Image by Alireza Attari on Unsplash

Mendengar dan mendengarkan merupakan dua hal yang berbeda sekalipun sama-sama dari kata dasar dengar. Mendengar lebih pada fungsi dan kerja telinga secara fisik, tetapi mendengarkan tidak hanya dengan telinga tetapi dengan pandangan dan hati kita pada siapa yang berbicara. Setiap orang bisa mendengar, tetapi belum tentu mendengarkan.

Mazmur 85: 8-13 mengingatkan kita bahwa mendengarkan suara/firman Tuhan akan membawa kita menjauh dari kebodohan. Mendengarkan suara Tuhan berarti mengarahkan hidup dalam kasih dan kesetiaan, mengusahakan keadilan dan damai sejahtera, menjadi teladan hidup benar di bumi seperti yang Tuhan inginkan. Sayangnya banyak orang seperti raja Herodes (dalam Markus 6: 14-29) yang segan mendengarkan teguran dari Yohanes Pembaptis. Herodes memilih untuk mengabaikan suara Tuhan, nasehat dan teguran melalui Yohanes, sehingga hidupnya jauh dari Tuhan. Akhirnya ia sendiri jatuh dalam dosa pembunuhan atas diri Yohanes Pembaptis.

Demikian halnya di Indonesia ini, ada banyak orang sepakat bahwa Indonesia mengalami krisis kenegaraan, tetapi tidak cukup banyak orang yang tahu bagaimana mengatasi krisis untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan negara kita ini. Banyak orang tahu apa yang baik, yang diajarkan baik dipendidikan maupun agama, tetapi tidak cukup banyak yang mau mendengarkan suara Tuhan, dan memilih untuk memanipulasi agama demi kepentingan kelompok maupun diri sendiri.

Sebagai umat Tuhan selayaknya kita mendengarkan suara Tuhan dengan segenap hati kita, sehingga kita bukan hanya mendengar, tetapi juga mengusahakan diri kita untuk mengasihi, berlaku adil, menebar kebaikan serta pendamaian Tuhan. Sebab kita dipanggil untuk menjadi pembawa kabar baik bagi semua orang. Amin. (VDY)