Photo by David Beale on unsplash

Banyak orang memandang bahwa pertumbuhan iman itu terjadi jika seseorang memiliki pengetahuan agamanya semakin banyak, tetapi kenyataan yang terjadi bahwa pengetahuan agama tidak berbanding lurus dengan keimanan seseorang kepada Tuhan. Sebaliknya justru kebanyakan orang yang merasa dirinya tahu banyak tentang agama, hidupnya tidak menunjukkan keimanan kepada Tuhan dengan jernih.

Dalam Mazmur 130 kita menemukan pemazmur yang dalam keimanannya percaya bahwa Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan yang mendengarkan seruan, permohonan, dan yang menyediakan pengampunan bagi umat-Nya. Tentu imannya kepada Tuhan ini tidak dimilikinya melalui pengetahuan agamanya, tetapi dari pengalaman imannya bersama dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan dalam berbagai peristiwa kehidupannya itulah yang membuat pemazmur mampu mengimani Tuhan yang menjadi pengharapannya itu dapat diandalkan; Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, karena setiap kali dinantikan oleh umat-Nya, Ia datang menolong dan membebaskan.

Dari uraian Mazmur di atas kita menyadari bahwa perjumpaan dan pengalaman bersama Tuhan itulah yang akan membuat iman kita bertumbuh. Perjumpaan yang bisa terjadi pada saat kehidupan kita baik-baik saja, tetapi terlebih lagi justru di dalam pergumulan dan penderitaanlah kita dapat mengalami pertumbuhan iman.

Marilah kita bertumbuh di dalam iman kepada Tuhan dengan cara mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam kehidupan kita. Bagaimana caranya?

Pemazmur katakan :

  1. Nantikan Tuhan dan harapkan firman-NyaJangan hanya berdiam diri dan menyerah, tetapi menantikan dan melakukan firman Tuhan.
  2. Berharap dan percaya pada kasih setia TuhanJangan patah semangat atau putus asa, teruslah berpegang pada firman
    Tuhan, sebab Tuhan ada kasih dan setia pada umat-Nya.

(VDY)