Photo by Nastuh Abootalebi on Unsplash

Ada lagu Sekolah Minggu yang demikian liriknya :
“Susahnya aku taat, lebih mudah ‘ku tidak taat.
Susahnya ‘ku diatur, lebih mudah ‘ku mengatur.
Pilih yang mana? Yang mana?
Yang membuatku senang?
Kupilih taat, mau diatur, wajah Tuhan tersenyum”

Robert Ginnett, seorang peneliti di Pusat Kepemimpinan Kreatif di Colorado Springs; mendapati bahwa nilai-nilai yang kita anut ternyata tidak begitu sesuai dengan tindakan nyata yang mungkin kita pikirkan. Ada kisah seorang eksekutif bisnis yang mengatakan bahwa putrinya yang berusia lima tahun adalah bagian paling berharga dari hidupnya. Menyadari bahwa biasanya ia berangkat kerja sebelum putrinya bangun dan sering pulang ke rumah setelah putrinya itu tidur di malam hari, maka pada hari Sabtu Ia meluangkan waktu bersama putrinya dan mengajaknya pergi ke kantornya. Setelah melihat berkeliling, putrinya bertanya, “Ayah, inikah tempat tinggalmu?” Ia mungkin menyatakan bahwa putrinya itu penting baginya, tetapi tindakannya telah mencerminkan apa yang sesungguhnya ia hargai yaitu kantornya.

Sebagian besar dari kita menyatakan bahwa kita memegang nilai-nilai iman kristiani dan sering gagal juga untuk menaati nilai itu. Mengapa kita sulit sekali untuk taat? Perlu disadari bahwa ada dorongan untuk berbuat dosa (natur manusia berdosa). Tanpa sadar, kita merasa bahwa Firman Tuhan mengungkung sehingga kita melawan aturan itu. Padahal, perintah-perintah Allah diberikan justru untuk meningkatkan kualitas hidup kita, bukannya untuk membatasi. I YOHANES 5 : 3 menyatakan, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” Jika kita mengasihi Allah maka kita akan nyatakan untuk hidup taat bagi kemuliaan-Nya.

Panggilan Allah kepada kita sama dengan panggilan Yesus kepada Simon, Yakobus, dan Yohanes, yaitu untuk menjadi penjala manusia yaitu membawa manusia mengalami Injil Kerajaan Allah. Semua itu dimulai dari sebuah sikap taat pada Firman-Nya. Taat akan melahirkan pengalaman yang mengubah kehidupan kita. Dari kehidupan kita akan menjadi kesaksian hidup bagi sesama kita. (NOV)

“Kesadaran untuk menjadi pelaku Firman Tuhan perlu dilatih setiap saat, untuk nantinya menjadi sebuah kebiasaan hidup”