ULANGAN 6: 1-9

Saya akan bahagia jika sudah punya rumah sendiri.
Saya akan bahagia jika sudah punya gaji yang banyak.
Saya akan bahagia jika seluruh keluarga sudah memiliki asuransi.
Saya akan bahagia jika saya punya mobil.
Saya akan bahagia jika sudah memiliki pasangan hidup.
Saya akan bahagia jika …

Masih banyak daftar yang bisa kita pikirkan dan tuliskan, hal-hal apa yang sekiranya akan membuat kita bahagia. Sekarang pertanyaannya, apa sumber utama kebahagiaan kita? Jika kita tidak mengalami kesenangan, tidak merasakan cinta, tidak sedang hidup dalam kegembiraan. Mungkinkah kita mampu berbahagia? Bacaan kita di Ulangan pasal 6 mengandung Janji Tuhan : “… supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlmpah-limpah susu dan madunya.” (ayat 3) Sekaligus juga syarat untuk mengalami Janji Tuhan tersebut, yaitu: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ayat 4).

Di ayat-ayat selanjutnya, jelas sekali bahwa Tuhan menjanjikan “supaya baik keadaanmu” apabila kita melakukan apa yang Dia perintahkan kepada kita. Perintah-perintah-Nya ada di seluruh bagian Alkitab. Tapi perintah atau hukum yang terutama sekali lagi diingatkan di dalam Injil Markus pasal 12: 29-31, yaitu agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan kita. Serta untuk kita mengasihi sesama kita seperti diri sendiri.

Hukum yang utama dan terutama tersebut sudah begitu ‘familiar’ bagi kita. Sudah sering kita dengar, baca, hafal, bahkan sampai kutip ayat Alkitabnya. Kita bahkan fasih menceritakan kepada sesama kita. Semua itu baik. Yang perlu kita lakukan adalah menghidupinya, secara sadar, hari lepas hari, setiap saat setiap waktu. Kita terus periksa diri : “Sudahkah aku mencintai Tuhan melalui tindakanku? Lewat perkataanku? Melalui pemikiranku? Sudahkah aku mencintai sesama melalui tindakanku? Lewat perkataanku?Melalui pemikiranku?” (NOV)

Kebahagiaan yang sejati hadir ketika kasih Kristus kita alami dan ketika kasih Kristus kita amali.