Categories
Renungan Warta

Menegur Dalam Kasih

                 Menegur itu adalah perkara yang gampang gampang susah.  Kita enggan menegur karena takut membuat orang tersinggung atau jangan-jangan kita akan dituduh sok ikut campur urusan orang lain. Menegur juga seringkali membuat kita terjerumus dalam penghakiman atau malah kita menjadi enggan menegur sebab kita sendiri merasa belum menjadi orang yang baik.  Tetapi jika tidak ada yang mau lagi saling menegur atau menasihati maka bagaiman orang-orang akan tahu kesalahan mereka.  Masa hati nurani kita tidak akan terusik ketika melihat orang lain berbuat salah di hadapan kita?

            Berita Injil minggu ini berpesan tentang menasihati terhadap sesama. Ternyata urusan tegur menegur dan menasihati juga menjadi urusan kita sebagai umat Tuhan, tetapi tentu tidak asal menegur. Kristus mengatakan “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata, jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembalijika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi…..jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat….dan jika ia tidak mau mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah…” (Mat 18:15-17).  Alih-alih menghakimi,  Kristus mengajarkan soal menegur yang terarah dan dalam rangka kasih, perhatikan ayat 15 “…engkau telah mendapatkannya kembali”   Dalam rangka kasih itulah kita juga perlu memperhatikan sikap saat menegur, pertama-tama ajaklah sesama kita berbicara berdua dari hati ke hati, artinya dalam suasana yang akrab dan damai. Bukan malah membicarakan kesalahan di belakang.   Hal itu akan membuat semakin menghancurkannya. Jika dia masih bersikeras, kita bisa ajak beberapa sahabat yang dapat membantunya, dengan harapan dia akan sadar dan tidak mengulangi kesalahan. Jika dia masih bersikeras, maka ajaklah beberapa orang lain lagi untuk membantunya. Jika masih saja bersikeras, maka apa boleh buat, biarlah dia menanggung konsekuensinya.

            Disini kita bisa melihat bagaimana seharusnya peran kita sebagai anggota dari komunitas anugerah dalam menolong orang yang berbuat salah. Siapapun pasti pernah berbuat salah.  Tetapi bukan berarti tidak ada kesempatan bagi yang berbuat salah untuk diampuni dan diterima dalam pemulihan kasih. Seperti Kristus yang membuka tangannya untuk merangkul kita yang berdosa, hal yang demikian seharusnya kita lakukan juga sebagai komunitas anugerah yang menghidupi kasih Kristus.

            

By Daniel Kristanto Gunawan

Daniel Kristanto Gunawan adalah seorang pendeta yang melayani di GKI Coyudan Solo sejak tahun 2012 sampai sekarang. Pria yang lahir di Solo, 23 Juli 1986 ini merupakan alumnus STT Jakarta. Passion terbesarnya ada dalam pelayanan khotbah, kaum muda, liturgi, pengembangan komunitas. Saat ini, Ia juga terlibat aktif dalam pelayanan BPMK Klasis Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *