Photo by Sidharth Bhatia on unsplash

Bacaan: Kisah Para Rasul 10 : 1-35

Asep, seorang tukang bangunan yang kebetulan orang Sunda mulai bekerja dengan rekan barunya Joko yang berasal dari Solo. Asep naik ke lantai dua, minta tolong pada Joko yang ada di lantai satu, “Kang, tolong cokot batu bata itu!” (bhs. Sunda cokot = ambil). Tentu saja Joko yang berasal dari Jawa tidak mau melakukannya. Asep jadi tidak sabar dan bertanya pada Joko, “Mana batu batanya, Kang? Sudah dicokot belum?” Menjawablah Joko, “atos kang”. Asep jadi bingung (bhs. Sunda atos = sudah). Maka berteriaklah Asep, “Mana, kok dari tadi tidak ada?” Joko balas berteriak, “Kamu sendiri yang cokot batu batanya!” Dalam hati Joko mengomel “Piye to, bata atos, mosok dicokot” Sebaliknya Asep bingung, “Dimintai tolong baik-baik kok malah marah”. Dapat dibayangkan kalau Asep dan Joko tidak mau saling memahami, bisa-bisa berantem gara-gara perbedaan paham cokot dan atos.

Kita hidup di dunia yang penuh keberagaman. Kita percaya Allah menciptakan isi dunia beragam agar menjadi indah dan saling melengkapi. Namun sayang tidak semua orang menerima perbedaan, yang berakibat dalam hidup bersama suka menciptakan keseragaman dengan menyisihkan yang berbeda. Kita belajar dari Petrus, seorang Yahudi tulen yang percaya bahwa orang pilihan Allah hanyalah orang Yahudi. Namun Allah meminta Petrus untuk melayani Kornelius, seorang perwira Kaisarea yang kafir baginya. Perjumpaan itu membukakan mata Petrus bahwa Tuhan tidak membedakan orang. Petrus dan Kornelius, dua orang yang sangat jauh berbeda namun dipersatukan oleh karya Roh Kudus.

Allah berkarya melalui perbedaan untuk menunjukkan bahwa karya kasih-Nya meruntuhkan sekat-sekat perbedaan. Sebagai umat-Nya mari kita hayati perbedaan-perbedaan itu sebagai harmoni anugerah Allah yang sungguh indah. Tugas panggilan orang percaya adalah melayani sesama tanpa membeda-bedakan. Mari kita hargai keberagaman ini dengan saling memahami dan berempati, serta saling menghormati dan bekerja sama. Berikan pengajaran ini dan teladan yang baik bagi anak-anak agar generasi mendatang menjadi generasi yang membangun keharmonisan bagi dunia ini. (ES)

Kasih Allah mempersatukan, karena itu jangan lagi dirikan tembok pemisah.