ANAKKU BERKARYA DALAM KETAATAN

Bacaan: Kejadian 22 : 1-19

Berbicara ketaatan tidaklah sukar, tetapi hidup di dalam ketaatan itu sukar. Menaati Allah seringkali menjadi pergumulan karena dalam proses itu dibutuhkan pengorbanan yaitu menyerahkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan, sesuatu yang sangat kita banggakan, atau seseorang yang sangat kita kasihi.

Bagi Abraham, Ishak adalah anak yang sangat diinginkannya. Berpuluh-puluh tahun dia dinanti dan dikasihi tentu bukan perkara yang gampang untuk menyerahkannya sebagai kurban. Namun, dalam pergumulannya yang tidak sederhanan itu, Abraham memutuskan untuk bersikap taat kepada Allah. Abraham mengajak Ishak dan membawa semua perlengkapan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Abraham berjalan ke Gunung Mori. Keputusan untuk taat kepada perintah Allah, sekalipun tentu tidak mudah bagi Abraham. Continue reading

BERBUAT, TAK SEKADAR BERTOBAT

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6)

 

Suatu hari seorang pemilik toko merasakan ada yang tidak beres dengan persediaan barang-barang yang dijualnya. Sebagian barang tidak ada padahal tidak ada catatan penjualan untuk barang tersebut. Dia menduga ada pekerjanya yang mencuri barang-barang tersebut, namun belum ada bukti siapa yang melakukannya. Setelah mengamat-amati beberapa hari, kecurigaannya terfokus pada dua orang.

Akhirnya, dua orang ini dipanggil dan pemilik toko bercerita bahwa toko itu dibangun dengan susah payah. Banyak orang yang menyandarkan hidupnya pada toko itu, karena banyak pekerja dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari toko itu. Tetapi akhir-akhir ini sering ada barang-barang yang hilang. Kalau hal ini terjadi terus menerus maka toko bisa tutup dan puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan. Kasihan keluarganya. “Apakah kalian tahu, siapa kira-kira yang mencuri?” tanya pemilik toko.

Dengan tertunduk, dua pekerja ini mengakui perbuatannya dan mohon bisa tetap bekerja di toko itu. Dan, pemilik toko memaafkannya. Tapi suatu ketika masih ada barang yang hilang. Akhirnya pemilik toko memecat satu pekerja yang pernah dipanggilnya. Sedangkan yang satunya lagi tetap bekerja bahkan menjadi kepercayaan pemilik toko. Mengapa? Karena dia telah bertobat dan menjadi lebih rajin bekerja serta menjaga barang-barang milik majikannya dengan baik, termasuk melaporkan pencurian yang dilakukan temannya. Sedangkan yang dipecat, walaupun sudah bertobat tapi perilakunya tidak berubah, bahkan dia terbukti masih mencuri.

Perilaku kita kadang sama dengan pencuri di toko itu. Kita telah berbuat dosa, mengakui dosa kita, dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, tetapi hidup kita tidak menunjukkan perubahan, bahkan masih berbuat dosa. Pengorbanan Yesus, siksaan, hinaan, cacian, bahkan penyaliban-Nya seolah tidak ada artinya sehingga manusia masih terus berbuat dosa. Maka, akan ada saatnya bagi mereka yang tidak berbuah untuk dicampakkan, seperti dalam perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9).

Masih ada waktu bagi kita untuk mencari dan berseru kepada Tuhan selama Ia bisa ditemui: untuk bertobat, mohon ampun dan hidup baru dengan meninggalkan hidup lama yang tidak berkenan kepada-Nya. Pertobatan harus dinyatakan dengan perubahan hidup, hidup yang mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita. Buah-buah roh harus terlihat untuk menunjukkan bahwa memang kita adalah anak-anak Allah, anak-anak terang. Barang siapa yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, akan diselamatkan. Iman percaya itu harus dinyatakan melalui perbuatan yang baik, seperti yang Allah kehendaki. (ss)

IKUTILAH TELADAN TOKOH IMAN, SAAT HIDUP PENUH PERSOALAN

Bahan Bacaan : Kejadian 15:1-18

 

Pengalaman menunggu kelahiran adalah pengalaman yang membangun kesabaran dalam diri setiap orangtua. Selama 9 bulan dikandung, ditambah beberapa hari menjelang kelahiran membuat hati setiap orang tua harap harap cemas. Di sisi lain, juga ada pasangan yang harap harap cemas menanti hadirnya buah hati, segala cara dan tindakan medis dilakukan demi hadirnya buah hati di dalam kandungan.

Perasaan Abraham mungkin tidak jauh berbeda dengan contoh-contoh di atas. Abraham dan Sara harap harap cemas. Tuhan memberi janji kepada Abraham, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” (Kej 12:2). Namun, setelah tahun-tahun berlalu, Abraham mempertanyakan bagaimana mungkin janji itu terpenuhi tanpa adanya seorang anak laki-laki, apalagi usia yang sudah tua (kej 15:2). Namun, Allah kembali meyakinkan Abraham bahwa anak kandung Abraham yang akan menjadi ahli warisnya.

Allah begitu memahami persoalan yang tengah dihadapi Abraham dan melakukan perkara dalam kehidupannya.  Iman dan kebenaran dinyatakan melalui kehidupan Abraham karena :

  1. Hati Abraham terarah kepada Allah dalam kepercayaan, ketaatan dan penyerahan yang tetap. Abraham mendengar dan melakukan yang Tuhan perkatakan dalam kehidupannya.
  2. Allah melihat sikap hati Abraham yang beriman dan Allah memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran. Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham, dengan ini Abraham menerima Allah sebagai perisai dan upahnya.

Sekalipun usianya semakin bertambah tua, Abraham tetap percaya kepada Allah, sehingga ia disebut orang benar (ayat 6). Persoalan yang dihadapainya tidak membuatnya menjadi putus asa, namun ia tetap menanti selama 25 tahun sampai penggenapan lahirnya Ishak. Dalam Lukas 13:31-35, Teladan iman juga ditunjukkan Tuhan Yesus ketika orang farisi berusaha mengusir Tuhan Yesus secara tidak langsung dari Yerusalem, namun Tuhan Yesus dengan sikap ketegasan dan keberanian tetap berkarya menyelesaikan tugasnya untuk menyatakan keselamatan bagi dunia sekalipun diperhadapkan dengan tantangan dan persoalan. Bagaimanakah dengan kita? Sikap seperti apa yang yang kita miliki disaat menghadapi tantangan dan persoalan? Marilah kita meneladani Abraham yang memiliki kepercayaan, ketaatan dan iman kepada Allah serta seperti Tuhan Yesus yang berani berkarya bagi BapaNya sekalipun diperhadapkan dengan persoalan. Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita untuk tetap beriman ditengah persoalan hidup kita. Amin. (DA)

ADVEN I : “MENANTI DENGAN SEDERHANA, SAHAJA, DAN BIJAK”

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” (LUKAS 21:34)

Memasuki bulan Desember biasanya ada yang beda. Dalam suasana dingin karena hujan, di setiap rumah sudah mulai dipasang pohon natal beserta hiasan lampu yang kerlap-kerlip. Di tempat-tempat ramai seperti mal, hotel, pertokoan, kemeriahan menyambut Natal sangat terasa. Semuanya ingin menyambut hari Natal dengan sebuah sukacita. Seolah ingin mengungkap bahwa peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus harus ditandai dengan suasana gemerlap dan kegembiraan.
Continue reading