MERENGKUH YANG LEMAH

Photo by Katolisitas

Markus 10 : 46-52

Bartimeus, seorang yang mengalami kelemahan secara fisik yakni tidak bisa melihat. Kebutaan membuat Bartimeus terpaksa hidup meminta-minta karena pada saat itu sebagian besar pekerjaan membutuhkan pekerja fisik, sehingga orang-orang seperti Bartimeus tidak mempunyai peluang untuk mendapat pekerjaan.

Kelemahan Bartimeus juga membuatnya mengalami kelemahan status sosial tentunya sebab pasa masa itu, masyarakat menganggap buta sebagai penyakit dosa. Namun ternyata Bartimeus tidak mengalami kelemahan secara rohani. Ayat 47: “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Anak Daud merupakan sebutan populer Yesus sebagai Mesias karena dalam nubuat nabi, Mesias adalah seorang keturunan Daud. Fakta bahwa Bartimeus menyebut Yesus, Anak Daud, menunjukkan bahwa ia mengenal Yesus sebagai Mesias dan ia berseru meminta pertolongan Tuhan Yesus. Mata jasmaninya buta tetapi mata rohaninya melihat Yesus sebagai Mesias yang mampu untuk memberikan pertolongan. Tuhan Yesus mengasihi Bartimeus yang memiliki kelemahan fisik dan status sosial. Karena belas kasihan, Tuhan Yesus berkenan untuk menyembuhkan Bartimeus.

Dalam kehidupan bersama di tengah keluarga kita maupun di tengah keluarga besar GKI Coyudan, tidak semua dari kita adalah orang-orang yang kuat. Ada diantara kita saudara-saudara yang mengalami kelemahan. Pertanyaannya: bagaimanakah sikap kita terhadap mereka? Entah mereka yang lemah secara fisik, lemah status sosialnya, lemah ekonominya, bahkan juga lemah imannya. Selayaknya kita memandang mereka seperti Yesus memandang mereka, kita memiliki hati seperti hati Yesus sehingga kita
akan bertindak sama seperti tindakan Yesus. (MS)

Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri (Roma 15 : 1).

KELUARGA YANG MELAYANI

Photo by Kaitlyn Horton on Unsplash

Markus 10 : 35-45

Siapakah yang memegang otoritas dalam rumah Anda? Apakah suami yang dominan? Atau istri yang memegang kendali? Kalau masih bingung menjawabnya coba ingat-ingat nasehat ibu anda saat menjelang pernikahan dulu. Biasanya ibu akan mengatakan suamilah yang harus memegang kendali (kepada anaknya yang laki-laki). Tetapi ibu yang sama bisa berkata seorang isterilah yang baik harus mengatur keperluan rumah tangga (jika yang dinasehati adalah anaknya perempuan). Apa artinya? artinya standar kepemimpinan dalam keluarga menjadi begitu relatif tergantung kepada siapa kita bertanya dan sesuai tradisi masing-masing.

Sebagai orang percaya, kita sepatutnya menjawab bahwa Allah lah yang menjadi kepala atas rumah tangga kami. Ya, rumah adalah tempat dimana otoritas Allah bekerja secara utuh dan penuh. Apa maksudnya? Alkitab mencatat bahwa langit adalah tahta Allah, bumi adalah tumpuan kakinya, dan rumah Allah (yang didirikan di keluarga-keluarga beriman) adalah tempat perhentian-Nya.

Jadi di dalam rumah kita, Allah bukanlah tamu yang diundang manakala diperlukan dan disuruh pergi manakala kita ingin sendiri. Allah adalah dasar sekaligus pusat bangunan dan otoritas rumah tangga yang benar. Otoritas Allah yang harus ditegakkan di dalam rumah didasarkan pada kasih dan hormat antar anggota keluarga dalam rangka melayani.

Otoritas Allah diberikan kepada suami untuk mengasihi istri dan anak-anaknya dengan total sama seperti mengasihi Allah, sama seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Suami juga berfungsi sebagai imam untuk menguduskan istri dan anak-anak, supaya istri dan anak-anaknya menjadi cemerlang di hadapan Allah dan sesama. Itu berarti suami harus menjadi teladan sikap yang benar bagi istri dan anak-anaknya.

Otoritas bagi sang istri adalah penolong sepadan bagi suami yang memainkan peran kudusnya untuk mengajarkan kepada anak untuk saling menghormati dan mengasihi sama seperti kepada Tuhan, cakap dalam mengatur kebutuhan rumah tangga, dan menjadi menolong suami untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya (Amsal 31 : 10-30).

Itulah otoritas yang diberikan Allah atas rumah tangga orang beriman supaya terjalin hidup yang melayani. Sungguh, ketika otoritas Tuhan dihadirkan, maka rumah akan dipenuhi oleh kasih dan hormat, cinta dan pujian. Disanalah Allah akan diam dan menjadikan rumah kita tempat perhentian-Nya yang kudus. (JM)

KELUARGA YANG MEMBAWA KEADILAN

Photo by Mike Scheid on Unsplash

Amos 5 : 6-7; 10-15

Amos yang berasal dari Tekoa, sebuah desa kecil di selatan Yerusalem. Ia
adalah seorang peternak domba (Am 1 : 1), bukan berasal dari golongan nabi ataupun imam. Namun demikian, Tuhan memanggil dia yang dari kalangan rakyat awam untuk menyerukan suara-Nya. Apa yang hendak disampaikan Tuhan melalui Amos? Dalam bacaan kita, Tuhan menegur keras bangsa Israel yang sangat banyak kejahatannya yang berupa merendahkan keadilan dan membuang kebenaran, menginjak orang yang lemah, mengambil gandum, menekan orang benar, menerima suap, menyingkirkan orang miskin, dan sebagainya (Am 5 : 11-12).

Kejahatan-kejahatan Israel ini dikontraskan dengan perintah Tuhan untuk mencari-Nya – ”Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Am 5 : 6). Paralel denganayat ini adalah ayat 14, “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup.” Jadi dapat dikatakan bahwa mencari Tuhan sama artinya dengan mencari yang baik. Karena Tuhan adalah sumber kebaikan, maka ketika kita mencari Tuhan, kita juga sedang mencari kebaikan. Tentu saja dalam mencari Tuhan, kita akan selalu bertolak belakang dengan kejahatan, seperti halnya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Israel.

Sedikit menyinggung di perikop setelahnya (Am 5 : 21-24), di sana diungkapkan bahwa Tuhan membenci ibadah mereka yang sepertinya ada perayaan, ada persembahan, ada nyanyian tetapi hati mereka jauh dari keadilan. Di ayat 24 ditekankan apa sebenarnya yang diinginkan Tuhan. “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” Ya, Tuhan ingin agar ketika mereka mencari Tuhan melalui ibadah mereka, mereka juga kerjakan itu dalam kehidupan mereka, yakni kebaikan, kebenaran, dan keadilan.

Di bulan keluarga ini, kita juga diingatkan bahwa dalam kehidupan berkeluarga yang mencari Tuhan, itu berarti kita juga harus mengerjakan kebaikan, kebenaran, serta keadilan. Keluarga yang beribadah kepada Tuhan memang penting, tetapi yang dikehendaki Tuhan tidaklah cukup hanya sekedar sampai beribadah saja, melainkan juga mengerjakan keadilan itu dalam kehidupan keluarga kita.

Tantangan dunia saat ini sangatlah berat untuk dihadapi keluarga-keluarga kita. Keadilan yang seharusnya diperjuangkan oleh anak-anak Tuhan harus bertubrukan dengan semangat zaman ini yang menekankan egoisme(mementingkan diri sendir), materialisme (mementingkan kekayaan materi), hedonisme (mementingkan kepuasan kesenangan). Namun demikian, Tuhan yang akan berikan kekuatan dan kemampuan bagi setiap keluarga yang mau mengerjakan panggilan membawa keadilan dan menyuarakan suara Tuhan seperti Amos, Sang penggembala domba yang berani menyuarakan kebenaran suara Tuhan. Mari kita bawa keluarga kita masing-masing kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk setia menyuarakan suara keadilan-Nya dan mengerjakan panggilan di dunia ini. Amin. (YEP)

MEMELIHARA KESATUAN DALAM KELUARGA

Kejadian 2 : 18–24

Ayah saya adalah seorang yang keras kepribadiannya, tidak banyak bicara, dan tidak suka dengan hal yang rumit. Sedangkan ibu saya adalah seorang yang suka bercerita, sangat perasa, dan selalu bergerak cepat. Saya punya dua adik terdiri dari laki-laki dan perempuan. Karakter ayah saya menurun ke adik saya yang laki-laki, sedang si adik perempuan mempunyai sebagian karakter seperti ayah dan ibu. Saya sendiri memiliki karakter ibu saya. Hobi dan kesenangan kami juga berbeda-beda. Saya dan adik laki-laki saya penyuka kopi, sedang yang lain penyuka teh manis. Saya sendiri suka pertunjukan teater, sedang yang lain selalu heran kenapa saya rela nonton berjam-jam teater. Meski berbeda-beda, ternyata kami sudah hidup sebagai keluarga selama 33 tahun.

Bersatu itu tidak otomatis, tetapi manual. Dalam kata lain harus diupayakan dan diperjuangkan. Sebuah keluarga terdiri dari masing-masing individu dengan sifat, latar belakang, dan karakter masing-masing yang telah menjadi satu ikatan kasih. Adam dan Hawa dicipta oleh Tuhan sebagai dua pribadi yang berbeda dalam satu daging. “Inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku” (Kej. 2 : 23) demikian ungkap manusia itu ketika menemukan penolong yang sepadan. Sepadan bukan berarti sama, tetapi seimbang. Bersatu bukan berarti keseragaman, tetapi perpaduan. Karena itu rayakanlah perbedaan-perbedaan dalam keluarga dan peliharalah kesatuan dalam kasih.

Memelihara kesatuan dalam kasih berarti mau terbuka dan menerima perbedaan yang ada dengan kerendahan hati. Rendah hati berarti mau se-level dengan yang lain. Suami tidak merasa lebih tinggi daripada istri juga sebaliknya, orang tua tidak memposisikan diri sebagai yang selalu di atas anak-anak demikian pula sebaliknya. Menerima perbedaan bukan berarti kita menerima seadanya sifat dan karakter buruk yang ada. Salah satu ciri kasih adalah bersukacita akan kebenaran (I Kor. 13 : 6), maka keluarga dalam ikatan kasih akan mendukung anggotanya untuk merubah sifat dan karakter menjadi lebih baik. Dengan se-level, maka terciptalah ruang untuk saling mendengarkan, saling memaafkan, saling mendukung, dan mendoakan. (DKG)