Photo by Dakota Corbin on Unsplash

Suatu hari anak saya yang berusia 2,5 tahun berkata kepada Asisten Rumah Tangga kami:

“Mbak, mamah tu sayang lho sama nyo-nyo ”

“O, iya to nyo?”

“Iyaa. Karena mamah beliin nyo2 popok, beliin roti, beliin susu ”

“Hahahaa, gitu ya nyo? ”

“Iya mbak, mamah baek lho mbak sama nyo-nyo, mamah sayang sama nyo-nyo ”.

Anak kecil memahami bahwa orangtuanya menyayangi melalui apa yang dia terima, apa yang dia rasakan, apa yang dia lihat. Kita orang dewasa pun pasti juga demikian. Kita bisa mengatakan seseorang menyayangi kita melalui apa yang kita terima, melalui apa yang kita rasakan, dan melalui apa yang kita lihat. Kasih itu memang sebuah kata sifat, namun tidak akan berarti apa-apa kalau tidak diubah menjadi sebuah kata kerja.

Rasul Yohanes dengan jelas mengatakan bahwa ada tanda (ciri-ciri = sesuatu yang bisa dilihat dan yang bisa dirasakan) dari anak-anak Allah (orang yang sudah bertobat), yaitu apabila kita mengasihi-Nya (1 Yoh 5 : 2). Apa tanda kita mengasihi-Nya? Yaitu apabila kita melakukan perintah-perintahNya (1 Yoh 5 : 3a). Dan apakah perintahNya? Supaya kita saling mengasihi (Yohanes 15:12).

Kita sudah “khatam” mengenai perintah untuk saling mengasihi ini, bahkan sudah paham sejak sekolah minggu. Nah yang perlu kita latih adalah keseharian dari tindakan kasih itu sendiri. Sama seperti perjalanan iman kita selama mengikut Kristus. Jangan sekadar menjadi wacana, perlu strategi untuk menghidupinya. Dimulai dari keluarga kita; buatlah target untuk hari itu setiap pagi. Tindakan kasih apa yang akan kita lakukan kepada suami/istri kita? Tindakan kasih apa yang akan kita perbuat kepada anak-anak kita? Kepada orangtua kita?

Misal :

  1. Saya akan bangun pagi dengan wajah ceria supaya suami semangat bekerja,
  2. Saya akan lebih mendengarkan cerita anak-anak dengan lebih antusias,
  3. Saya akan menabung khusus demi membelikan kado untuk istri,
  4. Saya akan belajar lebih sungguh-sungguh supaya nilai di semester ini lebih baik,
  5. Saya akan lebih banyak memeluk suami/istri,
  6. Dan sebagainya

Lalu kemudian diperluas kepada orang-orang di sekitar kita. Tindakan kasih apa yang akan kita perbuat kepada rekan sekerja kita? Tindakan kasih apa yang akan kita perbuat kepada tetangga kita? Kepada murid-murid kita? Kepada guru kita? Kepada Hamba Tuhan kita? Kepada atasan kita? Kepada pegawai kita? Selamat Mengasihi. Karena perintah-Nya itu tidak berat (1 Yoh 5 : 3b). (NN)