Dipanggil Untuk Mewujudnyatakan Ibadah yang Berkenan

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

(ROMA 12:1)

Ibadah dalam pengertian umum adalah upacara yang berhubungan dengan agama. Karena pengertian umum yang demikian, seringkali ibadah dimaknai sebagai kegiatan, ritual keagamaan. Dalam pengertian yang lebih luas, ibadah merupakan hakekat kehidupan manusia, yang muncul dari penghayatan dan action untuk melakukan ajaran agama. Lalu bagaimana kekristenan memandang ibadah?

Roma 12:1 menyebutkan ibadah yang sejati adalah tubuh yang dipersembahkan bagi Allah, sebagai persembahan yang hidup dan kudus dan berkenan dihadapan-Nya. Mempersembahkan tubuh mengandung arti totalitas kita dalam mempersembahkan kepada Tuhan. Apa yang menjadi persembahan kita kepada Tuhan, bukan sekedar apa yang kita miliki, namun kita seluruhnya. Seluruh pikiran, perkataan, perbuatan, kemampuan, dan kegiatan kita, adalah persembahan kepada Tuhan. Persembahan kepada Tuhan haruslah yang terbaik dan berkenan kepada-Nya, sementara di sisi lain hidup manusia adalah berdosa. Oleh karena itu, persembahan yang berkenan adalah persembahan yang hidup, yaitu diri yang telah mati bagi dosa dan hidup bagi Kristus. Diri yang telah menerima keselamatan inilah yang akan selalu diperbaharui oleh Kristus untuk menjadi serupa dengan gambaran-Nya, yaitu hidup yang mau dibentuk dalam kekudusan.

Karena itu, ibadah kita yang sejati bukan sebatas penyelenggaraan ritual kebaktian dan persekutuan. Ibadah sejati merupakan totalitas hidup yang berkenan untuk dipersembahkan bagi Tuhan yang menjadi kita kepunyaan-Nya. Sebagai gereja yang adalah persekutuan dari orang-orang yang menyatakan diri beriman, pengakuan kita akan kehadiran dan karya Kristus, harus disikapi secara proaktif untuk mendayagunakan segenap potensi kita sebagai gereja untuk satu tujuan, yaitu kemuliaan Tuhan. Kehadiran dan karya Kristus jangan hanya dimaknai sebagai berkat bagi kita orang beriman, namun lebih kepada tanggung jawab yang harus kita pikul untuk suatu kehendak Tuhan yang akan dinyatakan-Nya melalui gereja. Biarlah panggilan untuk mewujudkan ibadah yang berkenan di hadapan Allah ini, menjadi refleksi kita bersama, terlebih dalam rangka memperingati ulang tahun ke-26 Sinode GKI dan ulang tahun ke-66 GKI Coyudan. Bertambahnya usia mengingatkan kita, betapa semakin sedikit waktu kita untuk berkarya bagi kemuliaan Allah. Teruslah berkarya, disertai doa kiranya ibadah kita berkenan di hadapan-Nya.

Selamat ulang tahun!