Photo by Karl Fredrickson on Unsplash

Kita pasti pernah mendengarkan sebuah khotbah dimana sang pengkhotbah membawakan isi poin-poin khotbahnya dengan luar biasa, sangat kaya dalam menggali firman Tuhan, banyak ilustrasi yang sangat tepat dalam menggambarkan isi khotbahnya. Di samping itu pengkhotbahnya juga membawakan dengan penuh semangat, sangat komunikatif, dan variatif sehingga suasana dapat terbangun dan tidak monoton. Khotbah itu adalah khotbah yang sangat bagus sehingga banyak jemaat yang terkesima dan saling membicarakan dengan jemaat lain. “Khotbahnya tadi hebat tenan, bagus ya…, sangat mengena.”

Hari ini kita merayakan Minggu Transfigurasi, ketika kita menghayati bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung. Para murid takjub luar biasa atas kejadian itu. Yesus yang penuh dengan sinar kemuliaan bersama hadirnya penampakan Musa dan Elia. Peristiwa ini menjadi puncak dari kemuliaan Kristus dan kemudian turun ke titik terendah dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Karena itulah, Minggu Transfigurasi yang kita rayakan saat ini kemudian diikuti oleh Rabu Abu yang mengawali masa pra paska di mana kita mengenang ketaatan Kristus dalam sengsara-Nya untuk menanggung dosa kita. Kristus tidak ingin para murid berhenti di ketakjuban saja, tetapi diteruskan dalam hidup taat dan mengikuti teladan Yesus untuk setia dalam panggilan.

Kembali mengenai khotbah yang luar biasa tadi. Kita bisa saja takjub dengan sebuah khotbah yang dengan luar biasa disampaikan, akan tetapi sebenarnya khotbah akan menjadi berarti ketika khotbah tidak berhenti sampai di titik ketakjuban saja, tetapi mengubah hidup jemaat yang mendengarnya. Ada komitmen ketaatan yang diambil, ada penerapan praktis yang dilakukan, ada pertobatan setelah mendengar teguran, ada rasa syukur kepada Tuhan atas berkat kemurahan-Nya, ada rasa ingin lebih mengasihi Tuhan dan sesama, ada pengampunan, ada pengharapan, dan ada damai sejahtera.

Ketakjuban pada sebuah khotbah hanya akan menjadi momen kenangan sejenak dan bisa dilupakan jika tidak dilakukan dalam hidup ketaatan. Bagaimana dengan kita? Adakah kita berhenti dengan takjub saja pada sabda-Nya saja atau kita responi dengan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan? (YEP)