Photo by Tribunnews on Tribunnews

Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, (Ulangan 10: 12)

Saya masih teringat ketika di tengah hiruk pikuknya kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur lalu yang hampir memecah belah golongan agama dan suku, muncullah satu berita dengan foto di sebuah surat kabar. Berita itu menampilkan foto candid seorang biarawati dan seorang muslimah bergandengan tangan hendak menyeberang. Sebuah berita yang menyejukkan sebab gambaran itu menampilkan
gambaran cinta kasih yang damai dan indah.

Cinta kasih menjadi identitas kita sebagai umat Allah. Dalam Ulangan 10 : 12, bangsa Israel diingatkan Musa untuk mengingat identitas mereka sebagai umat Allah dengan memegang teguh perintah untuk mengasihi Allah dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Menariknya, perintah ini diwujudkan dalam praktek mengasihi kepada sesama, bahkan dipertegas menyatakan cinta kasih kepada “wong cilik”, yaitu anak yatim dan janda ( dalam konteks bangsa Israel, janda dan anak yatim termasuk dalam kaum yang harus ditopang oleh komunitas). Bahkan kepada orang asing, dengan mengingat bahwa bangsa Israel juga pernah menjadi orang asing. Ini telah dirangkum oleh Kristus dalam hukum kasih yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita. Dengan kata lain, umat yang mengasihi Allah bukan berarti hidup ekslusi, antara aku dan Allah serta mereka di dalam komunitas kita, tetapi menyatakan kasih kepada mereka yang di luar komunitas kita.

Saat ini kita merayakan penyatuan Gereja Kristen Indonesia selama 30 tahun. Saatnya pula kita kembali mengingat panggilan kita sebagai bagian dari GKI untuk menyatakan kasih kita kepada Allah dengan menyatakan kasih bagi bangsa Indonesia dengan keragaman suku, agama, dan budaya. Jangan bangun tembok gereja apalagi meninggikannya, tetapi rombaklah agar GKI menjadi gereja yang membuka diri dan menyatakan kasih Allah bagi mereka yang terasing, tersisih, bahkan yang berbeda. Kristus, Sang kepala gereja sudah memberikan teladan kepada kita, maka mari kita ikuti dengan melakukannya. ( DKG)