SATU KASIH SATU HARI

Photo by Dakota Corbin on Unsplash

Suatu hari anak saya yang berusia 2,5 tahun berkata kepada Asisten Rumah Tangga kami:

“Mbak, mamah tu sayang lho sama nyo-nyo ”

“O, iya to nyo?”

“Iyaa. Karena mamah beliin nyo2 popok, beliin roti, beliin susu ”

“Hahahaa, gitu ya nyo? ”

“Iya mbak, mamah baek lho mbak sama nyo-nyo, mamah sayang sama nyo-nyo ”.

Anak kecil memahami bahwa orangtuanya menyayangi melalui apa yang dia terima, apa yang dia rasakan, apa yang dia lihat. Kita orang dewasa pun pasti juga demikian. Kita bisa mengatakan seseorang menyayangi kita melalui apa yang kita terima, melalui apa yang kita rasakan, dan melalui apa yang kita lihat. Kasih itu memang sebuah kata sifat, namun tidak akan berarti apa-apa kalau tidak diubah menjadi sebuah kata kerja. Continue reading

KASIH KEPADA ALLAH, KEPEDULIAN KEPADA SESAMA

Image by Kai Oberhäuser on unsplash

KASIH. Jika kita harus memberi definisi dari kata ini pastilah ada banyak kalimat yang dikatakan atau dituliskan, bahkan ada banyak definisi yang kita berikan dari satu kata ini. Tetapi kebanyakan yang ada hanyalah ungkapan perasaan. Kasih bukan hanya soal perasaan, tetapi kasih juga adalah tindakan nyata.
I Yohanes 4 : 7-21 memberitahukan kepada kita beberapa hal soal ini: Continue reading

KETAATAN DAN KASIH PERSAUDARAAN SEBAGAI TANDA PERTOBATAN

Bacaan: I PETRUS 1:17-23

I PETRUS 1:18-19 menegaskan bahwa kemerdekaan kita bukan oleh karena usaha dan perjuangan kita. Kemerdekaan kita adalah anugerah. Kemerdekaan itu dibayar dengan harga yang teramat mahal karena bukan dengan emas dan bukan pula dengan perak. Kristus membayar dengan darah-Nya sendiri. Kita tidak bisa menyelesaikan urusan dosa dengan kekuatan kita sendiri, dan itu berarti bahwa kita tak akan pernah bebas, tak akan pernah merdeka tanpa pengurbanan Tuhan Yesus Kristus. Dengan darah Tuhan Yesus kita diperdamaikan dengan Allah dan dijadikan kepunyaan Allah. Karena Kristus sudah memerdekakan kita dan mengangkat kita dari lembah dosa, maka selayaknyalah kita tidak lagi hidup dalam dosa melainkan menanggalkan dosa-dosa kita dan cara hidup kita yang lama. Kita hidup dalam kehidupan yang baru. Continue reading

PENGAMPUNAN-NYA MEMBERI PENERIMAAN KEMBALI

Bacaan: LUKAS 15:11-32

Ketika kita mengalami kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tentu kita merasa sedih dan kecewa. Namun ketika yang hilang itu tiba-tiba ditemukan, tentu hati kita menjadi sangat bersukacita bukan? Demikianlah isi hati Bapa terhadap manusia yang jatuh ke dalam dosa, yang terhilang di antara umat yang dikasihi-Nya. Ketika anak yang dikasihi itu kembali dalam pertobatan, betapa bersukacitanya Bapa di Surga, seperti sang Ayah dalam perumpamaan anak yang hilang. Yang ada hanya sukacita. Pengampunan Bapa yang bersumber dari kasih yang tak terbatas, melahirkan penerimaan yang tulus dalam kasih yang tiada henti, yang mampu menghapuskan segala kesalahan yang telah diperbuat si bungsu yang terhilang itu.

Pengampunan Bapa yang telah kita alami dalam hidup kita mengajarkan kepada kita makna kasih, yang menjadi dasar kehidupan termasuk dalam keluarga. Kita menyadari bahwa keluarga terdiri atas berbagai macam karakter yang berbeda, dan tentu saja tidak sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itu, tidak dapat dihindari munculnya kesalahan yang dapat melukai satu dengan yang lainnya. Ketika relasi antar pribadi yang berbeda sekaligus terbatas ini tidak terjalin dengan baik, tidak dapat saling mengasihi dengan tulus, tidak bersedia saling mengampuni, maka kehidupan bersama dalam keluarga akan menuju pada kehancuran. Akan tetapi ketika kasih dan pengampunan menjadi dasar kehidupan bersama maka indahlah relasi di dalam keluarga, yang saling mengasihi, saling mengampuni dan saling menerima apa adanya.

Pengampunan dan penerimaan yang ditunjukkan oleh Bapa kepada umat-Nya yang berdosa semestinya menjadi model relasi yang dilandasi oleh kasih yang sejati. Memang untuk dapat memiliki hati seperti Bapa, masih banyak jalan berliku yang harus dilalui. Kita kadang sulit mengampuni dan menerima, seperti si sulung yang kecewa karena pengampunan yang diterima si bungsu. Demikianlah ego manusia ketika hatinya tersakiti. Ego yang diliputi dendam memilih larut dalam amarah, padahal semestinya dapat bersyukur karena telah hidup menikmati kasih Illahi.

Sebagai umat kekasih Bapa, marilah kita belajar untuk memiliki hati-Nya yang penuh kasih dan pengampunan.