TULUS ATAU MUNAFIK?

Photo by Patrick Fore on Unsplash

MARKUS 12 : 38-44

Waktu saya pertama kali datang ke tempat pekerjaan baru, saya disambut oleh seorang yang menawarkan dirinya untuk membantu saya mengenal kondisi sebagai kawan. Sebagai orang baru dan belum mengenal situasi di tempat itu, saya sangat senang akan bantuan itu. Sikapnya dan tutur katanya baik. Tak disangka dibalik uluran tangannya, ternyata ada agenda tersembunyi. Dia berpura-pura berkawan untuk mencari kelemahan saya dan membicarakannya di belakang. Dengan begitu ia berusaha menjatuhkan nama baik saya di kalangan rekan-rekan yang lain.
Mengecewakan, ternyata dibalik kata ‘kawan’ ada ‘lawan.’ Sikap yang munafik.

Munafik berarti berpura-pura. Yesus sangat tidak suka dengan sikap munafik. Berulang kali dia mengkritik ahli-ahli Taurat yang menunjukkan sikap itu. Dalam bacaan Injil Markus 12 : 38-44, Yesus mengkritik kembali sikap ahli Taurat yang suka menunjukkan simbol kehormatan sebagai orang ‘suci’ dengan berjubah panjang dan doa-doa di depan umum, seolah semua dilakukan tulus untuk Tuhan, tetapi dibalik itu mereka melakukan demi nama baik mereka. Ahli Taurat berpura-pura baik dan tulus demi nama Tuhan padahal dilakukan demi nama mereka sendiri.

Yesus kemudian membandingkan mereka dengan seorang janda miskin. Yesus memperhatikan ia yang sedang memberikan dua peser atau satu duit sebagai persembahan. Itu jumlah yang sangat sedikit bagi orang yang mampu, tapi tidak dengan si janda itu yang sehari-sehari hidup berkekurangan. Janda itu bisa saja memberikan satu daripada dua peser, tetapi ia memilih memberikan dua peser, sebab ia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Tidak ada agenda lain selain ingin menunjukkan rasa syukurnya.

Hati yang tulus akan terlihat dari tindakan yang baik dan itu akan memberikan dampak yang baik. Sebaliknya, jika kita berbuat dengan hati yang munafik, maka sebaik apapun yang kita lakukan akan berdampak tidak baik. (DKG)

SAYA AKAN BAHAGIA JIKA …

ULANGAN 6: 1-9

Saya akan bahagia jika sudah punya rumah sendiri.
Saya akan bahagia jika sudah punya gaji yang banyak.
Saya akan bahagia jika seluruh keluarga sudah memiliki asuransi.
Saya akan bahagia jika saya punya mobil.
Saya akan bahagia jika sudah memiliki pasangan hidup.
Saya akan bahagia jika …

Masih banyak daftar yang bisa kita pikirkan dan tuliskan, hal-hal apa yang sekiranya akan membuat kita bahagia. Sekarang pertanyaannya, apa sumber utama kebahagiaan kita? Jika kita tidak mengalami kesenangan, tidak merasakan cinta, tidak sedang hidup dalam kegembiraan. Mungkinkah kita mampu berbahagia? Bacaan kita di Ulangan pasal 6 mengandung Janji Tuhan : “… supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlmpah-limpah susu dan madunya.” (ayat 3) Sekaligus juga syarat untuk mengalami Janji Tuhan tersebut, yaitu: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ayat 4).

Di ayat-ayat selanjutnya, jelas sekali bahwa Tuhan menjanjikan “supaya baik keadaanmu” apabila kita melakukan apa yang Dia perintahkan kepada kita. Perintah-perintah-Nya ada di seluruh bagian Alkitab. Tapi perintah atau hukum yang terutama sekali lagi diingatkan di dalam Injil Markus pasal 12: 29-31, yaitu agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan kita. Serta untuk kita mengasihi sesama kita seperti diri sendiri.

Hukum yang utama dan terutama tersebut sudah begitu ‘familiar’ bagi kita. Sudah sering kita dengar, baca, hafal, bahkan sampai kutip ayat Alkitabnya. Kita bahkan fasih menceritakan kepada sesama kita. Semua itu baik. Yang perlu kita lakukan adalah menghidupinya, secara sadar, hari lepas hari, setiap saat setiap waktu. Kita terus periksa diri : “Sudahkah aku mencintai Tuhan melalui tindakanku? Lewat perkataanku? Melalui pemikiranku? Sudahkah aku mencintai sesama melalui tindakanku? Lewat perkataanku?Melalui pemikiranku?” (NOV)

Kebahagiaan yang sejati hadir ketika kasih Kristus kita alami dan ketika kasih Kristus kita amali.

MERENGKUH YANG LEMAH

Photo by Katolisitas

Markus 10 : 46-52

Bartimeus, seorang yang mengalami kelemahan secara fisik yakni tidak bisa melihat. Kebutaan membuat Bartimeus terpaksa hidup meminta-minta karena pada saat itu sebagian besar pekerjaan membutuhkan pekerja fisik, sehingga orang-orang seperti Bartimeus tidak mempunyai peluang untuk mendapat pekerjaan.

Kelemahan Bartimeus juga membuatnya mengalami kelemahan status sosial tentunya sebab pasa masa itu, masyarakat menganggap buta sebagai penyakit dosa. Namun ternyata Bartimeus tidak mengalami kelemahan secara rohani. Ayat 47: “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Anak Daud merupakan sebutan populer Yesus sebagai Mesias karena dalam nubuat nabi, Mesias adalah seorang keturunan Daud. Fakta bahwa Bartimeus menyebut Yesus, Anak Daud, menunjukkan bahwa ia mengenal Yesus sebagai Mesias dan ia berseru meminta pertolongan Tuhan Yesus. Mata jasmaninya buta tetapi mata rohaninya melihat Yesus sebagai Mesias yang mampu untuk memberikan pertolongan. Tuhan Yesus mengasihi Bartimeus yang memiliki kelemahan fisik dan status sosial. Karena belas kasihan, Tuhan Yesus berkenan untuk menyembuhkan Bartimeus.

Dalam kehidupan bersama di tengah keluarga kita maupun di tengah keluarga besar GKI Coyudan, tidak semua dari kita adalah orang-orang yang kuat. Ada diantara kita saudara-saudara yang mengalami kelemahan. Pertanyaannya: bagaimanakah sikap kita terhadap mereka? Entah mereka yang lemah secara fisik, lemah status sosialnya, lemah ekonominya, bahkan juga lemah imannya. Selayaknya kita memandang mereka seperti Yesus memandang mereka, kita memiliki hati seperti hati Yesus sehingga kita
akan bertindak sama seperti tindakan Yesus. (MS)

Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri (Roma 15 : 1).

KELUARGA YANG MELAYANI

Photo by Kaitlyn Horton on Unsplash

Markus 10 : 35-45

Siapakah yang memegang otoritas dalam rumah Anda? Apakah suami yang dominan? Atau istri yang memegang kendali? Kalau masih bingung menjawabnya coba ingat-ingat nasehat ibu anda saat menjelang pernikahan dulu. Biasanya ibu akan mengatakan suamilah yang harus memegang kendali (kepada anaknya yang laki-laki). Tetapi ibu yang sama bisa berkata seorang isterilah yang baik harus mengatur keperluan rumah tangga (jika yang dinasehati adalah anaknya perempuan). Apa artinya? artinya standar kepemimpinan dalam keluarga menjadi begitu relatif tergantung kepada siapa kita bertanya dan sesuai tradisi masing-masing.

Sebagai orang percaya, kita sepatutnya menjawab bahwa Allah lah yang menjadi kepala atas rumah tangga kami. Ya, rumah adalah tempat dimana otoritas Allah bekerja secara utuh dan penuh. Apa maksudnya? Alkitab mencatat bahwa langit adalah tahta Allah, bumi adalah tumpuan kakinya, dan rumah Allah (yang didirikan di keluarga-keluarga beriman) adalah tempat perhentian-Nya.

Jadi di dalam rumah kita, Allah bukanlah tamu yang diundang manakala diperlukan dan disuruh pergi manakala kita ingin sendiri. Allah adalah dasar sekaligus pusat bangunan dan otoritas rumah tangga yang benar. Otoritas Allah yang harus ditegakkan di dalam rumah didasarkan pada kasih dan hormat antar anggota keluarga dalam rangka melayani.

Otoritas Allah diberikan kepada suami untuk mengasihi istri dan anak-anaknya dengan total sama seperti mengasihi Allah, sama seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Suami juga berfungsi sebagai imam untuk menguduskan istri dan anak-anak, supaya istri dan anak-anaknya menjadi cemerlang di hadapan Allah dan sesama. Itu berarti suami harus menjadi teladan sikap yang benar bagi istri dan anak-anaknya.

Otoritas bagi sang istri adalah penolong sepadan bagi suami yang memainkan peran kudusnya untuk mengajarkan kepada anak untuk saling menghormati dan mengasihi sama seperti kepada Tuhan, cakap dalam mengatur kebutuhan rumah tangga, dan menjadi menolong suami untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya (Amsal 31 : 10-30).

Itulah otoritas yang diberikan Allah atas rumah tangga orang beriman supaya terjalin hidup yang melayani. Sungguh, ketika otoritas Tuhan dihadirkan, maka rumah akan dipenuhi oleh kasih dan hormat, cinta dan pujian. Disanalah Allah akan diam dan menjadikan rumah kita tempat perhentian-Nya yang kudus. (JM)