Image from grantspasschurchofchrist

Mazmur 123 merupakan sebuah nyanyian ziarah iman yang menceritakan pergumulan pemazmur. Seorang yang menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba Tuhan (dalam bahasa aslinya kata hamba dari kata “ebed”, yang berarti juga seorang pelayan atau budak/orang yang terikat menjadi pelayan bagi orang lain/Tuhan). Hamba yang tidak punya hak atas dirinya sendiri, hidup hanya oleh kemurahan tuannya dan harus tunduk pada perintah tuannya.

Demikianlah pemazmur menggambarkan dirinya, yang telah melakukan tugas dari Tuannya, namun menghadapi penolakan dari orang-orang lain. Penolakan itu bukan hanya tidak menerima dirinya, tetapi juga mengolok-olok dan menghina apa yang telah dilakukannya sebagai seorang hamba Tuhan.

Pemazmur sebagai hamba Tuhan, tidak mau (atau tidak mampu) membela dirinya dari penghinaan orang-orang yang sombong dan merasa jiwanya aman (orang-orang berdosa/jahat) dari hukuman Tuhan. Karena itu sebagai hamba, dia datang kepada Tuannya dan memandang pada tangan tuannya, karena tangan tuannya itulah yang menentukan kemana dia harus pergi (apa yang harus dia lakukan).

Pemazmur mengajak setiap orang percaya untuk tetap setia menempatkan dirinya sebagai seorang hamba yang tetap setia kepada kehendak Tuhan, walaupun orang menolak kita, bahkan menghina dan menganiaya kita. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita harus memiliki keyakinan dan bersandar pada kasih Tuhan. Janganlah kita kehilangan kesetiaan akan kasih Tuhan, sehingga kita membalas kejahatan orang, tetapi kita diajak untuk datang kepada Tuhan, sang pemilik hidup kita dan menantikan perintah tangan-Nya, untuk kembali pada tuannya ataukah untuk pergi dengan tetap melakukan kehendakNya di tengah penolakan yang ada. (LAAS)