KETAATAN DAN KASIH PERSAUDARAAN SEBAGAI TANDA PERTOBATAN

Bacaan: I PETRUS 1:17-23

I PETRUS 1:18-19 menegaskan bahwa kemerdekaan kita bukan oleh karena usaha dan perjuangan kita. Kemerdekaan kita adalah anugerah. Kemerdekaan itu dibayar dengan harga yang teramat mahal karena bukan dengan emas dan bukan pula dengan perak. Kristus membayar dengan darah-Nya sendiri. Kita tidak bisa menyelesaikan urusan dosa dengan kekuatan kita sendiri, dan itu berarti bahwa kita tak akan pernah bebas, tak akan pernah merdeka tanpa pengurbanan Tuhan Yesus Kristus. Dengan darah Tuhan Yesus kita diperdamaikan dengan Allah dan dijadikan kepunyaan Allah. Karena Kristus sudah memerdekakan kita dan mengangkat kita dari lembah dosa, maka selayaknyalah kita tidak lagi hidup dalam dosa melainkan menanggalkan dosa-dosa kita dan cara hidup kita yang lama. Kita hidup dalam kehidupan yang baru. Continue reading

PENGAMPUNAN-NYA MEMBERI PENERIMAAN KEMBALI

Bacaan: LUKAS 15:11-32

Ketika kita mengalami kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tentu kita merasa sedih dan kecewa. Namun ketika yang hilang itu tiba-tiba ditemukan, tentu hati kita menjadi sangat bersukacita bukan? Demikianlah isi hati Bapa terhadap manusia yang jatuh ke dalam dosa, yang terhilang di antara umat yang dikasihi-Nya. Ketika anak yang dikasihi itu kembali dalam pertobatan, betapa bersukacitanya Bapa di Surga, seperti sang Ayah dalam perumpamaan anak yang hilang. Yang ada hanya sukacita. Pengampunan Bapa yang bersumber dari kasih yang tak terbatas, melahirkan penerimaan yang tulus dalam kasih yang tiada henti, yang mampu menghapuskan segala kesalahan yang telah diperbuat si bungsu yang terhilang itu.

Pengampunan Bapa yang telah kita alami dalam hidup kita mengajarkan kepada kita makna kasih, yang menjadi dasar kehidupan termasuk dalam keluarga. Kita menyadari bahwa keluarga terdiri atas berbagai macam karakter yang berbeda, dan tentu saja tidak sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itu, tidak dapat dihindari munculnya kesalahan yang dapat melukai satu dengan yang lainnya. Ketika relasi antar pribadi yang berbeda sekaligus terbatas ini tidak terjalin dengan baik, tidak dapat saling mengasihi dengan tulus, tidak bersedia saling mengampuni, maka kehidupan bersama dalam keluarga akan menuju pada kehancuran. Akan tetapi ketika kasih dan pengampunan menjadi dasar kehidupan bersama maka indahlah relasi di dalam keluarga, yang saling mengasihi, saling mengampuni dan saling menerima apa adanya.

Pengampunan dan penerimaan yang ditunjukkan oleh Bapa kepada umat-Nya yang berdosa semestinya menjadi model relasi yang dilandasi oleh kasih yang sejati. Memang untuk dapat memiliki hati seperti Bapa, masih banyak jalan berliku yang harus dilalui. Kita kadang sulit mengampuni dan menerima, seperti si sulung yang kecewa karena pengampunan yang diterima si bungsu. Demikianlah ego manusia ketika hatinya tersakiti. Ego yang diliputi dendam memilih larut dalam amarah, padahal semestinya dapat bersyukur karena telah hidup menikmati kasih Illahi.

Sebagai umat kekasih Bapa, marilah kita belajar untuk memiliki hati-Nya yang penuh kasih dan pengampunan.

KASIH KRISTUS : KEKUATAN YANG BARU BAGI KOMUNITAS YANG BARU

Bacaan: Yohanes 13:34-35

Perintah itu disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid sebelum Ia ditangkap kemudian dibawa kepada Pontius Pilatus, hingga peristiwa agung di Kalvari. Perintah baru bagi para murid-Nya saat itu, dan kepada kita, umatNya. Dalam setiap kesempatan, perintah itu terus dinyatakan kepada kita yaitu supaya kita saling mengasihi. Mengapa kasih? Karena kasih adalah identitas Allah yang paling sering Ia nyatakan, sebagaimana yang dipersaksikan dalam Injil Yohanes mengidentikkan Allah dengan kasih. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-21) Continue reading

KASIH KRISTUS: PENOPANG BAGI YANG LEMAH

Ketika kita menjadi pengikut Kristus, artinya kita menjadi domba-domba-Nya. Domba selalu mendengarkan dan mengikuti Sang Gembala, yaitu Kristus sendiri. Sang Gembala inilah yang menjadi sumber andalan bagi domba. Andalan dalam mencari jalan. Andalan dalam mencari makanan dan minuman. Andalan dalam menghadapi bahaya.

Satu hal pertama yang harus disadari si domba adalah fakta bahwa dia lemah dan perlu senantiasa bersandar kepada Gembalanya untuk hidup. Semangat inilah yang kita harus hayati dalam kehidupan kita, bahwa kita ini lemah dan membutuhkan kasih Kristus sebagai andalan dan penopang bagi kehidupan kita. Kita tidak boleh merasa mampu untuk menjalani kehidupan kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidupnya di masa depan. Hidup kita seperti uap, yang sebentar saja lenyap (Yakobus 4:14). Continue reading