MEMBANGUN KEBIASAAN UNTUK BERSATU DALAM UNTUK PERBEDAAN

Photo by rawpixel on Unsplash

Menjelang 70 Tahun GKI Coyudan

Ada banyak analogi mengenai persatuan dalam perbedaan. Barisan pasukan tentara yang terdiri dari ratusan pribadi yang berbeda tetapi dapat rapi tersusun dan bergerak melangkah seirama. Pelangi yang tersusun dari pendaran cahaya dengan warna yang berbeda begitu indah terbujur di langit, menciptakan pemandangan yang luar biasa. Bahkan, Rasul Paulus menggunakan banyak anggota satu tubuh saling menopang untuk bergerak dan melangkah; menggambarkan kehidupan kesatuan gereja dengan beragam individu di dalamnya.

Rasanya kita sudah terlalu sering mendengar tema persatuan dalam perbedaan ini. Tetapi kenapa ini masih dibahas? Terlebih lagi saat kita menjelang 70 tahun GKI Coyudan


Sebagai orangtua, saya seringkali berkata “cuci tangan dulu.” Entah sudah berapa ribu kali saya katakan kepada anak-anak saya. Karena saya menganggap cuci tangan itu penting dan sesuatu yang penting harus terus diulang dan diulang. Mengapa perlu diulang? Supaya meresap ke dalam pemahaman mereka dan yang akhirnya membentuk kebiasaan. Tidak bisa membentuk sebuah kebiasaan hanya dari satu dua kali tindakan.

Setelah kita membaca Efesus 4 : 1-16 komitmen apa yang akan kita buat?
Bagaimana kita bisa selalu rendah hati, selalu lemah lembut, dan selalu sabar kepada saudara seiman kita di GKI Coyudan? Kebiasaan apa yang akan mulai kita bentuk untuk memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera? Langkah awal untuk membangun kebiasaan adalah dengan introspeksi diri: Apa yang belum saya lakukan? Apa yang bisa saya lakukan? Dan siapa yang dapat menolong saya untuk bertumbuh bersama.

Hanya di ekosistem yang tepat maka sebuah pohon bisa bertumbuh dengan baik. Demikian halnya dengan kehidupan gereja. Hanya jika masing-masing jemaat memiliki kebiasaan untuk menjadi kawan sekerja yang penuh kasih, tidak mudah menghakimi, dan mau menerima masukan, maka pertumbuhan gereja menjadi seperti Kristus baru akan terjadi. Karena bersatu dalam perbedaan bukan sekadar slogan, namun sebuah cara hidup (way of life) murid-murid Kristus bagi kemuliaan nama-Nya. (NOV)

BUKAN HANYA SOAL PERUT

Image by Brooke Lark on unsplash

Bacaan: Mazmur 145 : 1-18

Salah satu kekuatiran manusia yang paling umum adalah mengenai jaminan hidup di masa depan. Karena itu banyak orang rela bekerja keras dan menabung agar dapat mencukupi kebutuhan demi kelangsungan hidupnya. Tidak heran kemudian perjalanan hidup manusia sedari kecil adalah harus sekolah dan belajar keras agar menjadi pintar, supaya kelak dapat bekerja mencari makan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bukankah ini realitas dunia yang keras yang harus dihadapi dan diperjuangkan? Continue reading

SALING MENGGEMBALAKAN

Image by Denys Argyriou on unsplash

Sebuah rumah tiba-tiba mengeluarkan asap dan timbulah api yang membakar bagian dapur hingga ke atap. Para tetangga panik menanti petugas pemadam yang tak kunjung datang. Lalu apa yang terjadi kemudian? Mereka saling menolong untuk memadamkan api itu dengan segala cara apapun. Panci, ember, selang taman, dan segala alat lain dikerahkan dengan satu tujuan yaitu memadamkan api. Continue reading

MENDENGAR ATAU MENDENGARKAN

Image by Alireza Attari on Unsplash

Mendengar dan mendengarkan merupakan dua hal yang berbeda sekalipun sama-sama dari kata dasar dengar. Mendengar lebih pada fungsi dan kerja telinga secara fisik, tetapi mendengarkan tidak hanya dengan telinga tetapi dengan pandangan dan hati kita pada siapa yang berbicara. Setiap orang bisa mendengar, tetapi belum tentu mendengarkan. Continue reading