TUNTUNAN ALLAH

Photo by Tegan Mierle on Unsplash

Setiap manusia mengalami tuntunan Allah dalam hidupnya. Tuntunan Allah melalui semua pengalaman dan perjalanan hidup manusia. Suka dan duka datang silih berganti untuk membuat semakin merasakan tuntunan Allah yang selalu ada. Bagaimana dengan perjalanan hidup saudara hingga hari ke-6 di tahun 2019 Ini? Mungkin ada sebagian kita yang merasakan senang, sedih, kecewa, ragu, atau gamang memasuki tahun 2019. Ada begitu banyak pengalaman yang sedang mewarnai hari-hari perjalanan hidup kita. Namun apakah kita tetap merasakan tuntunan Tuhan hingga saat ini?

Continue reading

BERTEKUN DALAM PANGGILAN

Photo by Tomasz Woźniak on Unsplash

Seorang pelari dalam lomba Olimpiade cabang Marathon pada musim panas tahun 1968 di Mexico City; dia memasuki garis finish pada urutan terakhir ketika para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku yang sudah kosong, tetapi tiba-tiba para penonton yang masih tinggal di situ mendengar pengumuman bahwa masih ada pelari yang akan masuk ke garis finish di stadion itu.

Penonton dikejutkan oleh seorang pelari yang memasuki stadion dengan terpincang-pincang karena kakinya terluka; dengan pakaian lari serta nomor peserta di dadanya, dia berlari tertatih menahan sakitnya. Pada kilometer ke 19 ia terjatuh mendapatkan cedera pada betis dan lututnya. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut seadanya. dan tetap melanjutkan larinya sejauh sejauh 23 km.

Dari 75 peserta tersisa sampai pada garis finish sebanyak 57 orang, dan John Stephen Akhwari, perwakilan Tanzania yang kakinya terluka itu salah satunya. Dalam sebuah wawancara seorang wartawan bertanya kepadanya “Mengapa anda tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang ?!”, dia menjawab dengan sangat sederhana, “My country didn’t sent me to start the race, but they sent me to finish the race.” (Negaraku tidak mengutus aku untuk memulai
pertandingan, tetapi menyelesaikan pertandingan).

Kesadaran akan panggilannya sebagai perwakilan negara membuat John Stepehen Akhwari bertekun untuk menyelesaikan perlombaan sekalipun dia harus tertatih dan berlari dengan langkah-langkah kecilnya sampai garis finish. Dan ketekunannya itu membuahkan pujian dan kekaguman banyak orang sekalipun dia hanyalah seorang peserta terakhir yang memasuki garis finish.

Demikian halnya memenuhi panggilan kita sebagai murid Kristus, diperlukan ketekunan dan kesadaran penuh bahwa kita ini adalah utusan-utusan Tuhan yang sedang mengikuti perlombaan iman, yaitu untuk terus melakukan segala sesuatu dengan mengenakan KASIH sebagai dasar dan pengikat setiap perbuatan kita terhadap sesama.

Memang tidak mudah, terkadang kita tersakiti, terjatuh karena kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain. Tetapi bertekunlah terus untuk tetap mengasihi dan hidup dalam kasih Kristus sampai perlombaan kita berakhir mencapai garis finish. Maka pujian bukan datang dari manusia, tetapi dari Tuhan. Selamat bertekun, Tuhan Yesus memberkati. Amin (LAAS)

SALING MENJUMPAI, SALING MENEGUHKAN

Image from NPR

Pada tahun 1975, seorang anak bernama Eddie Vernon bersaksi tentang
pembunuhan yang mengakibatkan seorang pria bernama Jackson masuk penjara. Karena kesaksiannya, Jackson ditangkap dan dihukum penjara selama 39 tahun. Seiring berjalannya waktu, Eddie Vernon yang beranjak dewasa merasa dihantui rasa bersalah karena telah memberikan kesaksian yang tidak benar. Ia disarankan oleh pendetanya untuk berkata jujur kepada Jackson. Tahun 2014, Vernon menemui Jackson yang telah dibebaskan. Ia memohon maaf atas kesaksiannya yang salah dan membuat Jackson dipenjara. Diluar dugaan Jackson memeluk Vernon dan mengatakan, “Tidak apa-apa, kita berdua adalah korban dalam kejadian itu, aku memaafkanmu.” Respon Jackson membuat Vernon menangis. Perjumpaan itu mengubah ketakutan Vermon menjadi pemulihan yang mendamaikan.

Perjumpaan Maria dengan Elisabet juga memberikan kekuatan tersendiri bagi Maria. Sebagai seorang gadis yang mengandung sebelum pernikahan merupakan masalah besar pada masa itu. Jika ayah anak yang dikandungnya tidak bersedia menikahinya, maka gadis itu kemungkinan besar tidak akan menikah seumur hidupnya dan harus membesarkan anaknya seorang diri serta dikucilkan oleh masyarakat. Dan Maria mengandung oleh Roh Kudus, sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami oleh manusia. Tetapi ketika Elisabet berjumpa dengan Maria, melonjaklah anak di dalam rahimnya dan Elisabet penuh dengan Roh kudus karena itu ia berseru dengan nyaring “Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku.” Perkataan Elisabet ini pasti sangat mengagetkan bagi Maria, sekaligus memberi kekuatan dan peneguhan.

Setiap orang pasti memiliki pergumulan hidupnya masing-masing,
termasuk juga kita. Ada kalanya kita belum mengerti maksud Tuhan dalam pergumulan yang dialami. Perjumpaan dalam persekutan dapat menguatkan kita dalam pergumulan hidup. Dalam perjumpaan kita bisa saling memberikan penghiburan, kekuatan, dan peneguhan. Setiap kita dipanggil untuk saling mengasihi, sebagaimana Tuhan Yesus telah mengasihi kita. Biarlah di dalam persekutuan kasih yang kita bangun, setiap orang yang ada di dalamnya dapat saling menguatkan dan meneguhkan di dalam Kasih Kristus. (LKSI)

JAGA HATI AGAR TETAP DAMAI

Image from Nerdist

Inside Out adalah sebuah film animasi yang unik buatan Disney-Pixar. Film ini berkisah tentang lima emosi yaitu Joy (Sukacita), Sadness (kesedihan), Anger (kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan) dalam diri seorang perempuan bernama Riley. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana gejolak hidup Riley yang berasal dari dialog lima emosi itu. Jika si Joy yang memegang kendali maka Riley akan tersenyum. Tetapi jika si Anger yang mengambil alih, Riley akan segera marah. Begitu pula jika semua emosi saling berebut kendali maka Riley akan gundah gulana.

Gambaran fantasi dari film itu mengingatkan tentang hati (nurani) kita yang sering mengendalikan kita untuk ikut larut dalam emosi di hati. Kitab Amsal beberapa kali menyebut hati sebagai pusat kehidupan manusia. Beberapa diantaranya: “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan” (Ams 4:23); “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”(Ams 15:13); “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu” (Ams 27:19); “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30). Semua merujuk bahwa hati adalah pusat kehidupan manusia dan harus dijaga. Kenapa dijaga? Sebab hati terkait dengan reaksi kita dalam kehidupan ini.

Kadang memori dan pengalaman hidup yang tidak baik dapat membuat hati bergejolak menjadi takut, cemas, iri, bahkan marah. Ada kalanya kita membiarkan hati kita larut dalam gejolak itu dan kita membiarkan dikendalikan olehnya. Karena itulah menjaga hati sebuah panggilan kita dalam perjalanan iman ini. Hati yang kacau akan membuat kita kehilangan arah. Dalam masa penantian adven ketiga ini, kita kembali diingatkan tentang hati. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita dapat memperjuangkan hati ini dalam posisi yang benar, sehingga hati kita tetap dalam damai sejahtera Allah. (DKG)