Minggu Paska II : BERSAKSI MULAI DARI DALAM DIRI SENDIRI

“…kamu adalah surat Kristus, yang ditulis untuk pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh loh batu, melainkan pada loh loh daging, yaitu dalam hati manusia” ( II Kor 3:3)

Dalam hal surat menyurat ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yaitu alamat penerima, isi surat, dan alamat pengirim.  Semua harus jelas agar pesan dapat tersampaikan.  Jika alamat penerima salah, maka bisa bisa tidak sampai. Isi juga harus jelas, jika terlalu banyak basa basi maka bisa bisa si penerima menjadi bingung tentang pesan yang mau disampaikan. Alamat pengirim juga harus jelas, sebab jika tidak maka bisa dikira surat kaleng.  

Rasul Paulus menggunakan analogi yang menarik tentang komunitas kita. Kita adalah surat Kristus.  Surat yang dikirimkan ke dunia ini. Ditulis dan dikirim dengan sebuah makud tertentu. Membawa pesan tentang Injil – Evangelion – Kabar Sukacita bagi dunia. Kabar sukacita tentang karya Tuhan di dalam Kristus. 

Bersaksi tentang Kristus, itu bukan seperti sekedar promosi jual injil. Kita berusaha berperan menjadi murid Kristus yang baik dalam rangka promosi agar orang tertarik menjadi Kristen.  Itu adalah makna kesaksian yang dangkal.  Penginjilan bukan Kristenisasi. Sayangnya tanpa sadar pemikiran kita begitu.  Bersaksi itu harusnya dimulai dari dalam diri sendiri yang mau hidup dalam pertobatan sejati, berubah ke arah  yang semakin baik.

Kristus yang bangkit menyapa kita untuk mengubah diri, seperti maria magdalena yang berubah dari sedih menjadi sukacita, Kleopas dan temannya yang suram ke emaus menjadi sumringah kembali ke Yerusalem.  Ingatlah akan komitmen kita untuk mau mengubah hal yang buruk dalam hidup kita.  Perubahan itu menjadi pesan kesaksian kita kepada orang disekitar kita.  Kesaksian tentang karya Tuhan yang mengubahkan dan memulihkan.  (DKG)

Minggu Pra Paska II : MEMIKIRKAN APA YANG ALLAH PIKIRKAN

P.K ( Peekay) – 2014 adalah sebuah film India yang berkisah tentang seorang alien yang mencari remote control miliknya di dunia. Ia mencari untuk dapat memanggil pesawatnya dan kembali pulang. Film ini menjadi menarik, sebab alien itu selalu mendapat jawaban “hanya Tuhan yang tahu” dari manusia yang ditemuinya.  Dengan polosnya, alien itu kemudian mulai mencari Tuhan untuk dapat menemukan remote control miliknya. Ia mengikuti semua agama di dunia supaya dapat bertemu dengan Tuhan, tetapi alien itu tidak menemukan siapa yang disebut Tuhan, apa yang salah? Ada satu konsep yang menarik dari film ini yaitu konsep  “salah sambung” – tanpa sadar manusia seringkali menyangka beribadah kepada Tuhan, tetapi rupanya relasi dengan Tuhan suka salah sambung.   Salah sambung karena apa yang sebetulnya Tuhan inginkan, pikirkan, kehendaki ternyata tidak didengarkan dan diperhatikan oleh manusia, sehingga salah sambung. 
  

Film itu membuat saya berefleksi entah berapa kali saya mengalami “salah sambung” dengan Tuhan dalam kehidupan saya. Mungkin apa yang saya alami serupa dengan apa yang Petrus alami bersama Kristus. Bacaan Mark 8:33, Yesus menegor Petrus dengan sangat keras perihal pernyataan murid-Nya itu. Ketika Yesus berbicara tentang Anak Manusia, yaitu diri-Nya sendiri yang akan ditolak, dibunuh dan bangkit pada hari yang ketiga. Petrus, sang murid menarik Yesus, gurunya dan menegor Dia. Alkitab versi inggris “and Peter took him and began to rebuke him”  kata to rebuke mempunyai arti menegur, mengomeli, memarahi.  Sikap seorang murid yang kelewat batas. Petrus memikirkan tentang keselamatan bagi dirinya dan kelompoknya sendiri. Petrus memandang Yesus sebagai Mesias Politik yang akan menjadi Raja Yahudi, bukan malah ditolak dan dibunuh. Tentu apa yang  Petrus pikirkan “salah sambung” dengan yang Yesus pikirkan, yaitu tentang keselamatan dunia.
  

Pola pikir Petrus mewakili pola pikir kita, manusia pada umumnya. Kita memikirkan apa yang terbaik menurut dan cara pikir kita sendiri. Semua berpusat pada aku.  Pola pikir yang egosentris. Lalu bagaimana menjadi murid yang memikirkan apa yang Tuhan pikirkan.  Yesus memberi kunci sukses untuk kita. Mark 8:34 “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”  Kristus mengajarkan konsep berpikir yang Teosentris, yaitu berpusat pada apa yang Tuhan kehendaki.   Sikap menyangkal diri berarti tidak mengutamakan kepentingannya sendiri, melainkan Tuhan dan sesama. Sikap memilkul salib berarti sedia dan rela berkurban demi kepentingan Tuhan dan sesamanya.  Sikap mengikut berarti teguh hati dan setia sampai akhir.   (DKG)

Memikirkan apa yang Allah pikirkan 
adalah sikap seorang murid yang tidak “salah sambung”

KONSISTEN DAN SETIA

Banyak orang bahkan para kaum rohaniwan dari berbagai kalangan agama mengalami kejatuhan dalam kehidupannya ketika ia sedang berada di puncak karier atau di tingkat atas kehidupannya. Secara umum biasanya itu disebabkan oleh popularitas dan harta kekayaan atau singkatnya berbagai hawa nafsu dunia. Pada awalnya motivasi dalam kehidupannya berorientasi pada hal-hal yang mulia dan baik, tetapi oleh karena godaan harta kekayaan, popularitas akhirnya orang kehilangan “kasih” yang mula-mula dan beralih pada orientasi harta dan popularitas; bahkan ada juga yang karena perselingkuhan atau tindakan amoral lainnya.

Dalam bacaan Injil, kita melihat bahwa setelah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon, tanpa diduga ternyata kabar itu menyebar sehingga banyak orang sakit dan kerasukan setan berbondong untuk disembuhkan (Markus 1:33-34).  Dan semua orang di Kapernaum terus mencari Yesus hingga menjelang malam (Markus 1:37). Popularitas dalam pelayanan ini tidak membuat Yesus kemudian memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan materi untuk alasan apapun, sebaliknya Yesus mengambil sikap untuk meninggalkan orang banyak sekalipun para murid tetap mendorong-Nya untuk tetap tinggal (Markus 1:38). Padahal Kapernaum adalah kota terbesar dan terpenting di Galilea, merupakan sebuah kesempatan bagi Yesus untuk dapat dikenal dan menjadi terkenal. Tetapi Yesus ingin meneladankan sikap rendah hati, konsistensi dan setia terhadap sebuah panggilan. Sebab memang Kristus dipanggil bukan untuk menjadi terkenal, bukan untuk menjadi kaya tetapi untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai umat Tuhan atau sebagai gereja Tuhan ? Adakah kita ada di dunia untuk mencari keuntungan ? ataukah untuk mengejar popularitas ? ataukah pujian dan kemegahan ? Tidak ! Sebagai umat Tuhan dan gereja Tuhan, kita dipanggil untuk menyatakan kasih Kristus kepada semua orang yang tersisih, terpinggirkan, terabaikan, menderita dan dalam dukacita. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia sehingga kehadiran kita membawa arti dan bukti nyata kasih Tuhan untuk semua orang. Karena itu marilah kita konsisten dan setia pada satu tujuan : memuliakan Tuhan dengan segenap hidup kita. Amin. (-LAAS-)

 

KOMUNITAS YANG BERKARAKTER SEPERTI KRISTUS

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:5-7)

Ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang mengatakan “like father, like son”, untuk menggambarkan suatu perilaku yang sama antara 2 generasi berbeda, yaitu ayah dan anak. Dalam keseharian, kita sering mendengar orang mengatakan dalam satu komunitas tertentu, “dengan mengamati anak-anak dapat diketahui siapa orang tuanya.” Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Continue reading