Photo by John Mark Arnold on Unsplash

Mazmur 37: 1-11

Di kamar tidur kami terdapat sebuah meja putih yang selalu dipakai istri saya untuk bekerja. Saya ingat betul ketika saya mulai merakitnya (saat itu kami belum menikah), meja tersebut masih dalam kondisi mulus, putih bersih. Tahun-tahun berlalu, goresan demi goresan mulai muncul, bercak cat lukis di beberapa titik terlihat jelas. Di sudut lain, terlihat lapisan debu tipis. Meskipun rutin dibersihkan, akan selalu muncul hal baru yang kadang bisa dihapus, kadang juga tidak. Kini, meja itu sudah berubah banyak. Ia tak pernah sama lagi.

Hati kita pun demikian. Setiap episode kehidupan yang kita lalui selalu meninggalkan goresan di hati kita. Goresan itu terkadang cantik, tapi tak jarang semakin merapuhkan. Daud mengalaminya berulang kali. Mungkin, lebih banyak dari yang kita kira. Dalam Mazmur 37: 1-11, hati Daud sedang tergores oleh hal-hal tak menyenangkan. Ia bukan saja berbicara dan sedang menasehati orang lain, tetapi dirinya sendiri. Ada kemarahan besar yang sedang ia pendam karena melihat orang-orang jahat berhasil dalam lakunya. Alih-alih terus dengki kepada mereka, Daud belajar untuk membereskan hatinya bersama dengan Allah. Daud belajar menerima semua proses dan goresan meskipun itu sakit. Ada kalanya ingin berontak, tapi itu justru akan membuat situasi makin memburuk (ayat 8). Daud paham betul: Allah Israel adalah Allah yang bertindak, tepat pada waktu-Nya.

Saya tidak tahu, goresan-goresan apa yang masih membengkas di hati Anda. Goresan-goresan apa yang meninggalkan jejak buruk dalam hati Anda. Kejahatan seperti apa yang pernah Anda alami sehingga meninggalkan goresan perih sampai saat ini. Lebih dari sekedar belajar sabar, Allah ingin mengubah arah pandang kita ke wajah-Nya. Ia tidak ingin tiba-tiba membawa kita menuju kondisi yang kita harapkan secara instan. Allah lebih sering membawa kita masuk ke dalam sebuah proses yang tak mudah. Hati yang terus dipoles, diperbaiki, dibentuk, ditempa oleh Allah akan menjadi hati yang kuat. Lewat semua proses inilah, kita akan tahu bahwa hanya anugerah Tuhan yang memampukan kita melewati semuanya. (BWA)