MEMELIHARA KESATUAN DALAM KELUARGA

Kejadian 2 : 18–24

Ayah saya adalah seorang yang keras kepribadiannya, tidak banyak bicara, dan tidak suka dengan hal yang rumit. Sedangkan ibu saya adalah seorang yang suka bercerita, sangat perasa, dan selalu bergerak cepat. Saya punya dua adik terdiri dari laki-laki dan perempuan. Karakter ayah saya menurun ke adik saya yang laki-laki, sedang si adik perempuan mempunyai sebagian karakter seperti ayah dan ibu. Saya sendiri memiliki karakter ibu saya. Hobi dan kesenangan kami juga berbeda-beda. Saya dan adik laki-laki saya penyuka kopi, sedang yang lain penyuka teh manis. Saya sendiri suka pertunjukan teater, sedang yang lain selalu heran kenapa saya rela nonton berjam-jam teater. Meski berbeda-beda, ternyata kami sudah hidup sebagai keluarga selama 33 tahun.

Bersatu itu tidak otomatis, tetapi manual. Dalam kata lain harus diupayakan dan diperjuangkan. Sebuah keluarga terdiri dari masing-masing individu dengan sifat, latar belakang, dan karakter masing-masing yang telah menjadi satu ikatan kasih. Adam dan Hawa dicipta oleh Tuhan sebagai dua pribadi yang berbeda dalam satu daging. “Inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku” (Kej. 2 : 23) demikian ungkap manusia itu ketika menemukan penolong yang sepadan. Sepadan bukan berarti sama, tetapi seimbang. Bersatu bukan berarti keseragaman, tetapi perpaduan. Karena itu rayakanlah perbedaan-perbedaan dalam keluarga dan peliharalah kesatuan dalam kasih.

Memelihara kesatuan dalam kasih berarti mau terbuka dan menerima perbedaan yang ada dengan kerendahan hati. Rendah hati berarti mau se-level dengan yang lain. Suami tidak merasa lebih tinggi daripada istri juga sebaliknya, orang tua tidak memposisikan diri sebagai yang selalu di atas anak-anak demikian pula sebaliknya. Menerima perbedaan bukan berarti kita menerima seadanya sifat dan karakter buruk yang ada. Salah satu ciri kasih adalah bersukacita akan kebenaran (I Kor. 13 : 6), maka keluarga dalam ikatan kasih akan mendukung anggotanya untuk merubah sifat dan karakter menjadi lebih baik. Dengan se-level, maka terciptalah ruang untuk saling mendengarkan, saling memaafkan, saling mendukung, dan mendoakan. (DKG)