BERSANDARLAH PADA TUHAN, BUKAN YANG LAIN

Photo by Hardik Pandya on Unsplash

MAZMUR 16

“Kapankah sebuah bangunan dapat dikatakan bangunan yang kokoh?”
Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Ia menjelaskan, “Ketika ia mengalami goncangan hebat.” Dalam kesempatan lain, seorang pendeta pernah berkhotbah demikian, “Kualitas spiritual dan iman seseorang akan muncul dan terlihat di saat ia mengalami goncangan hidup.” Keduanya memiliki kemiripan. Struktur dasar bangunan dan spiritualitas adalah dua hal yang tak terlihat mata, namun menjadi pondasi paling krusial. Kita bisa mengetahui kuat tidaknya ketika ada goncangan.

Dalam Mazmur 16, kualitas iman seorang Daud terlihat. Sepertinya Daud
sedang berhadapan dengan para penyembah berhala yang memiliki maksud jahat terhadapnya. Kita tidak tahu persis untuk mengapa mereka begitu mengincar Daud. Namun kualitas imannya muncul di saat itu. Imannya kepada Allah, keyakinan dan cintanya kepada Sang Tuan terukir jelas lewat doa-doa yang ia utarakan.

Daud tahu bahwa Allah adalah satu-satunya Allah yang hidup dan benar,
tempat bersandar dan berharap bagi jiwa yang letih, tempat berlindung bagi hati yang lelah. Berhala-berhala yang disembah orang lain adalah kebohongan. Mereka justru mengalami kesedihan karena mengikut allah lain (ayat 4). Ayat 8-11 menjadi puncak dari doa-doanya. Tak pernah sekalipun Daud berpaling dari Allah dan percaya pada yang lain. Goncangan hidup tak membuatnya goyah, tetapi memunculkan “emas”
dalam dirinya.

“Bersandar pada Tuhan” bukanlah kalimat klise yang bias makna. Ia bukanlah sekedar kalimat penghibur yang berisikan teori belaka. Bersandar pada-Nya adalah kebutuhan kita. Titik. Kita membutuhkan-Nya, tak ada alasan lain. Kita tak mampu menciptakan waktu, menentukan masa depan, membuat segala organ dan sel tubuh ini bekerja sempurna. Kita tak mampu. Dia lah yang mengerjakan semua ini. Bersandar pada Tuhan justru akan mengokohkan pondasi hidup yang rapuh ini.

Seorang novelis ternama di dunia, C. S. Lewis pernah berkata, “Jangan, jangan sekali-kali menggantungkan iman Anda kepada seorang manusia pun: bahkan bila ia adalah orang paling baik dan paling bijaksana di seluruh dunia. Banyak hal menarik yang bisa dilakukan dengan pasir, namun jangan sekali-kali berusaha membangun rumah di atasnya.” – (BWA)

BERJAGA DALAM PENGHARAPAN

Bacaan: MARKUS 13: 24 – 37

Bagi para penggemar sepakbola pasti masih mengingat kejadian di Piala Eropa tahun 2004. Ya! Pada gelaran kejuaraan sepakbola paling bergengsi tersebut yang menjadi juara adalah Yunani, sebuah negara yang sama sekali belum pernah terdengar prestasinya di kancah persepakbolaan. Yunani berhasil menerapkan strategi super defensif (pertahanan super) yang membuat lawan sekelas Italia, Spanyol, Portugal, dan Perancis tidak berkutik untuk mencetak gol, sambil sekali waktu melancarkan serangan balasan yang terbukti efektif. Pada akhirnya Yunani berhasil menjadi juara bak cerita dongeng. Apa yang menjadi kunci keberhasilan Yunani? Ya, kedisiplinan dalam menerapkan strategi bertahan tadilah yang membuat mereka berhasil. Setiap individu dalam tim ditugaskan untuk selalu berjaga-jaga, memastikan lawan dan bola tidak melewati mereka, sehingga tidak kecolongan kemasukan gol. Continue reading

TETAP JAGA PELITAMU

Yesus berpesan: “Dalam malam g’lap kamu harus jadi lilin gemerlap; anak masing-masing di sekitarnya, dalam dunia ini bersinarlah!”

Yesus berpesan: “Bersinarlah t’rang; lilinmu kulihat malam dan siang. Anak masing-masing di sekitarnya, untuk hormat Tuhan bersinarlah!”

Yesus berpesan: “Dunia penuh banyak macam dosa, duka dan keluh; anak masing-masing di sekitarnya, untuk sesamamu bersinarlah!”

Demikianlah syair lagu dari KJ 422. Lagu ini mengingatkan bahwa dunia tempat kita berada saat ini adalah dunia yang penuh dosa dengan berbagai macam kejahatan dan perbuatan-perbuatan kegelapan. Dalam situasi dan kondisi seperti itulah Tuhan Yesus berpesan supaya kita menjadi lilin yang bersinar, yang menerangi, yang melenyapkan kegelapan. Itu berarti bahwa kita harus terus menjaga supaya jangan sampai nyalanya padam. Continue reading

SETIA BERTAHAN SAMPAI AKHIR

[Image: sheknows.com]
[Image: sheknows.com]

Bacaan: LUKAS 21 : 5-19

Menurut penelitian rasa sakit yang paling menyakitkan adalah sakit bersalin. Ketika tiba waktunya, seorang wanita mengalami rasa sakit yang luar biasa hebatnya. Tapi setelah bayinya lahir, rasa sakit itu seolah-olah hilang digantikan dengan sukacita karena melihat bayi mungil yang begitu dinantikan olehnya dan suami, serta keluarga. Wanita itu memilih bertahan dan terus mengerahkan kekuatannya karena tahu bahwa penderitaan yang sesaat tadi ia alami digantikan dengan sukacita yang tak terkira. Continue reading