HIDUP DALAM KESEDERHANAAN

Bacaan: KELUARAN 16:1-36

Dalam sebuah obrolan santai dengan beberapa teman, ada seseorang diantara mereka yang melontarkan pertanyaan, “Apa perasaan yang paling sulit menurut kalian untuk dikendalikan?” Jawabannya beragam, tetapi ada satu jawaban yang saya rasa menarik, yaitu rasa cukup. Saya rasa apa yang ia katakan itu benar, apalagi di dunia sekarang yang akan dengan mudah membuat kita menjadi masyarakat konsumtif. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak, dan banyak diantaranya bukan karena fungsi atau kegunaannya melainkan karena gengsi. Continue reading

ANAKKU BERKARYA DALAM KERELAAN UNTUK BERBAGI

Bacaan: Yohanes 6 : 9

Ada seorang anak berusia enam tahun, dan dalam usia ini sangat terbilang kecil. Pada suatu hari, ia mengunjungi sebuah kedai es krim dengan berpakaian sederhana. Kemudian anak itu mendekati pramusaji yang sedang menjual es krim itu dan bertanya, “berapa harga es krim ukuran sedang ini?“ Lima ribu rupiah, begitulah jawab si pramusaji itu. Kemudian sang anak mengambil uang receh dari kantongnya dan menghitung satu persatu uang itu. Beberapa lama kemudian anak itu bertanya lagi pada pramusaji, “berapa harga es krim ukuran kecil ini?” kembali pramusaji menjawab anak itu dengan raut muka setengah marah, “Tiga ribu rupiah”. Ia marah karena di belakang anak ini sedang mengantri orang-orang yang berpakaian rapi. Kembali anak itu menghitung uang receh di tangannya dan kemudian ia berkata pada Pramusaji bahwa saya mau membeli es krim ukuran kecil. Setelah semua pengunjung es krim itu pergi meninggalkan tempat makannya dan pada saat pramusaji mengangkat piring bekas makan si anak itu, ia melihat ada dua ribu rupiah yang di tinggalkan si anak itu. Pramusaji sangat terkejut dan berkata dalam hatinya, sesungguhnya anak itu bisa membeli es krim seharga lima ribu rupiah, namun karena ia hendak memberi tips pada saya, maka anak itu mengurungkan niatnya untuk tidak membeli es krim yang seharga lima ribu rupiah. Inilah kisah seorang anak yang mau memberi dalam kerelaan. Mungkin bagi kita, kisah anak kecil ini sangat mustahil terjadi. Namun bagi Tuhan, segala sesuatu tidak ada yang mustahil. Continue reading

ANAKKU BERKARYA DALAM KETAATAN

Bacaan: Kejadian 22 : 1-19

Berbicara ketaatan tidaklah sukar, tetapi hidup di dalam ketaatan itu sukar. Menaati Allah seringkali menjadi pergumulan karena dalam proses itu dibutuhkan pengorbanan yaitu menyerahkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan, sesuatu yang sangat kita banggakan, atau seseorang yang sangat kita kasihi.

Bagi Abraham, Ishak adalah anak yang sangat diinginkannya. Berpuluh-puluh tahun dia dinanti dan dikasihi tentu bukan perkara yang gampang untuk menyerahkannya sebagai kurban. Namun, dalam pergumulannya yang tidak sederhanan itu, Abraham memutuskan untuk bersikap taat kepada Allah. Abraham mengajak Ishak dan membawa semua perlengkapan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Abraham berjalan ke Gunung Mori. Keputusan untuk taat kepada perintah Allah, sekalipun tentu tidak mudah bagi Abraham. Continue reading

ANAKKU BERKARYA, MENJADI PANUTAN BAGI SESAMA

Bacaan: Kisah Para Rasul 16 : 1-5; II Timotius 1 : 1-14

Nama Timotius sudah tidak asing di telinga kita. Ya, dia adalah anak rohani rasul Paulus. Timotius sudah mengetahui Kitab Suci sejak masa kanak-kanak dari neneknya (Lois) dan ibunya (Eunike). Ayah Timotius memang orang Yunani, tetapi ibunya seorang Yahudi yang sudah percaya pada Kristus (Kis 16:1). Iman Timotius tidak otomatis bertumbuh sendiri, tetapi jelas bahwa ibu dan neneknya yang mendidik dan mewariskan iman dan kebenaran Firman Tuhan kepadanya. Paulus melihat iman Timotius yang tulus ikhlas sehingga sejak muda Timotius sudah diajak menyertai Paulus dalam pelayanan mengabarkan berita injil. Akhirnya Timotius menjadi penerus Paulus dan dipakai Tuhan untuk menggembalakan jemaat di Efesus. Continue reading