Photo by Hayden Walker on Unsplash

“Di dalam dunia ada dua jalan
lebar dan sempit, mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati
tapi yang sempit hidup bahagia”

Demikian lirik lagu yang pernah kita nyanyikan dulu waktu sekolah minggu atau mungkin sampai sekarang masih kita dendangkan. Syair lagu ini mengingatkan bahwa kepada setiap orang diperhadapkan pilihan jalan hidup. Setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi masing-masing. Apa yang dikatakan oleh lagu itu tidak jauh berbeda dengan apa yang tertulis di Mazmur 1 : 1-6.

Pemazmur memberikan gambaran yang jelas bagaimana jalan hidup orang benar dan jalan orang fasik. Dalam ayat 1-2, ada beberapa kata yang disebut menunjukkan suatu sikap hidup yakni “tidak berjalan, tidak berdiri, tidak duduk.” Orang benar berjalan menuruti nasihat Firman Tuhan, bukan seperti orang fasik yakni orang yang tahu Firman Tuhan namun tidak melakukan nasehat Tuhan. Orang benar tidak berdiri di jalan orang berdosa, tidak membiarkan diri menjadi pelanggar hukum, tidak terus melakukan kejahatan. Orang benar tidak duduk dalam kumpulan pencemooh -kumpulan orang yang menganggap dirinya paling benar dan merasa tidak memerlukan nasehat dan teguran.

Orang benar hidup menyukai dan merenungkan Taurat itu siang dan malam. Orang benar selalu menempatkan Firman Tuhan sebagai pelita dalam perjalanan hidupnya, mendengarkan nasehat, teguran, perintah melalui Firman Tuhan dan melakukan dalam hidupnya. Dan pemazmur berkata, “Orang yang hidup seperti inilah yang berbahagia atau yang diberkati.”

Orang yang hidup mengandalkan Tuhan dengan memegang Taurat Tuhan akan mendapatkan kekuatan, tidak menyerah, dan tidak putus asa (ayat 3). Berbeda dengan orang fasik. Apa yang didapatkan orang fasik? Ayat 4 dan 5 menjelaskan bahwa mereka hanya seperti sekam saja yang ditiup angin dan hilang, mereka tidak akan tahan menghadapi penghakiman.

Pilihan ada di tangan kita. Mau pilih jalan orang benar atau jalan orang fasik? (MS)