KEBANGKITAN YESUS MENGUBAH KETAKUTAN MENJADI DAMAI SEJAHTERA

Photo by Simon Alibert on unsplash

Manusia memiliki rasa takut yang bisa mengancam kehidupan manusia. Takut kehilangan sesuatu dan seseorang yang selama ini dikasihi adalah contoh ketakutan manusia. Seperti para murid kala itu, mereka sedang dilanda ketakutan. Pasca peristiwa salib, rasa takut membuat mereka terancam oleh pemerintahan Romawi dan orang-orang pembenci Yesus kala itu. Itulah kenapa mereka memilih mengunci pintu tempat mereka bersembunyi.

Yesus tahu bahwa murid-muridNya ketakutan. Ia datang ke dalam ruangan yang terkunci itu dan memberi salam damai sejahtera. Salam ini diberikan agar ketakutan mereka diganti oleh damai sejahtera kebangkitan Yesus. Yesus kembali meyakinkan mereka bahwa diri-Nya adalah Yesus yang bangkit dengan menunjukkan bekas paku dan tombak. Continue reading

KALAHKAN TAKUT, JADILAH BERKAT

Pada suatu sore, hujan turun dengan sangat lebat. Saya berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang membelah hujan yang begitu derasnya itu. Segala sesuatu di luar mobil tampak hanya seperti bayangan yang bergerak-gerak tanpa makna. Hingga mata saya terpaku pada sebuah pemandangan yang hingga kini tidak saya lupakan.

Ada sesosok Kakek yang duduk di tepi trotoar, sendirian, tanpa payung ataupun sesuatu yang melindungi tubuhnya dari terpaan angin dan hujan. Basah kuyup dan tentunya kedinginan. Hati saya tergerak oleh pemandangan itu, namun cukup hanya tergerak saja. Saya tidak melakukan apa-apa. Dan begitu sesosok Kakek yang kedinginan itu hilang dari pandangan, barulah mata saya basah oleh air mata. Bukan, bukan air mata karena kasihan, namun air mata penyesalan, air mata yang menangisi diri saya sendiri. Seorang manusia yang bisa dengan egoisnya menikmati kenyamanan. Continue reading

DIUTUS MEMBAWA PEMULIHAN DALAM KASIH ALLAH

Bacaan: YEREMIA 1:4-10

Suatu hari seorang pemuda ditanya oleh neneknya “cucuku, maukah kamu menjadi pendeta di kemudian hari nanti?” Cucu ini menjawab dengan ragu namun jujur pada neneknya itu, katanya “nek, aku takut menjadi pendeta…” Pemuda ini tidak menjawab bahwa apakah ia mau atau tidak, tapi ia hanya menjawab bahwa bagi dia menjadi pendeta itu menakutkan. Sang nenek tersenyum lega mendengar jawaban cucunya yang sudah beranjak dewasa itu. Sembari tersenyum suara hangat sang nenek menimpali cucunya dengan sebuh pernyataan yang akan terus pemuda itu kenang hingga hari ini, kata sang nenek “bagus, justru takut menjadi pendeta itu adalah bekal menjadi pendeta..” Mendengar jawaban dan melihat senyum hangat di wajah neneknya itu, sang pemuda tak bertanya apa-apa lagi karena ia merasa kata-kata sang nenek memberikanya sebuah titik terang di jalan yang harus ia pilih saat itu juga apakah ia ingin melanjutkan perjalanan menjadi pendeta atau memilih mundur. Kata-kata sang nenek tak akan pernah ia lupa, hingga kini ia berada dan melayani Tuhan di dalam sebuah jemaat. Continue reading