FIRMAN TUHAN ADALAH KIDUNG SUKACITAKU HIDUPKU ADALAH KIDUNG SUKACITAKU BAGI-NYA

Photo by Álvaro Serrano on Unsplash

Bilangan 11 : 4-6, 10-16, 24-29

Suatu kali seorang pemilik toko ditanya tentang kabarnya menjawab “Aduh saya capek sekali, hari ini toko ramai sekali sampai tidak ada waktu istirahat, karyawan saya payah, lamban kerjanya, belum lagi pembeli banyak yang bertanya ini-itu tapi belinya hanya sedikit, pokoknya sangat melelahkan dan menjengkelkan!” coba perhatikan apakah ada yang aneh dengan jawaban itu? Bukankah seharusnya pemilik toko itu memilih untuk bersyukur karena banyak pelanggan yang datang ke tokonya dan karyawan yang masih mau bekerja walaupun mungkin kurang cepat seperti yang diharapkan, daripada mengeluh?

Tanpa sadar, orang seringkali mengeluh hal-hal buruk dalam hidup mereka seolah-olah tidak ada yang baik. Seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel yang telah Tuhan bebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka mengeluhkan roti manna yang Tuhan berikan. Kenapa? Karena mereka membandingkan berkat dan penyertaan Tuhan dengan kehidupan mereka sebagai budak yang dipelihara oleh bangsa Mesir. Karena itulah mereka kemudian ditegur oleh Tuhan.

Firman Tuhan yang menegur dan mengingatkan sesungguhnya adalah kidung sukacita bagi kita; karena sebagai anak, kita masih diperhatikan dan diingatkan, tidak diabaikan dan dibiarkan-Nya tersesat. Di sisi yang lain kita belajar untuk menjadi umat yang bersyukur dan menyatakannya dalam tindakan keseharian kita, sehingga syukur kita dapat menjadi kidung sukacita kita bagi Tuhan. Demikianlah halnya dengan kehidupan pelayanan dalam gereja, semestinya diisi dengan sukacita dan bukan keluhan atau bahkan permusuhan, sebab sesungguhnya Tuhan telah mempersatukan kita dalam tubuh gereja supaya kita dapat menyanyikan kidung sukacita secara bersama dalam harmoni yang indah. Marilah kita nikmati firman Tuhan sebagai kidung sukacita kita, dan biarlah hidup kita menjadi kidung sukacita bagi kemuliaan Nama Tuhan. (LAAS)

KALAHKAN TAKUT, JADILAH BERKAT

Pada suatu sore, hujan turun dengan sangat lebat. Saya berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang membelah hujan yang begitu derasnya itu. Segala sesuatu di luar mobil tampak hanya seperti bayangan yang bergerak-gerak tanpa makna. Hingga mata saya terpaku pada sebuah pemandangan yang hingga kini tidak saya lupakan.

Ada sesosok Kakek yang duduk di tepi trotoar, sendirian, tanpa payung ataupun sesuatu yang melindungi tubuhnya dari terpaan angin dan hujan. Basah kuyup dan tentunya kedinginan. Hati saya tergerak oleh pemandangan itu, namun cukup hanya tergerak saja. Saya tidak melakukan apa-apa. Dan begitu sesosok Kakek yang kedinginan itu hilang dari pandangan, barulah mata saya basah oleh air mata. Bukan, bukan air mata karena kasihan, namun air mata penyesalan, air mata yang menangisi diri saya sendiri. Seorang manusia yang bisa dengan egoisnya menikmati kenyamanan. Continue reading

UGAHARI SEJAK DINI

Bacaan: LUKAS 12:13-21

Bill Gates pendiri perusahaaan peranti lunak Microsoft merupakan salah satu dari jajaran orang terkaya di dunia. Satu hal yang menarik dari Bill Gates adalah apa yang dilakukannya dalam mengelola kekayaannya. Pada Tahun 2008, Bill Gates memutuskan untuk mengundurkan diri dari manajemen Microsoft, dan memilih untuk mendirikan Yayasan Sosial dan diberinya nama Bill and Melinda Gates Foundation yang bergerak di bidang kemanusiaan. Pada tahun 2014 Bill dan Melinda Gates telah mendonasikan hartanya sekitar US$ 2,6 miliar untuk melawan penyakit dan membangun pendidikan di seluruh penjuru dunia. Apa yang mereka lakukan didasari oleh nilai hidup yang ingin berkontribusi menjadikan dunia yang lebih baik. Continue reading

KEMURAHAN HATI

12Bacaan : II KORINTUS 9:1-15

Beberapa waktu lalu saat bencana asap melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan ribuan orang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), bantuan dari berbagai daerah berdatangan. Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI), yaitu sebuah lembaga kemanusiaan untuk membantu korban bencana yang dibentuk Sinode GKI, ikut terjun ke lapangan dengan menggandeng gereja lokal untuk membagikan masker dan memberikan bantuan yang dibutuhkan. Jemaat GKI Coyudan juga ikut memberikan sumbangan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang menderita karena bencana tersebut. Continue reading