PANGGILAN UNTUK MERAWAT MANUSIA

Bacaan: MATIUS 25:31-46

Dalam hidup yang serba modern dan bergerak dengan sangat cepat ini, tantangan terbesar yang sedang dihadapi oleh kemanusiaan adalah sikap egosentris. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), egosentrisme adalah sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala hal. Sikap egosentris ini ditandai dengan keengganan orang untuk melihat dan mendengarkan sudut pandang orang lain karena menurutnya hanya cara berpikirnyalah yang paling benar dan paling cocok untuk semua hal. Akibatnya, orang hanya sibuk dengan dirinya, kebutuhannya, hidupnya, ambisinya, bahkan mimpinya sendiri, tanpa mau terlibat untuk menolong sesamanya yang kesulitan. Continue reading

DOMBA YANG MENGENAL GEMBALANYA

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba- Ku dan domba-domba- Ku mengenal Aku.” -Yohanes 10:14-

Yesuslah gembala yang baik. Dia mengenal domba-domba- Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh 10:9,11) Continue reading

KASIH KRISTUS: PENOPANG BAGI YANG LEMAH

Ketika kita menjadi pengikut Kristus, artinya kita menjadi domba-domba-Nya. Domba selalu mendengarkan dan mengikuti Sang Gembala, yaitu Kristus sendiri. Sang Gembala inilah yang menjadi sumber andalan bagi domba. Andalan dalam mencari jalan. Andalan dalam mencari makanan dan minuman. Andalan dalam menghadapi bahaya.

Satu hal pertama yang harus disadari si domba adalah fakta bahwa dia lemah dan perlu senantiasa bersandar kepada Gembalanya untuk hidup. Semangat inilah yang kita harus hayati dalam kehidupan kita, bahwa kita ini lemah dan membutuhkan kasih Kristus sebagai andalan dan penopang bagi kehidupan kita. Kita tidak boleh merasa mampu untuk menjalani kehidupan kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidupnya di masa depan. Hidup kita seperti uap, yang sebentar saja lenyap (Yakobus 4:14). Continue reading