KELUARGA YANG BERAKSI: BERTUMBUH DAN MENGHASILKAN BUAH

Bertumbuh dan menghasilkan buah, itulah yang Tuhan inginkan terjadi dalam
kehidupan kita sebagai umat-Nya. Pertanyaan pentingnya : BERBUAH untuk
siapa?

Dalam kitab Yesaya 5:1-7, dengan jelas ditunjukkan bagaimana Tuhan sesungguhnya mengharapkan kebun anggur itu menghasilkan buah-buah anggur yang manis. Berbuahlah kebun anggur itu, tetapi buah asam yang dihasilkannya. Gambaran ini menceritakan tetang Yerusalem (ibu kota Kerajaan Israel Selatan) dan orang Yehuda yang hidupnya jauh dari harapan Tuhan. Tuhan mengharapkan yang baik (keadilan dan kebenaran) muncul di sana, tetapi justru keburukan (kelaliman dan keonaran) yang dihasilkan. Continue reading

BERBUAT, TAK SEKADAR BERTOBAT

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6)

 

Suatu hari seorang pemilik toko merasakan ada yang tidak beres dengan persediaan barang-barang yang dijualnya. Sebagian barang tidak ada padahal tidak ada catatan penjualan untuk barang tersebut. Dia menduga ada pekerjanya yang mencuri barang-barang tersebut, namun belum ada bukti siapa yang melakukannya. Setelah mengamat-amati beberapa hari, kecurigaannya terfokus pada dua orang.

Akhirnya, dua orang ini dipanggil dan pemilik toko bercerita bahwa toko itu dibangun dengan susah payah. Banyak orang yang menyandarkan hidupnya pada toko itu, karena banyak pekerja dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari toko itu. Tetapi akhir-akhir ini sering ada barang-barang yang hilang. Kalau hal ini terjadi terus menerus maka toko bisa tutup dan puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan. Kasihan keluarganya. “Apakah kalian tahu, siapa kira-kira yang mencuri?” tanya pemilik toko.

Dengan tertunduk, dua pekerja ini mengakui perbuatannya dan mohon bisa tetap bekerja di toko itu. Dan, pemilik toko memaafkannya. Tapi suatu ketika masih ada barang yang hilang. Akhirnya pemilik toko memecat satu pekerja yang pernah dipanggilnya. Sedangkan yang satunya lagi tetap bekerja bahkan menjadi kepercayaan pemilik toko. Mengapa? Karena dia telah bertobat dan menjadi lebih rajin bekerja serta menjaga barang-barang milik majikannya dengan baik, termasuk melaporkan pencurian yang dilakukan temannya. Sedangkan yang dipecat, walaupun sudah bertobat tapi perilakunya tidak berubah, bahkan dia terbukti masih mencuri.

Perilaku kita kadang sama dengan pencuri di toko itu. Kita telah berbuat dosa, mengakui dosa kita, dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, tetapi hidup kita tidak menunjukkan perubahan, bahkan masih berbuat dosa. Pengorbanan Yesus, siksaan, hinaan, cacian, bahkan penyaliban-Nya seolah tidak ada artinya sehingga manusia masih terus berbuat dosa. Maka, akan ada saatnya bagi mereka yang tidak berbuah untuk dicampakkan, seperti dalam perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9).

Masih ada waktu bagi kita untuk mencari dan berseru kepada Tuhan selama Ia bisa ditemui: untuk bertobat, mohon ampun dan hidup baru dengan meninggalkan hidup lama yang tidak berkenan kepada-Nya. Pertobatan harus dinyatakan dengan perubahan hidup, hidup yang mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita. Buah-buah roh harus terlihat untuk menunjukkan bahwa memang kita adalah anak-anak Allah, anak-anak terang. Barang siapa yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, akan diselamatkan. Iman percaya itu harus dinyatakan melalui perbuatan yang baik, seperti yang Allah kehendaki. (ss)