HIDUP KUDUS DENGAN MENGASIHI

Bacaan: Matius 5 : 38-48

Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela.

Berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rima-Nya.

Mengapa Yesus menderita didera, dan mahkota duripun dipakai-Nya.

Mengapa Yesus mati bagi saya? Kasih-Nya ya kar’na kasih-Nya.

Pujian dari NKB 85 ini bercerita tentang Kasih Allah kepada manusia melalui kesediaan Tuhan Yesus datang kedunia untuk menderita bahkan mati demi menanggung dosa manusia. Pujian ini sering kita nyanyikan seiring dengan kasih yang kita perbincangkan, tetapi benarkah kita sudah mampu mengasihi orang lain dengan benar seturut kehendak Tuhan? Seringkali entah sadar atau tidak, kita telah pilih-pilih dalam mengasihi orang lain. Mudah untuk mengasihi orang yang sering berbuat baik kepada kita, orang yang mungkin memberi keuntungan secara materi, orang kaya dan terhormat, tetapi bagaimana dengan mengasihi sesama yang miskin, orang-orang yang tersingkirkan, mereka yang memusuhi dan bahkan membenci kita? Continue reading

KOMUNITAS YANG MEMILIKI KEMURAHAN HATI

Bacaan: Lukas 10 : 25-37

Sebagai anak-anak Allah kita harus murah hati karena Bapa di surga juga murah hati (Lukas 6 :36). Kebanyakan orang berpikir bahwa murah hati identik dengan suka bersedekah atau memberi materi pada yang kekurangan. Murah hati tidak hanya berbicara tentang materi saja, tetapi juga sikap-sikap yang mudah memberi, tidak pelit, suka menolong, dan mudah mengasihi orang. Continue reading

HIDUP BERKOMUNITAS YANG SALING MENOLONG

Bacaan: Galatia 6:1-2

Semangat hidup bergotong royong adalah sebuah semangat yang hingga kini sebenarnya tak pernah pudar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Ketika terjadi sebuah penggalangan dana untuk korban banjir di media sosial, dalam waktu yang singkat sejumlah uang dapat langsung terkumpul. Semangat inilah yang mampu memantik harapan bahwa masih ada kebaikan yang ada di sekitar kita. Masih ada kepedulian dan kasih sayang serta semangat saling membantu, saling menolong. Ah, lega rasanya! Continue reading

ANAKKU BERKARYA DALAM DIDIKAN-NYA

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi sukses. Secara umum predikat sukses selalu diindentikan dengan masuk kuliah yang favorit, punya pekerjaan mapan, gaji selangit, harta yang cukup, menikah, dan sederet ukuran sukses kebanyakan orang. Lantas demi sukses itulah, anak anak didorong (atau diintimidasi?) untuk belajar yang rajin – kurangi waktu bermain, nilai harus tinggi, kuliah dimana harus ikut kata orang tua, bekerja dengan orientasi gaji, dan harus menikah di usia segini – jika perlu dicarikan jodoh. Lantas pernahkah orangtua bertanya pada anaknya tentang semua itu sebagai panggilan mereka? Sebagai jalan hidup mereka? Dan yang terpenting apakah mereka bahagia? Continue reading