KIDUNG PENGHARAPAN

Yeremia 11 : 8-20

Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sungguh mengejutkan bagi para relawan pendukungnya. Mereka tidak menerima, karena menilai vonis tersebut tidak adil. Simpati berwujud karangan bunga dan penyalaan lilin keprihatinan mengalir ke rutan Mako Brimob. Akan tetapi melalui suratnya Ahok justru mengajak pendukungnya untuk menerima kenyataan tersebut dan belajar untuk mengampuni. Kutipan penutup surat itu sungguh menyentuh, “… Mari kita tunjukkan bahwa kita percaya, Tuhan tetap berdaulat dan memegang kendali sejarah setiap bangsa. Kita tunjukkan bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Tuhan YME, pasti mengasihi sesama manusia, pasti menegakkan kebenaran dan keadilan bagi sesama manusia. Gusti Ora Sare.”

“Gusti (mboten) ora sare” seringkali dapat menjadi kalimat pengharapan bagi orang-orang yang berada di dalam posisi teraniaya, atau berada di dalam kesesakan. Gusti mboten sare adalah iman bahwa penyertaan Tuhan tak pernah berhenti, baik dalam kondisi senang maupun susah, tetap sama baik dulu, sekarang, dan sampai selamanya. Karena itu, kita tunduk memasrahkan hati sepenuhnya di bawah kedaulatan Tuhan, sekaligus memiliki kekuatan iman pada pengharapan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu di kehidupan kita. Karena itulah, Yeremia tetap taat menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada bangsa Yehuda walaupun itu membuat nyawanya terancam. Dalam situasi tersebut Yeremia memilih untuk memasrahkan segala perkaranya kepada Tuhan, sang pembelanya.

Apakah saat ini kita sedang merasa teraniaya, tersakiti, dan diperlakukan tidak adil? Dalam situasi seperti itu kadang kita larut dalam emosi sedih, marah, dan dendam. Seringkali hati kita berseru kepada Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi dalam hidup kita? Hari ini kita belajar bahwa kita memiliki pengharapan pada Tuhan yang adil, yang menghakimi dengan kebenaran dan membela umat-Nya menurut waktu dan cara-Nya. Marilah kita tetap bersandar kepada Tuhan dan membawa setiap pergumulan kita kepada-Nya. Yang terpenting adalah mari kerjakan bagian kita dengan tekun. Jangan lelah untuk setia melakukan kehendak-Nya, bersikap tidak menghakimi namun tetap mengasihi dan mengampuni sesama walaupun kita diperlakukan tidak adil, karena pembalasan dan keadilan itu adalah bagian dari kedaulatan Tuhan. (ES)

BELAJAR MENGENDALIKAN LIDAH

Photo by Iz zy on Unsplash

Yakobus 3 : 1 – 12

Kita bersyukur jika hari ini boleh hidup di negara yang telah merdeka. Salah satu berkat yang kita nikmati di negara ini adalah hak kebebasan untuk berpendapat/ berbicara. Sayangnya, hak tersebut terkadang disalahgunakan. Coba simak pembicaraan orang baik di sosial media atau di televisi. Banyak pernyataan dan komentar yang berisi kebencian, hujatan, dan fitnah. Mereka seolah-olah tidak peduli lagi akan dampak dari perkataan mereka terhadap orang lain. Kata-kata semacam itu dapat menghancurkan reputasi seseorang dan dapat merusak hubungan yang paling dekat sekalipun.

Surat Yakobus memperingatkan kita tentang kekuatan lidah. Yakobus mengatakan lebih mudah mengekang seekor kuda, menjinakkan hewan (burung, binatang melata, dan laut), mengendalikan sebuah kapal yang besar, daripada mengendalikan lidah (ay 3-8). Lidah disebut sebagai “api” yang dinyalakan oleh api neraka sendiri (ay 6) dan “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (ay 8). Lidah merupakan bagian kecil dari tubuh namun dapat memberikan pengaruh yang besar. Apa yang diucapkan lidah mencerminkan apa yang ada dalam hati kita.

Lalu bagaimana seharusnya seorang Kristen menggunakan hak kebebasan berbicara? Firman Tuhan telah memberikan pedoman yang jelas yaitu “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4 : 29). Seperti halnya Yesaya yang berkata “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu”(Yesaya 50 : 4a), kita pun dipanggil untuk membawa berkat kepada sesama melalui perkataan kita. Firman Tuhan menunjukkan bahwa perkataan kita dapat dipakai-Nya untuk memberkati orang lain. Karena itu sebelum kita berbicara coba renungkan tiga hal berikut :

  • Apakah perkataan saya bermanfaat untuk membangun orang lain?
  • Apakah perkataan saya dapat dipakai Tuhan menyalurkan kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya?
  • Apakah cara saya mengungkapkan ketidaksetujuan berkenan kepada Tuhan?

Mari kita menggunakan lidah kita dengan bijaksana sehingga iman kita dapat tercermin dari setiap perkataan dan puji-pujian yang keluar dari mulut kita. Karena pengenalan yang baik akan Tuhan menghadirkan lidah yang menghadirkan kidung yang menyenangkan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Hendaklah setiap kata yang terucap adalah puji-pujian yang mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Kiranya kita rela menjadi alat yang setia di tangan Tuhan untuk membawa kasih karunia-Nya kepada sesama kita. (KY)

KIDUNG IMAN

Photo by Gracealameda on Gracealameda

Injil Markus mengkisahkan tentang wanita Siro-Fenisia, seorang Yunani yang memiliki anak kerasukan roh jahat. Ketika perempuan ini mendengar Tuhan Yesus ada di daerah Tirus, dia segera datang menemui dan tersungkur di depan kaki-Nya memohon kesembuhan bagi anaknya. Respon Tuhan Yesus sungguh unik. Ia mengadakan percakapan figuratif (kiasan) dengan menyebut perempuan tersebut sebagai anjing peliharaan dan tidak patut jika tuannya mengambil roti bukan untuk anak-anak tetapi melemparkannya kepada anjing. Perempuan itu menyadari akan keberadaannya sebagai orang bukan Yahudi dan memberikan respon yang menarik untuk kita renungkan:

>> Yang pertama, dia tidak marah tetapi dengan kerendahan hati menyatakan “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Sebagai orang bukan Yahudi, dia tidak menuntut berkat utama bagi Israel tetapi dia merasa cukup dengan cipratan berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan.
>> Yang kedua, dia memperlihatkan iman yang teguh bahwa Tuhan Yesus tetap mengasihi dan memberkatinya, sekalipun dia bukan orang Yahudi.

Karena itu Tuhan Yesus kemudian mengatakan “karena kata-katamu itu, pergilah sekarang karena setan itu sudah keluar dari anakmu.” Dan ketika perempuan ini pulang ke rumah, didapatinya anaknya sudah sembuh.

Bagaimana dengan kita dalam pergumulan hidup? Apakah kita mampu menjadi seperti perempuan Siro-Fenisia yang memiliki iman yang teguh dan percaya penuh bahwa Tuhan Yesus adalah penolong yang dapat diandalkan. Kidung iman perempuan Siro-Fenisia ini biarlah juga menjadi nyanyian iman kita sebagai pengikut Kristus dalam menjalani hidup keseharian kita. Yakobus 2 : 17 menyatakan “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Karena itu sebagai orang percaya bagaimanapun keadaan kita, marilah kita tetap berpegang teguh pada iman percaya kita kepada Kristus dan belajar untuk menyatakannya dalam tindakan agar hidup kita menjadi kidung iman yang indah. (KSI)

BERDOA DAN BERKARYA BAGI BANGSA

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29: 7)

Dalam kesunyian, saya mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara ini. Peristiwa-peristiwa besar yang mampu menggegerkan ujung timur Indonesia hingga ke barat, sampai peristiwa di pelosok-pelosok kampung yang luput dari pemberitaan media. Segala peristiwa yang membuat mulut berdecak kagum hingga yang meneteskan air mata. Dalam diam, saya dapat melihat tangan Sang Ilahi sedang terus bekerja.

Pembuangan bangsa Israel bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dialami. Di tengah kesulitan ini, datanglah firman Tuhan yang sebenarnya sulit untuk diterima dengan akal sehat. Mereka tidak mendapat penghiburan, melaikan ajakan. Di tengah penjajahan, Allah justru meminta umat Israel mengusahakan kesejahteraan dan berdoa bagi kota yang sedang mereka diami, sebuah kota yang asing dan (mungkin saja) tak mereka cintai. Kehadiran Allah akan terwujud ketika umat Israel berdoa dan berkarya di negeri asing. Mengusahakan kesejahteraan merupakan sebuah proses yang tidak instan, penuh lika liku dan naik turun, keberhasilan maupun kegagalan. Kasih karunia Allah justru bisa dialami dalam kondisi yang demikian.

Kita bukan lagi bangsa terjajah. Indonesia sudah 73 tahun hidup dalam kemerdekaaan, akan tetapi, berdoa bagi kota dan bangsa merupakan perintah yang tak lekang oleh waktu. PR yang ada di negeri ini tak akan pernah habis, bahkan jika negeri ini melewati ulang tahun yang ke sekian ribu. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi belakangan ini membuat mata kita terbuka bahwa ini Indonesia, ini tanah air kita, di sini kita berdiri dan bersatu. Saya percaya ketika setiap orang mau menangkap panggilan Tuhan dan berkarya bagi bangsa ini, niscaya kebaikan-kebaikan yang tersembunyi di kedalaman akan mulai muncul ke permukaan. Saya rasa, kita semua sudah tahu banyak contoh bagaimana berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Maka, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga. Allah mencintai bangsa Indonesia, mengapa kita tidak? (BWA)