PERGILAH DENGAN SUKACITA

Siapakah yang pertama kali mengabarkan tentang kebangkitan Yesus Kristus? Apakah para murid-murid Yesus? Bukan. Alkitab menyatakan bahwa yang menjadi pembawa berita tentang kebangkitan Yesus adalah malaikat Tuhan sendiri, yang “wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.” (Matius 28:3).

Mengapa demikian? Karena kematian Yesus di Golgota telah menggoncang iman para murid-Nya sehingga mereka pun melepaskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembawa kabar baik (Injil); ada yang kembali ke profesi semula sebagai nelayan dan ada pula yang menyembunyikan diri. Itulah sebabnya Tuhan mengutus malaikat-Nya memberitakan kabar sukacita ini. Dan kalau malaikat yang menyampaikan sudah tentu beritanya adalah benar. Jadi tidak ada alasan untuk ragu, apalagi tidak percaya. Continue reading

ROH KUDUS BAGI UMAT DALAM PELAYANAN KRISTUS

Bacaan: Kisah Para Rasul 2: 1-21

Hari raya Pentakosta bagi orang Yahudi biasa dikenal sebagai hari raya Tujuh Minggu, dimana mereka merayakan ucapan syukur atas pencurahan berkat Tuhan di masa panen raya dengan berkumpul bersama di Yerusalem dan membawa persembahan hasil panen. Pentakosta adalah juga perayaan atas turunnya hukum Taurat, sebagai tanda tatanan kehidupan baru di dalam Tuhan setelah pembebasan umat Israel dari bangsa Mesir. Bagi orang Yahudi, Pentakosta memiliki makna pencurahan berkat atas hasil panen, sekaligus berkat spiritual atas diterimanya hukum Tuhan. Continue reading

DIUTUS MEMBAWA PEMULIHAN DALAM KASIH ALLAH

Bacaan: YEREMIA 1:4-10

Suatu hari seorang pemuda ditanya oleh neneknya “cucuku, maukah kamu menjadi pendeta di kemudian hari nanti?” Cucu ini menjawab dengan ragu namun jujur pada neneknya itu, katanya “nek, aku takut menjadi pendeta…” Pemuda ini tidak menjawab bahwa apakah ia mau atau tidak, tapi ia hanya menjawab bahwa bagi dia menjadi pendeta itu menakutkan. Sang nenek tersenyum lega mendengar jawaban cucunya yang sudah beranjak dewasa itu. Sembari tersenyum suara hangat sang nenek menimpali cucunya dengan sebuh pernyataan yang akan terus pemuda itu kenang hingga hari ini, kata sang nenek “bagus, justru takut menjadi pendeta itu adalah bekal menjadi pendeta..” Mendengar jawaban dan melihat senyum hangat di wajah neneknya itu, sang pemuda tak bertanya apa-apa lagi karena ia merasa kata-kata sang nenek memberikanya sebuah titik terang di jalan yang harus ia pilih saat itu juga apakah ia ingin melanjutkan perjalanan menjadi pendeta atau memilih mundur. Kata-kata sang nenek tak akan pernah ia lupa, hingga kini ia berada dan melayani Tuhan di dalam sebuah jemaat. Continue reading