PENGAMPUNAN MEMBERI KESEMPATAN BARU

Bacaan: YOHANES 8:1-11

Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Ya, peribahasa ini sering kita dengar, menggambarkan betapa mudahnya kita melihat kesalahan orang lain, sebaliknya betapa sulitnya kita melihat kesalahan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang akhirnya menyakiti orang lain ataupun yang tidak. Continue reading

SALING MEMAAFKAN DALAM KESADARAN

Bacaan: Kejadian 33 : 1-20

Kisah Yakub dan Esau dalam bacaan kita hari ini, tentu sudah tidak asing bagi kita semua. Setelah kurang lebih dua puluh tahun mereka tidak berjumpa tentulah Yakub takut untuk bertemu kembali dengan Esau, setelah apa yang dilakukan Yakub terhadap saudaranya itu. Yakub menipu Esau menukar hak kesulungannya dengan masakan kacang merah saat Esau baru pulang dari padang dengan kondisi lelah dan lapar. Tentu saja Esau juga salah karena menganggap enteng hak kesulungannya dan dengan mudah menukarnya dengan makanan. Padahal hak kesulungan merupakan penghargaan khusus kepada anak sulung dan meliputi bagian ganda dari warisan keluarga beserta suatu kehormatan bahwa suatu saat nanti akan menjadi pemimpin keluarga. Kejadian yang kedua adalah saat Yakub menipu ayahnya Ishak dengan berpura-pura menjadi Esau sehingga Yakublah yang menerima berkat dari ayahnya. Kejadian ini menimbulkan dendam dihati Esau dan dia berencana membunuh adiknya tersebut. Karena itu Yakub kemudian melarikan diri kerumah Laban, saudara ibunya. Didalam Kejadian 32 : 9-12 dikatakan Yakub berdoa didalam ketakutannya, memohon pertolongan Allah sebelum bertemu dengan Esau. Dan Tuhan Allah menolong Yakub sehingga ketika mereka bertemu kembali, Esau telah memaafkan Yakub. Kejadian 33 : 4 mengatakan “Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka”. Didalam perjumpaan tersebut telah terjadi rekonsiliasi, karena Yakub telah meminta maaf dan Esau telah memaafkan Yakub. Continue reading

PENGAMPUNAN-NYA MEMBERI PENERIMAAN KEMBALI

Bacaan: LUKAS 15:11-32

Ketika kita mengalami kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tentu kita merasa sedih dan kecewa. Namun ketika yang hilang itu tiba-tiba ditemukan, tentu hati kita menjadi sangat bersukacita bukan? Demikianlah isi hati Bapa terhadap manusia yang jatuh ke dalam dosa, yang terhilang di antara umat yang dikasihi-Nya. Ketika anak yang dikasihi itu kembali dalam pertobatan, betapa bersukacitanya Bapa di Surga, seperti sang Ayah dalam perumpamaan anak yang hilang. Yang ada hanya sukacita. Pengampunan Bapa yang bersumber dari kasih yang tak terbatas, melahirkan penerimaan yang tulus dalam kasih yang tiada henti, yang mampu menghapuskan segala kesalahan yang telah diperbuat si bungsu yang terhilang itu.

Pengampunan Bapa yang telah kita alami dalam hidup kita mengajarkan kepada kita makna kasih, yang menjadi dasar kehidupan termasuk dalam keluarga. Kita menyadari bahwa keluarga terdiri atas berbagai macam karakter yang berbeda, dan tentu saja tidak sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itu, tidak dapat dihindari munculnya kesalahan yang dapat melukai satu dengan yang lainnya. Ketika relasi antar pribadi yang berbeda sekaligus terbatas ini tidak terjalin dengan baik, tidak dapat saling mengasihi dengan tulus, tidak bersedia saling mengampuni, maka kehidupan bersama dalam keluarga akan menuju pada kehancuran. Akan tetapi ketika kasih dan pengampunan menjadi dasar kehidupan bersama maka indahlah relasi di dalam keluarga, yang saling mengasihi, saling mengampuni dan saling menerima apa adanya.

Pengampunan dan penerimaan yang ditunjukkan oleh Bapa kepada umat-Nya yang berdosa semestinya menjadi model relasi yang dilandasi oleh kasih yang sejati. Memang untuk dapat memiliki hati seperti Bapa, masih banyak jalan berliku yang harus dilalui. Kita kadang sulit mengampuni dan menerima, seperti si sulung yang kecewa karena pengampunan yang diterima si bungsu. Demikianlah ego manusia ketika hatinya tersakiti. Ego yang diliputi dendam memilih larut dalam amarah, padahal semestinya dapat bersyukur karena telah hidup menikmati kasih Illahi.

Sebagai umat kekasih Bapa, marilah kita belajar untuk memiliki hati-Nya yang penuh kasih dan pengampunan.

TELADANKAN FIRMAN-KU

28Bacaan: LUKAS 2:41-52

Seseorang pernah berkata, “Jika anak tidak dididik untuk mengikut Tuhan, maka dunia akan mendidik anak-anak untuk mengikutinya.” Pernyataan ini menjadi semacam alarm bahwa kita sebagai orang dewasa ditantang untuk tetap mendidik anak-anak untuk hidup sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan kepada kita, bukannya membiarkan mereka terlena dalam hal-hal duniawi.

Mari kita merenung sejenak tentang kehidupan rohani keluarga kita. Berapa banyak keluarga yang telah memperkenalkan anak-anak kepada Tuhan sejak mereka dini? Berapa banyak orangtua yang mendidik anak-anak untuk beribadah kepada Tuhan lewat saat teduh setiap hari? Berapa banyak keluarga yang selalu mendorong anak-anak untuk ikut sekolah minggu, persekutuan remaja, persekutuan pemuda, bahkan kebaktian? Berapa banyak keluarga yang selalu mengajarkan anak-anak untuk menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan mereka? Continue reading