KASIH KRISTUS : KEKUATAN YANG BARU BAGI KOMUNITAS YANG BARU

Bacaan: Yohanes 13:34-35

Perintah itu disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid sebelum Ia ditangkap kemudian dibawa kepada Pontius Pilatus, hingga peristiwa agung di Kalvari. Perintah baru bagi para murid-Nya saat itu, dan kepada kita, umatNya. Dalam setiap kesempatan, perintah itu terus dinyatakan kepada kita yaitu supaya kita saling mengasihi. Mengapa kasih? Karena kasih adalah identitas Allah yang paling sering Ia nyatakan, sebagaimana yang dipersaksikan dalam Injil Yohanes mengidentikkan Allah dengan kasih. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-21) Continue reading

SALING MENGAMPUNI DALAM KERAHIMAN ALLAH

Kata rahim memang merujuk pada kaum perempuan, lagi rahim ibu. Dari rahim ini sebenarnya muncul hubungan cinta yang searah. Sifat rahim seorang ibu, yang “melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, membawa kemana-mana”. Ibu mencintai anaknya yang lahir dari rahimnya bukan karena anaknya berbuat baik, tetapi karena itu merupakan suatu dorongan hati yang tak terelakkan. Continue reading

LIDAH YANG MEMBERI PUJIAN HIDUP BAGI ALLAH

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,supaya dengan perkataan aku dapat memberI semangat baru kepada orang yang letih lesu. (Yesaya 50:4)

Tidak mudah hidup sebagai murid Tuhan di tengah dunia. Tidak mudah pula memberlakukan nilai-nilai kristiani ketika orang menolak Firman Tuhan. Dalam situasi seperti ini keberanian dan kesetiaan kita terhadap kehendak Tuhan untuk mengasihi sesama kita diuji. Di manakah kita temukan kekuatan untuk bertahan dan memiliki semangat untuk selalu memberi pujian bagi Allah? Sebagai pelaku kehendak Tuhan, kita tentunya tidak boleh mengandalkan kemampuan kita.  Kita selalu bersandar pada Tuhan. Tuhan mengaruniakan kepada hamba-Nya lidah dan telinga seorang murid, untuk memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu’.   Inilah kekuatan yang Tuhan berikan kepada hamba-Nya. Continue reading

Minggu Paska VI: MENJADI SAHABAT SAHABAT ALLAH YANG PENUH KASIH

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepada-Mu..karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu….Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.. ”  Yoh 15:14-15

Kata “sahabat” rasanya terdengar artifitial pada masa kini.  Tak heran, sebab dunia semakin hostile (tidak ramah). Semua orang tenggelam dalam kotak kecilnya masing-masing yang disebut smartphone.  Orang merasa punya teman dalam situs pertemanan, tetapi tidak mengalami pertemanan yang berkualitas.  Orang mencari teman demi keuntungannya sendiri, teman dipilih berdasarkan kriteria, diskriminasi terjadi, tidak ada yang peduli, orang takut dan tidak percaya dalam berelasi. Dunia semakin tidak ramah. 

Kristus menyebut kita adalah para sahabat-Nya.  Kita menjadi sahabat Kristus semata-mata karena Kasih anugerah-Nya.   Kasih yang Kristus berikan kepada kita mengubahkan kita menjadi mengerti dan mengalami apa itu kasih.   Kristus menawarkan relasi persahabatan, bukan relasi tuan dan hamba.  Relasi persahabatan adalah sebuah relasi yang didasari dan dihidupi dengan kasih sejati.  Kita melakukan perintah-Nya karena kasih, dan itu lebih tulus kita lakukan.   Berbeda dengan relasi tuan dan hamba. Apa yang Tuannya perintahkan harus dilakukan si hamba, suka atau tidak suka, tanpa tahu apa maksud perintah dari tuannya.  (Yoh 15: 15).  Relasi Tuan dan hamba mempunyai jarak yang jauh, hamba tidak boleh menungkapkan isi perasaannya kepada sang Tuan, sebab jika begitu hamba telah bersikap kurang ajar.  Sang Tuan tidak peduli dengan apa pergumulan si hamba, hamba pokoknya harus kerja mengikuti perintah Tuan.  Kristus adalah Tuhan kita, namun mau menjadi sahabat-sahabat kita. Bukankah ini sebuah anugerah yang luar biasa.     

Dunia ini terlalu penuh dengan diskrimanasi, keterasingan, prasangka, gosip, kasih yang transaksional, relasi atas dasar keuntungan, egosentris, dan hal yang sangat tidak ramah.  Relasi persahabatan Kristus berikan adalah relasi yang menjadikan kita menjadi sahabat bagi yang lain, menghadirkan kasih yang membawa dunia berjumpa kepada Kristus.  Gereja ditantang untuk berani terbuka dan bersahabat bagi Dunia.  Gereja yang menawarkan bersahabat ala Kristus.  Persahabatan dengan dasar kasih seperti yang Kristus lakukan dan juga menghidupi kasih itu sendiri.  Kasih yang mengampuni, kasih yang terbuka, kasih yang merangkul mereka yang terasing, kasih yang memulihkan.   (DKG)

Dunia tidak memerlukan orang orang besar dengan tindakan besar. Namun dunia membutuhkan orang orang yang bersedia melakukan hal hal kecil dengan cinta yang besar

Bunda Theresa