PANGGILAN UNTUK MERAWAT MANUSIA

Bacaan: MATIUS 25:31-46

Dalam hidup yang serba modern dan bergerak dengan sangat cepat ini, tantangan terbesar yang sedang dihadapi oleh kemanusiaan adalah sikap egosentris. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), egosentrisme adalah sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala hal. Sikap egosentris ini ditandai dengan keengganan orang untuk melihat dan mendengarkan sudut pandang orang lain karena menurutnya hanya cara berpikirnyalah yang paling benar dan paling cocok untuk semua hal. Akibatnya, orang hanya sibuk dengan dirinya, kebutuhannya, hidupnya, ambisinya, bahkan mimpinya sendiri, tanpa mau terlibat untuk menolong sesamanya yang kesulitan. Continue reading

DOMBA YANG MENGENAL GEMBALANYA

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba- Ku dan domba-domba- Ku mengenal Aku.” -Yohanes 10:14-

Yesuslah gembala yang baik. Dia mengenal domba-domba- Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh 10:9,11) Continue reading

KAWANAN GEMBALA

26Bacaan: LUKAS 2:8-20

Natal membuat saya kembali teringat peristiwa beberapa tahun silam ketika saya bersama teman- teman serta anak-anak mengumpulkan dana dan barang-barang kebutuhan pokok untuk kami bawa ke sebuah panti asuhan. Kami kemudian merayakan Natal bersama anak-anak di panti asuhan tersebut. Semua orang yang ada di perayaan itu begitu bersukacita; bernyanyi, bermain, makan dan berbagi cerita bersama. Melihat wajah anak-anak dan saudara-saudara kami yang kurang beruntung itu tersenyum dan tertawa, membuat kami sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk merayakan Natal bersama mereka. Continue reading

IBADAHKU: MENGGEMBALAKAN ANAK ANAKKU

“Kata Yesus kepadanya: ‘Simon Anak Yohanes, Apakah engkau mengasihiku?…… gembalakanlah domba domba-Ku” Yohanes 21:16

Hatinya berkecamuk, pikirannya gelisah mengenang peristiwa malam itu. Malam terkutuk. Malam dimana ia sendiri telah menyangkali kekasih hatinya, Gurunya sendiri. Padahal dengan gagah ia sudah mengatakan akan ikut sampai mati. Ternyata, ia telah bertindak sebagai pengecut. Dan pagi itu, Petrus duduk berada bersama Yesus, guru yang telah ia sangkal malam itu. Yesus memanggil namanya dan bertanya sampai tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan Petrus menjawab tiga kali pula, hingga menangis “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Ada yang menarik dari teks ini, kenapa harus tiga kali? Secara pribadi, saya melihat ini sebagai bentuk pemulihan luka batin oleh Yesus kepada Petrus yang telah menyangkalnya tiga kali. Tiga kali sangkalan diganti dengan tiga kali pernyataan cinta. Pernyataan cinta direspon dengan sebuah panggilan bagi Petrus “Gembalakanlah domba-dombaku”. Continue reading