BELAJAR MENGENDALIKAN LIDAH

Photo by Iz zy on Unsplash

Yakobus 3 : 1 – 12

Kita bersyukur jika hari ini boleh hidup di negara yang telah merdeka. Salah satu berkat yang kita nikmati di negara ini adalah hak kebebasan untuk berpendapat/ berbicara. Sayangnya, hak tersebut terkadang disalahgunakan. Coba simak pembicaraan orang baik di sosial media atau di televisi. Banyak pernyataan dan komentar yang berisi kebencian, hujatan, dan fitnah. Mereka seolah-olah tidak peduli lagi akan dampak dari perkataan mereka terhadap orang lain. Kata-kata semacam itu dapat menghancurkan reputasi seseorang dan dapat merusak hubungan yang paling dekat sekalipun.

Surat Yakobus memperingatkan kita tentang kekuatan lidah. Yakobus mengatakan lebih mudah mengekang seekor kuda, menjinakkan hewan (burung, binatang melata, dan laut), mengendalikan sebuah kapal yang besar, daripada mengendalikan lidah (ay 3-8). Lidah disebut sebagai “api” yang dinyalakan oleh api neraka sendiri (ay 6) dan “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (ay 8). Lidah merupakan bagian kecil dari tubuh namun dapat memberikan pengaruh yang besar. Apa yang diucapkan lidah mencerminkan apa yang ada dalam hati kita.

Lalu bagaimana seharusnya seorang Kristen menggunakan hak kebebasan berbicara? Firman Tuhan telah memberikan pedoman yang jelas yaitu “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4 : 29). Seperti halnya Yesaya yang berkata “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu”(Yesaya 50 : 4a), kita pun dipanggil untuk membawa berkat kepada sesama melalui perkataan kita. Firman Tuhan menunjukkan bahwa perkataan kita dapat dipakai-Nya untuk memberkati orang lain. Karena itu sebelum kita berbicara coba renungkan tiga hal berikut :

  • Apakah perkataan saya bermanfaat untuk membangun orang lain?
  • Apakah perkataan saya dapat dipakai Tuhan menyalurkan kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya?
  • Apakah cara saya mengungkapkan ketidaksetujuan berkenan kepada Tuhan?

Mari kita menggunakan lidah kita dengan bijaksana sehingga iman kita dapat tercermin dari setiap perkataan dan puji-pujian yang keluar dari mulut kita. Karena pengenalan yang baik akan Tuhan menghadirkan lidah yang menghadirkan kidung yang menyenangkan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Hendaklah setiap kata yang terucap adalah puji-pujian yang mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Kiranya kita rela menjadi alat yang setia di tangan Tuhan untuk membawa kasih karunia-Nya kepada sesama kita. (KY)