BERDOA DAN BERKARYA BAGI BANGSA

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29: 7)

Dalam kesunyian, saya mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara ini. Peristiwa-peristiwa besar yang mampu menggegerkan ujung timur Indonesia hingga ke barat, sampai peristiwa di pelosok-pelosok kampung yang luput dari pemberitaan media. Segala peristiwa yang membuat mulut berdecak kagum hingga yang meneteskan air mata. Dalam diam, saya dapat melihat tangan Sang Ilahi sedang terus bekerja.

Pembuangan bangsa Israel bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dialami. Di tengah kesulitan ini, datanglah firman Tuhan yang sebenarnya sulit untuk diterima dengan akal sehat. Mereka tidak mendapat penghiburan, melaikan ajakan. Di tengah penjajahan, Allah justru meminta umat Israel mengusahakan kesejahteraan dan berdoa bagi kota yang sedang mereka diami, sebuah kota yang asing dan (mungkin saja) tak mereka cintai. Kehadiran Allah akan terwujud ketika umat Israel berdoa dan berkarya di negeri asing. Mengusahakan kesejahteraan merupakan sebuah proses yang tidak instan, penuh lika liku dan naik turun, keberhasilan maupun kegagalan. Kasih karunia Allah justru bisa dialami dalam kondisi yang demikian.

Kita bukan lagi bangsa terjajah. Indonesia sudah 73 tahun hidup dalam kemerdekaaan, akan tetapi, berdoa bagi kota dan bangsa merupakan perintah yang tak lekang oleh waktu. PR yang ada di negeri ini tak akan pernah habis, bahkan jika negeri ini melewati ulang tahun yang ke sekian ribu. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi belakangan ini membuat mata kita terbuka bahwa ini Indonesia, ini tanah air kita, di sini kita berdiri dan bersatu. Saya percaya ketika setiap orang mau menangkap panggilan Tuhan dan berkarya bagi bangsa ini, niscaya kebaikan-kebaikan yang tersembunyi di kedalaman akan mulai muncul ke permukaan. Saya rasa, kita semua sudah tahu banyak contoh bagaimana berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Maka, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga. Allah mencintai bangsa Indonesia, mengapa kita tidak? (BWA)

BERBUAH BAGI INDONESIA

Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan salah seorang anak Tuhan yang telah berbuah bagi Indonesia. Pak Ahok telah mencelikkan mata banyak orang bahwa kebenaran dan keadilan itu memang tidak mudah, tetapi HARUS diperjuangkan demi kebaikan kehidupan sebuah bangsa. Seberapapun kesulitan yang harus dihadapi dan beban yang harus dipikul, kebenaran dan keadilan tetaplah patut diperjuangkan. Buah yang dihasilkan bukan tentang karyanya sendiri (apa yang sudah dicapainya), tetapi bagaimana kejujuran dan ketulusannya menjadi teladan bagi banyak orang yang mengharapkan kemajuan bangsa Indonesia. Itu semua dilakukannya sebagai wujud hidup yang meneladan pada Yesus Kristus. Continue reading

DIPANGGIL UNTUK INDONESIA

Baru saja kita memperingati hari ulang tahun ke–29 penyatuan Gereja Kristen Indonesia. Dari gereja suku menjadi gereja Indonesia. Dari tiga gereja menjadi satu gereja. Dari keberagaman menjadi satu dengan semangat Tubuh Kristus. Ada hal yang menarik dari sejarah panjang GKI ini yaitu perubahan nama dari Tiong Hoa Ki Tok Kauw Hwee menjadi Gereja Kristen Indonesia. Konon katanya sempat ada usulan menambahkan imbuhan ‘di’ sehingga menjadi Gereja Kristen di Indonesia. Setelah dipikirkan maka kata ‘di’ dihapuskan dengan memaknai bahwa GKI bukan hanya berpijak di Indonesia, tetapi mau menjadi kontekstual. Sederhananya GKI menyadari panggilannya untuk menyatakan damai sejahtera, kasih, keadilan, dan kebenaran bagi Indonesia. Continue reading

KEADILAN DAN DAMAI SEJAHTERA

Bacaan: I Timotius 6:6-19

Keadilan dan damai sejahtera. Dua kata ini sangat sering kita dengar dan didengung-dengungkan sebagai tujuan yang mulia dari hidup umat manusia. Seringkali dua kata ini juga digunakan oleh negara sebagai sesuatu yang hendak dicapai bagi rakyatnya. Namun pada kenyataannya seakan-akan keadilan dan damai sejahtera tersebut hanya ada pada tataran wacana dan idealisme yang tidak tersentuhkan di negeri utopia yang jauh di sana. Apalagi di zaman sekarang ini, individualisme dan materialisme menjadi tujuan dan slogan baku yang mendarah daging di hampir sebagian besar manusia, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Jurang kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin juga tidak dapat dipungkiri menjadi semakin lebar dan akhirnya membawa dunia pada persoalan ekonomi dan sosial. Kriminalitas yang meningkat, kejahatan yang semakin merajalela, dan ketakutan akan rasa aman yang merongrong hidup setiap kita. Masih adakah harapan akan keadilan dan damai sejahtera? Continue reading