangan mudah menilai dosa orang lain dari peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka. Kematian tidak selalu dapat diartikan sebagai hukuman Tuhan dan bukan berarti dosa mereka lebih besar dari dosa kita. Alangkah lebih bijaksananya bila kita berefleksi dan mengoreksi diri sendiri.

Pdt. Binsar J. Pakpahan menuliskan bahwa pada ayat 6-9, Yesus menunjukkan kehidupan kita adalah karunia Allah melalui kesempatan yang diberikan untuk berbuah. Sosok petani yang mencangkul dan memberi pupuk adalah Tuhan. Kita diberikan kesempatan untuk berbuah bagi Tuhan; kehidupan berpusat pada Kristus (Gal 2 : 19-20), kehidupan yang diupayakan sekuat tenaga untuk menyenangkan hati Tuhan dan bukan diri kita atau orang lain. Dan kesempatan ini adalah anugerah keselamatan yang Tuhan berikan untuk kita.

Ingatlah, pertobatan yang dilakukan dari dalam diri sendiri membutuhkan buah yang tampak dengan hidup seturut kehendak Allah, melakukan yang terbaik bagi-Nya dan sesama agar berdampak positif dalam kehidupan. (KY)