Image: catholicexchange.com

Oleh: Pdt. Daniel K. Gunawan, S.Si Teol

Dalam merayakan pentakosta ada dua hal yang kita hayati dan rayakan, yaitu turunnya Roh Kudus dan persembahan penuaian. Mungkin kita bertanya apa hubungannya Roh Kudus dengan persembahan penuaian? Lalu orang sering menyebut istilah undhuh-undhuh? Wah apa pula kaitannya? Lantas apakah pentakosta hanya seputar persembahan dan undhuh-undhuh? Nah mari kita pahami satu persatu.

Pentakosta

Pada awalnya pentakosta adalah hari raya tradisi Yahudi. Kata pentakosta diambil dari kata Yunani ‘pentekonta hemeras’ yang berarti hari ke-50. Pentakosta dirayakan pada hari ke-50 sesudah hari raya Roti Tak Beragi. Tradisi pentakosta ini juga disebut banyak nama di dalam Alkitab : “Hari Raya Lepas Tujuh Minggu” (Kel 34:22; Ul 16:10), “Hari raya menuai” dan “Hari Raya Buah Bungaran” (Kel 23:16; 34:22; Im 23:15-21; Bil 28:26-31; Ul 16:9-12). Pada hari Pentakosta ini biasanya dipersembahkan korban buah bungaran, yaitu dua roti yang dibuat dari tepung gandum yang baru dituai. Korban tersebut merupakan lambang dimana bangsa Israel mempersembahkan seluruh hasil panennya kepada Tuhan. Selain itu ada juga persembahan korban-korban khusus dan korban keselamatan secara sukarela. Hari raya pentakosta kemudian dimaknai ulang oleh gereja sebagai hari dimana para murid menerima Roh Kudus sebagaimana yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:1-13. Roh Kudus menyatakan diri-Nya dan kuasa-Nya melalui tiupan angin, nyala api, dan bahasa-bahasa baru sehingga semua bangsa yang hadir berkumpul di Yerusalem mengerti siapa Kristus yang diceritakan oleh para murid. Pada hari itulah, gereja perdana lahir ketika 3000 (tiga ribu) jiwa yang tercatat memberi diri dibaptis dan menjadi murid Kristus.

 

Persembahan Penuaian dan Unduh-unduh

Nah meski dimaknai ulang sebagai hari turunnya Roh Kudus, akar tradisi pentakosta tidak dihilangkan, yaitu persembahan hasil panen. Karena itulah kita juga mempersembahkan syukur penuaian berupa uang yang dipersiapkan sebagai wujud syukur atas berkat yang sudah Tuhan berikan melalui penghasilan kehidupan kita. Persembahan penuaian ini juga sering disebut undhuh-undhuh. Undhuh merupakan istilah dalam bahasa jawa yang berarti memanen. Makna penuaian ini sering ditunjukan dengan dekorasi buah dan sayur di mimbar atau prosesi arak-arakan persembahan berupa hasil panen tani. Secara lebih dalam, pentakosta bukan hanya sekedar perayaan formalitas tetapi ada makna panggilan pengutusan yang tidak boleh dilupakan.

Urapan Roh Kudus : mengubahkan dan memperbarui

Dalam Injil Yohanes 20:19-23 menunjukkan bagaimana para murid ketakutan dan membuat mereka tidak berani melakukan apa-apa selain mengunci pintu. Harapan mereka hilang seolah ditelan ketakutan. Yesus hadir di tengah mereka, menyatakan damai sejahtera dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Ini bisa disebut peristiwa pentakosta sederhana versi Yohanes. Melihat peristiwa Yesus yang menghembusi para murid mengingatkan kita tentang kisah penciptaan ketika TUHAN menghembusi manusia yang dibuatnya dari tanah dan menjadikannya hidup. Para murid yang dalam keadaan “mati” itu, dibangkitkan menjadi hidup dan berani menjadi saksi.

Demikian pula dengan peristiwa pentakosta yang tercatat di Kisah Para Rasul 2, semakin ditegaskan bahwa Roh Kudus yang tercurah menjadikan para murid semakin menjadi berani bersaksi. Bahkan Petrus yang penakut dan pernah menyangkali Yesus, kini menjadi murid yang berani bersaksi tentang siapa Kristus kepada orang-orang yang berkumpul di Yerusalem. Kesaksiannya berdampak yaitu 3000 orang menyerahkan diri untuk dibaptis dan lahirnya gereja perdana. Keberanian para murid sebab mereka tahu bahwa Kristus beserta mereka dalam penyertaan Roh Kudus.

Urapan Roh Kudus : memberi karunia yang memperlengkapi kita untuk bersaksi

Rasul Paulus menyebut rupa-rupa karunia yang diberikan dalam kuasa Roh Kudus bagi umat-Nya dalam 1 Korintus 12:4-8, setidaknya ada 9 manifestasi yaitu: berkata-kata dengan Hikmat, Pengetahuan, iman, penyembuhan, mukjizat, nubuat, membedakan roh (jahat-baik), berbahasa roh, menafsirkan bahasa roh. Sayangnya, kita sering melihat karunia Roh Kudus dengan cara pandang adikodrati, misalnya saja bahasa roh atau karunia penyembuhan; dan cenderung mengabaikan karunia yang tampaknya biasa. Padahal Alkitab kita mencatat bahwa karunia Roh bukan hanya 9 manifestasi yang dicatat oleh Paulus saja tetapi juga terwujud dalam pekerjaan yang kita anggap biasa.

Kel 31:1-5 mencatat bahwa Bezaleel menjadi tokoh pertama yang mendapatkan karunia kepenuhan Roh Tuhan. Roh itu membuatnya mampu melakukan pekerjaan pertukangan (mengasah batu emas dan mengukir kayu). Ini menunjukkan bahwa karunia Roh menyertai setiap orang percaya, termasuk yang melakukan pekerjaan yang kita anggap biasa. Karena itu jangan anggap remeh para pelayan penerima tamu, pembuat slide show untuk menunjang ibadah, para petugas soundman yang mengatur pengeras suara, para perangkai bunga, dan lain sebagainya. Maka ketika kita memandang dan menyadari bahwa kemampuan kita diberikan dengan kuasa Roh Kudus, maka kerjakanlah sebagai wujud kesaksian kita. Saya akan mengakhiri dengan sebuah kisah manis berikut ini. Seorang anak 12 tahun ingin sekali terlibat dalam pelayanan di gereja. Namun, anak ini tidak punya bakat yang menonjol. Ia selalu gugup kalau harus tampil di muka umum. Ia juga tidak punya talenta untuk bermain alat musik atau bernyanyi. Anak ini memutuskan untuk menjadi orang “di belakang layar”. Ia menawarkan diri untuk membuat dan mengantar undangan setiap minggu ke rumah-rumah anggota jemaat. Anak ini melakukannya dengan tekun. Suatu ketika saat ia akan mengantar undangan ia merasa terlampau malas. Hari itu hujan, dan anak ini merasa bahwa tanpa diberi undangan pun orang pasti tetap datang ke gereja.

Namun, anak ini berpikir lagi, bukankah hanya pelayanan ini yang mampu ia kerjakan untuk melayani Tuhan. Kini, ia bangkit melawan rasa malasnya dan pergi mengantar undangan. Hujan semakin besar dan akhirnya tinggal satu rumah lagi. Rumah seorang Oma yang tinggal seorang diri. Ketika ia tiba, hujan semakin deras. Anak ini berdiri di muka pagar sibuk membunyikan bel dan mengetuk pagar. Lama tidak ada jawaban. Anak ini terus menunggu. Akhirnya, sang Oma keluar dengan dandanan semrawut. Anak ini menyerahkan undangan dan berkata, “Oma, ingat ya, Tuhan Yesus sayang sama Oma. Ditunggu hari Minggu di gereja, ya!”

Hari Minggu setelah kebaktian ada acara kebersamaan. Oma ini menawarkan diri untuk bercerita. “Beberapa hari yang lalu, saya merasa sangat putus asa. Saya sudah bosan tinggal di dunia. Suami saya sudah kembali kepada Tuhan. Teman-teman saya juga sudah tidak ada. Anak, cucu, menantu semua sibuk dengan urusan masing-masing. Saya sudah benar-benar bosan dan frustasi. Saya rasanya ingin minum obat tidur sebanyak-banyaknya dan berharap dapat tidur untuk selamanya. Tepat saat itu, bel rumah saya berbunyi. Saya keluar, saya mendapati Tuhan mengutus malaikat-Nya dan mengatakan kepada saya, “Oma, ingat ya, Tuhan Yesus sayang sama Oma!” Perkataan itu menghangatkan kekosongan jiwa saya. Mengapa saya lupa? Saya tidak pernah sendirian, Tuhan Yesus begitu mengasihi saya.”

Kita semua bisa menjadi saksi-Nya, mulailah dari perkataan dan tindakan sederhana dan baik. Dengan urapan Roh Kudus jadilah berani dan berikan apa yang terbaik. Selamat Pentakosta.